HomeOpiniMenghargai Perbedaan, Bukan Memaksakan...

Menghargai Perbedaan, Bukan Memaksakan Persamaan

Ada asumsi salah kaprah di kalangan aktivis dialog lintas agama dan para penolaknya. Bagi yang pertama, perbincangan konstruktif hanya mungkin dilakukan di atas dasar kesamaan-kesamaan. Karena itu, mereka menekankan persamaan dalam berbagai agama dan menghindari perbedaan-perbedaan.

Para penolak inisiatif dialog menuduh kalangan aktivis menyamakan agama-agama. Kesalahpahaman ini bahkan menjangkiti lembaga yang berisikan tokoh-tokoh agama. Misalnya, dalam fatwa yang menolak paham pluralisme agama, jelas-jelas mereka memahami pluralisme sebagai sebuah gagasan yang menyamakan semua agama. Padahal, arti dasar kata “pluralisme” sendiri mengandaikan keragaman dan perbedaan.

Barangkali kalangan aktivis juga turut berkontribusi terhadap kesalahpahaman itu. Sebab, mereka kerap memaksakan kesamaan-kesamaan, bukan membangun pemahaman memadai tentang perbedaan fundamental antarberbagai tradisi keagamaan.

Tentu saja menemukan kesamaan-kesamaan itu penting. Namun, dalam banyak kasus, persamaan itu hanya ada di level permukaan. Semakin dalam diselami, yang kita temukan justru perbedaan yang subtil. Kalangan aktivis dialog antaragama sering kali gagal memahami perbedaan substansif tersebut.

Dialog dan Perbedaan

Sebagai titik berangkat, misalnya, dalam dialog Muslim-Kristen, mereka menelusuri kesamaan asal-usul pada figur Ibrahim. Karena itu, lahirlah istilah “agama-agama Ibrahim” sebagai sebutan bagi Yahudi, Kristen, dan Islam.  Mereka tidak menyadari bahwa figur Ibrahim digambarkan begitu berbeda oleh ketiga agama tersebut. Tidak berlebihan jika dikatakan, Yahudi, Kristen, dan Islam seolah tidak berbicara figur yang sama. Lebih dari itu, masing-masing mengklaim Ibrahim bagi dirinya sendiri, dan mengeksklusi yang lain.

Demikian juga dengan figur-figur lain, seperti Isa atau Yesus. Saya sering kali mendengar orang-orang mengatakan bahwa baik Kristen maupun Islam sama-sama menempatkan Isa/Yesus sebagai figur yang agung. Namun, semakin saya mendalami Isa-nya Al Quran dan Yesus-nya Perjanjian Baru, semakin saya tidak yakin kedua Kitab Suci itu berbicara figur yang sama.

Perbedaan narasi keduanya terlalu subtil untuk dikatakan bahwa Isa-nya Al Quran adalah Yesus-nya Perjanjian Baru. Kitab Suci kaum Muslim memang menempatkan Isa sebagai salah satu nabi yang agung, dan mengakui berbagai mukjizat yang sangat khas. Misalnya, kelahirannya yang bersifat luar biasa karena tanpa bapak. Namun, Perjanjian Baru melihat Yesus lebih dari sekadar nabi. Dia adalah inkarnasi Tuhan, logos yang bersifat azali. Kelahiran dan kematian Yesus dimaknai secara redemtif untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat manusia.

Islam tidak mengenal gagasan redemsi, penebusan dosa, atau ide tentang inkarnasi Ilahi. Kenabian juga tak bersifat mesianik. Nabi Muhammad bukanlah seorang penebus dosa karena Islam tidak mengakui “dosa keturunan”, seperti diimani Kristen.

Perbedaan-perbedaan tersebut begitu mendasar sehingga mendorong Mona Siddiqui dalam bukunya, Christians, Muslims and Jesus (2013), menolak untuk membanding-bandingkan. “At some level,” kata guru besar studi Islam dan Lintas Agama di Universitas Edinburgh itu.

