HomeBeritaKorban Terorisme, dari Trauma...

Korban Terorisme, dari Trauma Psikis hingga Gagal Menikah

Jakarta, NU Online
Rasa sakit dari luka fisik bisa hilang, rasa sakit dari luka batin terasa selamanya. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan keadaan para korban aksi terorisme. Apalagi luka fisik dapat dilihat, memberitahu orang lain tingkat keparahannya. Sedangkan luka batin atau trauma, hanya korban sendiri yang paling mengetahui dan merasakannya.

Seperti penuturan Nanda Olivia, salah satu korban Bom Kuningan 2004 dalam perbincangan dengan NU Online, sesaat setelah acara Short Course “Penguatan Perspektif  Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Hotel Ibis Budget, Menteng Jakarta Pusat, Kamis (26/5) siang.

Nanda mengatakan, setiap korban memiliki tingkat trauma yang berbeda-beda. Ada satu orang yang setelah kejadian hanya mengurung diri di kamar, ada yang bersikap biasa-biasa saja, seperti tidak mengalami kejadian berat.

“Trauma itu baru ketahuan pada saat acara semacam ini (obrolan dengan media atau di depan publik). Saya salah satunya, saya merasa nggak ada masalah setelah sembuh secara fisik. Barulah pada saat sharing dan bertemu mantan pelaku, ketahuan aslinya,” tutur Nanda.

Pada sesi sharing pun, ada korban yang diam saja, disuruh berbagi pengalaman tidak mau. Padahal di dalam hati mereka tampak seperti ada sesuatu yang masih membebani.

Menurut Nanda, jenis kelamin korban juga mempengaruhi sikap keterbukaan. Korban berjenis kelamin pria rata-rata lebih bisa mengatur emosi mereka. Sementara wanita sering dan mudah terbawa perasaan. Misalnya masih ada emosi kemarahan dan kesedihan setiap mendengar atau mengungkapkan cerita mereka.

Nanda berpendapat, bagi mereka yang lebih sering berbagi cerita, keadaan cenderung menjadi lebih baik. Dengan bercerita, secara tidak langsung sudah menerapi diri sendiri.

Korban lainnya yang merasa menjadi lebih baik dengan berbagi pengalaman adalah Wahyu Srirejeki dan Vivi Normarini. Wahyu yang juga korban Bom Kuningan 2004, kini berpembawaan lebih ceria. Wahyu bahkan sedang menyiapkan meneruskan studi S2.

Ada pun Vivi Normasari yang sempat kehilangan rasa percaya diri karena menjadi korban terorisme, bahkan batal menikah dengan kekasihnya yang hubungan mereka sudah terjalin selama 11 tahun dan melewati penantian yang panjang, kini  menyadari bahwa itu bukan jodohnya.

Vivi sebelumya merasa seakan-akan Tuhan tidak adil. Tetapi akhirnya Vivi sadar bahwa ia harus menatap ke depan. Bagi Vivi, yang utama sekarang adalah berdamai dengan diri sendiri

Persoalannya, dalam forum-forum diskusi atau wawancara, korban yang diminta untuk berbagi cerita biasanya itu-itu saja. Itu sebabnya para korban terorisme membutuhkan perhatian banyak pihak, termasuk media massa.

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/68581. Berita ini ditulis oleh Kendi Setiawan/Mahbib.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...