HomeWawancaraMasyarakat Sumber Kekuatan Pembangunan...

Masyarakat Sumber Kekuatan Pembangunan Perdamaian

Masyarakat Sumber Kekuatan Pembangunan Perdamaian

Berbagai konflik komunal sering dilihat bisa terselesaikan dengan kebijakan rekonsiliasi dari pemerintah. Di balik semua itu, masyarakat akar rumput sebenarnya memiliki kearifan lokal yang efektif untuk menumbuhkan rekonsiliasi dan perdamaian. Pegiat perdamaian asal Poso, Nerlian Gogali, berpandangan peran masyarakat sipil mengupayakan rekonsiliasi bisa membuat pembangunan perdamaian lebih berkelanjutan. Dalam sebuah kesempatan di Ambon, Maluku, 27 Agustus 2016, redaksi Suara Perdamaian mewawancara Lian, sapaan akrab Nerlian Gogali, untuk membicarakan hal itu. Berikut petikannya.

Bagaimana Ibu memandang kondisi iklim perdamaian di Indonesia?

Setiap periode tantangan perdamaiannya berubah. Di era rezim Orde Baru iklim perdamaian berkaitan dengan isu penegakan hak asasi manusia. Era Reformasi, iklim perdamaian kita berhadapan dengan banyaknya konflik komunal. Tahun 2002 sampai sekarang, perdamaian bersinggungan dengan isu radikalisme dan terorisme. Karena iklimnya berbeda, upaya-upaya membangun perdamaian di Indonesia juga bergerak, tidak stagnan. Pada era rezim Orde Baru upaya yang dilakukan adalah bagaimana masyarakat mendapatkan jaminan atas hak asasinya, seperti hak untuk bersuara, berserikat, berkumpul. Pada 1998 konteksnya adalah konflik komunal, maka upaya perdamaian yang dilakukan adalah menjembatani interaksi dan komunikasi antarkomunitas, dalam beberapa kasus, antaragama. Sekarang, upaya pembangunan perdamaian yang dilakukan adalah pemulihan masyarakat dari trauma konflik dikaitkan dengan strategi pencegahan radikalisme dan terorisme. Yang menarik adalah proses-proses pembangunan perdamaian sebelum era Reformasi hanya didominasi oleh kalangan akademisi. Setelah Reformasi kita belajar masyarakat umum ternyata juga berperan membangun perdamaian. Ada guru, nelayan, petani, karyawan swasta, dan elemen masyarakat lainnya. Ini menunjukkan semua elemen di negara ini peduli dan berupaya melestarikan perdamaian dengan cara berbeda-beda sesuai kemampuan. Jadi sederhananya orang Indonesia tidak diam berpangku tangan untuk membangun perdamaian.

Ibu dikenal di Indonesia, khususnya di Poso, Sulawesi Tengah, sebagai pegiat perdamaian. Apa yang Ibu lakukan untuk membangun perdamian?

Saya sangat percaya bahwa pendidikan itu alat yang paling ampuh untuk membuat perubahan, termasuk mengubah konflik menjadi situasi yang lebih damai dan adil. Kita tahu di Poso ada dua komunitas umat beragama yang di masa lalu pernah terlibat konflik horizontal. Dari itu kami membuat sekolah perempuan. Kami berpikir pendidikan dan perempuan itu dua faktor yang sangat mendasar untuk menumbuhkan perdamaian di tengah masyarakat yang berkonflik. Perempuan itu rata-rata tidak ikut berkonflik tapi bisa terimbas atau terbawa-bawa arus konflik. Sekolah itu menjadi tempat alternatif bagi para perempuan tanpa memandang latar belakang agama, untuk belajar saling memahami, mengurai prasangka, curiga atau dendam. Setelah perempuan saling mengerti, perekonomian di Poso bisa pulih. Pasar menjadi hidup lagi, kebutuhan masyarakat terpenuhi. Dapur di rumah bisa kembali mengepul, anak-anak kembali sekolah, para suami bisa tetap makan. Sebenarnya sekolah perempuan yang kami gagas juga bentuk kritik kami kepada para laki-laki yang dengan naluri maskulinitas sepertinya mudah meletupkan konflik. Para perempuan di Poso menunjukkan kita bisa hidup berdampingan dengan rukun, damai dan bekerja sama membuat masyarakat menjadi maju walaupun kita berbeda keyakinan. Pada intinya dengan sekolah perempuan itu kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat bisa menjadi kekuatan pembangunan perdamaian yang berkelanjutan. Dalam menghadapi konflik jangan kita terpaku pasif menunggu pemerintah mengupayakan perdamaian, justru masyarakat itu yang sejak awal harus berperan mewujudkan rekonsiliasi dan perdamaian, termasuk perempuan.

Berbagai kelompok prokekerasan, termasuk kelompok terorisme bermunculan baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bagaimana Ibu memandang tantangan pembangunan perdamian di masa depan?

Beberapa tahun lalu kita dikejutkan dengan kemunculan kelompok ISIS dengan berbagai aksi terornya. Mereka sangat cerdas menggunakan media sosial untuk kepentingan teror. Dari media sosial mereka bisa meyakinkan orang dari seluruh dunia untuk mendukung perang di Irak dan Suriah atau bahkan melakukan aksi-aksi teror di mana saja. Dari fakta itu saya melihat banyak yang harus diperbaiki dari kinerja kita membangun perdamaian. Menurut saya kita masih sangat lemah memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung kerja-kerja pembangunan perdamaian. Kita harus lebih kreatif dan produktif mengintegrasikan ide-ide kampanye perdamaian dengan kemajuan ilmu dan teknologi.

Apa saran Ibu agar pembangunan perdamaian di Indonesia berjalan lebih efektif?

Propaganda dari kelompok prokekerasan dengan basis apa pun, termasuk agama, menurut saya itu racun yang sangat merusak nilai luhur agama itu sendiri. Saya berpikir cara mengembalikan citra agama yang paling baik adalah dengan mengefektifkan narasi-narasi keagamaan untuk meng-counter propaganda yang merusak tadi. Selama ini narasi kita ketika terjadi aksi teror hanya sekadar “kami menolak” atau “kami mengutuk teror ini” dan semacamnya. Menurut saya itu tidak efektif, yang membaca paling hanya kita-kita saja. Saya melihat yang dilakukan AIDA cukup kreatif dan menarik dengan, misalnya, mengangkat narasi korban dan mantan pelaku. Dari langkah seperti itu orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari silent majority besar kemungkinan tumbuh empatinya kepada korban, dan kesadarannya meningkat untuk meng-counter paham-paham prokekerasan. [MLM](SWD)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...