Siddiqui mungkin berlebihan menyebut setiap upaya membandingkan berbagai ajaran dalam Kristen dan Islam itu pasti salah. Dalam ulasan atas buku itu yang diminta oleh Syndicate Theology, saya katakan bahwa persoalannya bukan apakah perbandingan itu absah dilakukan atau tidak, tetapi untuk apa dilakukan. Sebab, studi perbandingan bukan hanya dimaksudkan menemukan persamaan, melainkan juga mengidentifikasi perbedaan.

Hemat saya, dialog antaragama sejatinya diarahkan untuk memberikan pemahaman tentang perbedaan-perbedaan tersebut. Sering kali kita memusuhi hal-hal yang kita tidak ketahui dan pahami. Minimnya pemahaman tentang ajaran inti agama lain kerap menjadi kendala untuk menjalin hubungan saling pengertian antarkomunitas keagamaan yang beragam.

Koeksistensi

Sebagai masyarakat plural, Indonesia menghadapi masalah serius dalam mewujudkan koeksistensi harmonis. Seperti halnya di belahan dunia lain, masyarakat Indonesia dipastikan makin heterogen. Dunia memang tak pernah homogen. Namun, akibat perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi, tingkat migrasi dan mobilitas manusia makin tinggi menyebabkan keragaman lebih dekat dengan kita.

Yang sangat dibutuhkan ialah bagaimana agar berbagai komunitas agama yang berbeda lebih informed bukan hanya tentang hal-hal praktis terkait kehidupan kelompok lain, tetapi juga apa yang mereka pikirkan dan yakini terkait urusan agama, sosial, dan politik. Terutama dalam urusan agama, jangan sampai mereka disuguhi persamaan-persamaan semu yang tidak dapat dijadikan basis penerimaan “yang lain.”

Tentu saja masalah koeksistensi juga menyentuh persoalan-persoalan yang secara langsung terkait ajaran teologis masing-masing agama. Sebagian kalangan menganggap persoalan teologis kendala dan hambatan bagi koeksistensi pluralis dan karena itu harus dihindari dari perbincangan lintas agama. Mereka memilih lebih menekankan aspek- aspek lain, seperti soal ketakadilan dan kemiskinan yang jadi keprihatinan bersama.  Jika pun masalah teologi masuk agenda, mereka hanya memfokuskan pada persamaan-persamaan sebagai bahan pertukaran pemikiran. Nilai-nilai bersama itulah yang diyakini akan menyatukan beragam komunitas agama.

Seperti telah ditunjukkan di atas, persamaan-persamaan tersebut sebenarnya bersifat kamuflase di permukaan saja. Pada level nilai-nilai dan standar umum, kita akan temukan kesamaan signifikan. Namun, pada level yang lebih dalam, baik dalam aspek teologi maupun praktis, perbedaan keyakinan menjadi tak terelakkan. Karena itu, untuk menumbuhkan sikap respek sejati atas keyakinan keagamaan yang lain, perlu pemahaman tentang keunikan dan perbedaan esensial konten agama lain.

Dari beberapa contoh yang disebutkan di atas kiranya jelas betapa pada level yang lebih dalam terdapat perbedaan asasi. Agar inisiatif dialog berhasil menata basis kuat bagi koeksistensi harmonis dalam jangka panjang, penerimaan terhadap perbedaan tersebut jadi persyaratan mutlak. Memberikan pemahaman tentang perbedaan teologis memang bukan perkara mudah. Diperlukan pendekatan kreatif untuk menjadikan isu rumit itu sebagai katalis perbincangan yang menyejukkan dan mendamaikan.

Dengan cara itu pula kalangan aktivis dialog lintas agama dan para pengkritiknya dapat duduk bersama untuk saling memahami perbedaan mereka.

Sumber: Kompas Cetak halaman 7 edisi 4 Mei 2016

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...