HomeWawancaraPerdamaian Itu Dinamis

Perdamaian Itu Dinamis

Kemajemukan di masyarakat jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi benih konflik kekerasan. Artinya, perwujudan perdamaian di Indonesia belum selesai tapi harus terus diupayakan. Menurut Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Fajar Riza Ul Haq, dalam upaya membangun iklim perdamaian di Indonesia masih didapati tantangan dan hambatan. Selain itu, guna mensukseskan hal itu dibutuhkan kerja sama banyak pihak, tak terkecuali korban kekerasan. Untuk mengulas hal itu, redaksi SUARA PERDAMAIAN mewawancara Fajar, sapaan akrabnya, di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2015). Berikut petikannya.

Bagaimana kondisi perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini?

Dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah, kita lebih baik. Meski negara kita banyak konflik tapi kita bisa melaluinya dengan baik. Meskipun begitu tetap harus dibarengi sikap waspada karena di masyarakat ada potensi konflik yang bisa saja menimbulkan kekerasan. Dalam kehidupan sosial keagamaan dan kehidupan berbangsa, konflik-konflik lebih terkelola dengan baik. Perdamaian itu tidak statis tapi dinamis. Damai adalah proses yang bergerak di mana kita mampu mengelola potensi-potensi konflik secara lebih baik, sehingga konflik ditransformasikan atau disublimasikan menjadi sikap positif.

Saat ini marak muncul fenomena hate speech (ujaran kebencian) yang tidak terkontrol dan bukan tak mungkin menyulut konflik. Bagaimana Anda melihat hal itu?

Fenomena hate speech bukan hanya ada di Indonesia tapi juga di negara- negara lain. Hate speech tumbuh subur melalui teknologi komunikasi. Dulu hate speech dilakukan di pengajian atau mimbar keagamaan tapi sekarang diekspresikan melalui media sosial sehingga exposure-nya lebih cepat dan luas. Karena itu, kelompok toleran atau moderat harus lebih agresif dalam membendung mereka dengan counter yang positif. Jika kelompok kontraperdamaian melakukan satu langkah maka kelompok properdamaian harus dua hingga tiga langkah lebih maju. Sebab, eskalasi destruktif dari kelompok intoleran luar biasa. Kita harus bisa merebut suara anak muda. Saat ini sedang terjadi perebutan identitas di ruang publik.

Apa yang harus dilakukan untuk melindungi anak muda dari pengaruh kelompok kekerasan?

MAARIF Institute menggunakan dua pendekatan yaitu formal dan tidak formal. Pendekatan formal melalui lembaga pendidikan seperti program generasi toleran dan antikekerasan bagi anak-anak SMA di sejumlah daerah. Pendekatan tidak formal yaitu melakukan pendampingan terhadap para aktivis di kalangan siswa (seperti, aktivis Rohis) dan menyusun modul yang bersifat counter narrative. Ada juga Jambore Pelajar Muslim yang diikuti ratusan siswa SMA se-Jawa. Selain itu, ada pelatihan jurnalistik bagi aktivis Rohis untuk membekali kemampuan menulis dalam berjihad dengan pena. Kami juga meluncurkan MAARIF Fellowship bagi fresh graduate atau mahasiswa semester akhir untuk mengembangkan pemikiran yang terbuka di kalangan anak muda. Kita juga gunakan media populer, seperti, membuat film Mata Tertutup.

Kita ingin mengantisipasi anak muda yang mendukung aksi kekerasan secara pasif. Masyarakat toleran itu ada yang aktif dan pasif. Di kalangan anak muda gejalanya didominiasi yang toleran pasif. Orang yang toleran pasif jika ada faktor eksternal yang berpengaruh besar bisa bergeser ke intoleran. Potensi anak muda yang tidak toleran harus menjadi alarm bersama. Kita tidak boleh mengaggap remeh munculnya pemikiran yang intoleran atau pengaruh ekstrem dari negara luar.

Menurut Anda, apakah penting melibatkan korban kekerasan dalam perjuangan membangun iklim perdamaian di Indonesia?

Efektif sekali apabila kita dalam upaya mengkampanyekan pentingnya perdamaian kepada masyarakat dengan melibatkan para korban. Kami pernah melakukannya ketika roadshow film Mata Tertutup. Kami mengundang beberapa korban dan mantan pelaku kekerasan untuk menyampaikan pesan dan kesannya tentang nilai yang terkandung dalam film itu, yaitu perdamaian itu sendiri. Pendekatan mereka tentang perdamaian mencapai level psikologis, karena mereka punya pengalaman pribadi tentang apa itu kekerasan. Sehingga pesan perdamaian bila disampaikan oleh para korban lebih powerful dan menyentuh audience. Namun, kita harus memahami di antara para korban ada yang trauma healing-nya belum selesai sehingga sebagian mereka belum bisa berbicara ke publik. Perlu adanya kerja sama pelbagai pihak untuk mendorong mereka agar berperan mewujudkan perdamaian.

Bagaimana kiat mendorong korban agar bersuara ke publik menjadi duta perdamaian?

Ada beberapa komunitas yang sudah mengorganisasi teman-teman korban. Kita harus bicara dengan mereka dan butuh pendekatan simpatik, jangan sampai mereka menganggap dikomersialisasi ketika diminta untuk bersuara mewujudkan Indonesia damai. Korban juga perlu dilibatkan secara langsung dalam penyusunan program-program agar tumbuh rasa memiliki atau kesadaran bahwa peran mereka untuk kampanye perdamaian itu sangat dibutuhkan.

Apa yang harus dilakukan untuk pembangunan perdamaian di Indonesia?

Semua pihak harus terlibat, berpartisipasi, merasa memiliki dan merasa punya tanggung jawab demi suksesnya program pembangunan perdamaian. Pemerintah harus lebih komunikatif terhadap pelbagai pihak yang terlibat dalam mewujudkan perdamaian. Selama ini terkesan pemerintah tidak mau banyak mendengar masukan dari elemen masyarakat sehingga sinerginya kurang. Selain itu, seperti yang sudah saya sampaikan bahwa masyarakat dan seluruh pihak yang mendukung toleransi harus lebih agresif menyuarakan pesan perdamaian. Jangan sampai ruang publik dikuasai atau dimonopoli oleh kelompok-kelompok intoleran. [MLM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...