HomeOpiniRamadhan dan Pesan Damai...

Ramadhan dan Pesan Damai Islam

RAMADHAN memiliki arti yang amat mendalam bagi umat Islam. Bulan yang penuh berkah ini bisa menjadi momentum bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, untuk meningkatkan sikap bertoleransi dan membenihkan pesan-pesan perdamaian Islam. Lebih-lebih terkait beberapa peristiwa terorisme dan aksi kekerasan atasnama agama yang terjadi akhir-akhir ini.

Tak satu agama pun yang mengajarkan kekerasan. Islam, Kristen, Yahudi, Budha, dan Hindu senantiasa menunjukkan kepada masing-masing umatnya jalan kebenaran dan perdamaian. Akan tetapi, dalam banyak kasus, mengapa agama acap kali dijadikan alat justifikasi terhadap berbagai tindak kekerasan.

Kemunculan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan aksi penembakan yang terjadi di Orlando, Florida, Amerika Serikat (AS) oleh Omar Mateen, yang menewaskan 50 orang dan 53 jiwa mengalami kritis, adalah fakta yang tak bisa dibantah bahwa agama menjadi tameng untuk menghilangkan nyawa manusia. Meski belum ada kaitan yang jelas, lagi-lagi ISIS mengklaim bertanggung jawab atas penembakan secara brutal tersebut.

Sejujurnya ulah sejumlah pihak yang menempatkan agama sebagai alat untuk melakukan kekerasan bukan hanya terjadi di AS, Irak, Suriah, Prancis, dan sejumlah negara di Eropa lainnya. Dalam beberapa kasus, sesungguhnya Indonesia mengalami peristiwa yang sama. Misalnya, masih ingatkah kita bagaimana kengerian konflik antar umat beragama yang terjadi pada 13 Oktober 2015.

Saat itu massa yang berjumlah ratusan orang membakar Gereja Huria Kristen Indonesia (GHKI) di Desa Sukamakmur, Singkil, Aceh. Bentrok antar warga tak terhindarkan, sehingga mengakibatkan puluhan korban berjatuhan.

Tiga tahun silam terjadi penyerangan terhadap jamaah Syi’ah di Sampang, Madura, dan kelompok Ahmadiyah di Cikeusik, Banten. Catatan buram intolernasi dan konflik berbasiskan agama di Indonesia tidak pernah benar-benar bisa dihapus. Kehidupan umat beragama terus dikoyak oleh pihak tidak bertanggung jawab. Publik dihantui tingkah pola masyarakat yang menamakan dirinya sebagai “Para Pembela Tuhan”.

Pesan Nirkekerasan Islam

Terlepas dari maraknya aksi anarkis berlatar belakang agama, baik yang terjadi di masa lalu maupun akhir-akhir ini, sesungguhnya doktrin agama tak pernah mengajarkan kekerasan. Islam senantiasa membimbing umatnya ke jalan yang penuh rahmat dan perdamaian. Dalam kehidupan sehari-hari sikap saling menghormati antarumat beragama sangat ditekankan.

Mohammad Abu Nimer dalam tulisannya bertajuk Conflict Resolution Approaches: Western and Middle Lessons and Possibilities (American Journals of Economics and Sociology; 1996) menuliskan, Islam sebagai agama dan tradisi penuh dengan ajaran dan berbagai kemungkinan penerapan resolusi konflik yang damai. Hal ini patut menjadi sumber berharga bagi nilai, keyakinan, dan strategi nirkekerasan.

Kenyataan itu setidaknya bisa dibuktikan dengan tiga alasan mendasar.Pertama, Islam yang berarti kepatuhan diri (submission). Kedua, salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma al-husna adalah Yang Maha Damai (al-Salam). Ketiga, perdamaian dan kasih sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia agar senantiasa menyebarkan kehidupan yang damai.

Selain itu, al-Qur’an juga dengan jelas menunjukkan kepada umat Muslim tentang pesan-pesan perdamaian dalam Islam, misalnya pada sejumlah kata berikut: ar-Rahman (pengasih), ar-Rahim (penyayang), al-Adl (keadilan), as-Salaam (keselamatan), as-Sulkh (perdamaian), al-Hikmat (kebijaksanaan), al-Hasan (kebaikan), dan al-Amru bi al-Ma’ruf wa an-Nahyu ‘an al-Munkar (memerintah kebaikan dan mencegah kemunkaran). Bahkan, pesan-pesan perdamaian itu tidak hanya satu atau dua kali saja disebut dalam al-Qur’an, melainkan berkali-kali.

Sementara ungkapan Qital/Harb (perang)–bukan jihad–dalam al-Qur’an hanya disebut sebanyak 40 kali. Itu pun hanya menunjukkan pengertian yang digunakan pada saat mempertahankan diri saja, selain itu tidak. Penelaaan terhadap tradisi kenabian (hadist), begitu juga teks-teks al-Qur’an menjadi sangat penting untuk lebih dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai sosial yang berkembang.

Maka, sudah jelas jika beberapa kasus kekerasan yang bersentimen agama di berbagai belahan dunia, ataupun di Indonesia, dewasa ini sangatlah bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Dengan demikian, maraknya aksi anarkis bernuansa agama yang terjadi selama ini lebih disebabkan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang keliru, atau sengaja dipakai untuk kepentingan politik tertentu.

Bagi masyarakat Islam, pesan damai tidak hanya dapat dirujuk melalui al-Qur’an dan Hadis. Sejarah dan budaya masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad pun menceritakan kepada umatnya bagaimana upaya bina damai (peace building) dapat diciptakan. Nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiaan, dan penghormatan sangat ditekankan dalam hidup berdampingan, meski berbeda suku, ras, dan kelompok.

Pesan damai yang disampaikan secara tersirat dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa hidup ini akan sejahtera, tentram, dan damai jika dipenuhi dengan sikap yang toleran, penuh kasih sayang, keadilan, dan kebaikan. Sebaliknya, jika kehidupan ini selalu diwarnai dengan kecurigaan, sikap ingin menguasai, dan permusuhan, ketidaknyamanan akan terus menghantui.

Momen Ramadhan adalah ritual tahunan bagi umat Islam untuk meningkatkan kadar ketakwaan dan keimanan. Sebab itu, mendakwahkan pentingnya pesan damai yang terkandung dalam ajaran Islam menjadi sangat urgen. Terlebih hal ini dalam rangka menderadikalisasi pola pikir masyarakat yang semakin disesaki dengan doktrin-doktrin yang beraras pada ekstrimitas keagamaan yang tengah marak.[TS]

Sumber: http://geotimes.co.id/ramadhan-dan-pesan-damai-islam/

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...