HomeOpiniMemaafkan Itu Sehat

Memaafkan Itu Sehat

Agama selalu memberi pujian kepada orang yang saling memaafkan. Jika berbuat salah jangan segan-segan mengakui kesalahannya serta meminta maaf dan pihak yang dimintai jangan pelit untuk memaafkan.
Semuanya hendaknya dilakukan dengan tulus. Bahkan sekalipun terhadap musuh, memaafkan itu tindakan yang terpuji. Namun ihwal maaf-memaafkan ini pada praktiknya tidak semudah membicarakannya. Baik meminta maupun memberi maaf itu berat. Jika itu terjadi antarnegara, praktiknya semakin berat karena ada unsur gengsi dan harga diri sebuah negara.
Kebenaran ajaran agama tentang maaf-memaafkan ini tidak sulit dibuktikan secara empiris dengan bantuan ilmu jiwa. Orang yang hatinya dipenuhi rasa marah, dendam, dan kecewa kepada orang lain pasti terasa berat membawanya. Bayangkan, orang membawa beban fisik saja meskipun ringan jika terus-menerus dibawa pasti akan letih, capai. Lama-lama akan terasa semakin berat.
Begitu juga halnya orang yang menyimpan kejengkelan dan kebencian di hati, lama-lama akan semakin terasa berat jika tidak dilepaskan. Ada orang yang melepaskan kebencian dengan cara menumpahkannya kepada orang yang dibenci. Apa yang terjadi? Bisa jadi akan lepas sementara, tapi setelahnya justru akan membesar jika terjadi perlawanan balik.
Perhatikan saja, sering terjadi perkelahian fisik yang bermula dari adu mulut. Akibatnya luka di hati kian menganga. Makanya cara terbaik mengurangi beban yang menjadi penyakit hati adalah saling memaafkan. Ketika orang memaafkan dengan tulus, yang pertama diuntungkan adalah pihak yang memaafkan karena dengan begitu dia telah menaruh dan membuang beban di hatinya.
Ada sebuah eksperimentasi yang dilakukan seorang guru kepada murid-muridnya. Mereka disuruh membawa kentang masing-masing lima biji. Lalu anak-anak diminta menuliskan nama lima orang yang mereka benci. Setelah itu dimasukkan di kantong plastik dan dibiarkan terbuka, tidak boleh diikat rapat.
Kantong berisi kentang itu mesti dibawa ke mana pun mereka berada, bahkan juga ketika mau tidur agar diletakkan di sampingnya atau ke kamar kecil, selama seminggu. Sebelum hari kelima, anak-anak mulai mencium bau kentang busuk. Muncul rasa risi. Mereka menanti tibanya hari pembebasan, hari ketujuh.
Tiba harinya anak-anak pergi ke sekolah dengan semangat karena sudah tak tahan lagi dengan bau busuk itu. Lalu bu guru menyuruh membuang kentang busuk itu. Namun sebelumnya bu guru bertanya kepada murid-muridnya, “Bagaimana pengalamanmu dengan kentang-kentang yang kamu bawa itu?” Murid menjawab, “Bau Bu, kami tidak tahan. Seminggu serasa lama sekali ke mana-mana diikuti bau busuk.”
Bu guru pun meneruskan nasihatnya. Begitulah contoh nyata yang sudah mereka rasakan dan alami sendiri bahwa jika anak-anak itu menyimpan hati busuk berupa kebencian, iri, dan dengki, mereka sendiri yang akan tersiksa dan merugi. Tapi begitu kentang busuk itu dibuang, legalah hati anak-anak semua.
Merasa terbebaskan dari penderitaan bau busuk. Begitu juga halnya jika anak-anak menjaga hatinya selalu bersih, saling memaafkan, pasti hati serasa lapang dan hidup nyaman dijalani. Demikianlah, di balik perintah agama agar kita saling menolong dan maaf-memaafkan, secara empiris ternyata kebaikannya kembali kepada manusia.

Allah tidak mengambil keuntungan dari kebaikan hamba- Nya, tidak juga dirugikan atas kejahatan hamba-Nya. Allah tetap Maha Agung, terlepas manusia akan menyembah- Nya ataukah tidak. Allah tetap Maha Kaya dan mandiri, apakah hamba-Nya mau bersyukur atau mengingkari anugerah rezeki- Nya. Maaf-memaafkan ini tidak saja ketika datang hari Lebaran, tetapi jika ingin hidup sehat, setiap saat sebaiknya hal itu kita lakukan jika kita merasa terjadi gesekan dengan keluarga atau teman. [TS]

 

Sumber: KORAN SINDO, edisi 01 Juli 2016

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...