HomeBeritaSilaturahmi Korban dan Tokoh...

Silaturahmi Korban dan Tokoh Agama untuk Perdamaian

“Saya pasrah saja, baik buruk saya kembalikan semuanya kepada Allah SWT. Saya tidak punya dendam kepada siapa pun. Saya hanya ingin menyampaikan kepada kelompok teroris, jangan lagi membuat teror karena aksi itu sangat bertentangan dengan agama kita.”
Demikian kata Didik Hariyono, korban teror bom di Hotel JW Marriott 5 Agustus 2003, saat berkisah dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Surabaya, Jumat (3/6/2016). Dalam kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Jawa Timur itu Didik serta dua rekannya sesama korban terorisme berbagi kisah kepada para mubalig.
Para peserta pelatihan tertegun mendengar penuturan korban.Bagi para gus, ning, kiai dan nyai pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur itu, kisah hidup Didik menyadarkan mereka tentang hakikat sabar dan tawakal. Mendengarkan kisah korban membuat mereka semakin bersemangat menebarkan dakwah yang santun dan menyejukkan.
Para peserta merasakan ketegaran hati korban dalam menerima cobaan sekaligus mampu berdamai dengan masa lalu dan menatap masa depan dengan penuh optimisme. Para tokoh agama menyimpan keingintahuan yang besar tentang rahasia korban terorisme mampu bangkit dari penderitaan yang luar biasa akibat ledakan bom.
Sedikit demi sedikit keingintahuan para peserta terjawab setelah mereka bersilaturahmi dengan tiga orang korban terorisme, Sumarwati (korban Bom Bali 2002); Didik Hariyono dan Atot Ruhendar (korban Bom JW Marriott 2003). Peserta pelatihan mengambil pelajaran dari kisah korban bahwa faktor keimanan menjadi kekuatan luar biasa yang mampu mengalahkan trauma masa lalu.
“Meskipun sakit akibat ledakan bom masih sering muncul di kepala, telinga dan dada tapi kata orang saya tidak bisa mendendam kepada orang lain. Meskipun saya korban Bom Bali tapi saya muslim. Dalam agama saya, tidak ada itu ajaran untuk membuat teror. Agama saya mengajarkan untuk hidup damai dengan semua makhluk,” kata Sumarwati saat menceritakan kisahnya.
Hal senada terungkap dalam penuturan kisah korban Bom JW Marriott, Atot Ruhendar. Saat kejadian, Atot merasakan ledakan keras disertai hempasan angin berapi mengguncang Restoran Syailendra di Hotel JW Marriott Jakarta di mana ia sedang menjamu rekan usahanya. Saat tak berdaya akibat luka bakar yang parah, Atot ditolong dan dibawa ke rumah sakit oleh seorang tak dikenal berpakaian serba putih. Hingga kini Atot belum mengetahui siapa sebenarnya sosok penolong misterius itu.
“Saya percaya kejadian yang menimpa saya, lalu ada orang berbaik hati mengantar ke rumah sakit, itu semua yang menggerakkan hanya Allah. Saat saya di ruang isolasi, badan saya dibalut perban hanya tinggal mata yang tampak, saya berpikir wah ini saya mati kali. Saya sama sekali tidak merasa akan hidup lagi. Lalu adik saya datang memotivasi untuk sabar karena semua ini digariskan Allah SWT. Dia bilang saya harus sehat lagi untuk menghidupi anak-anak saya,” ujarnya.
Hening menyelimuti suasana silaturahmi para tokoh agama dengan korban terorisme malam itu. Para gus dan kiai mengaku mendapatkan wawasan baru tentang kemuliaan ajaran agama dari pengalaman hidup korban terorisme. Salah satu peserta menyatakan komitmennya untuk semakin aktif menyampaikan ajaran Islam yang luhur dan menjadi rahmat semesta alam kepada masyarakat luas.
“Kami yang paling depan berhadapan dengan santri dan masyarakat juga semakin sadar bahwa masih ditemui kelompok-kelompok yang mengajarkan ekstremisme dan paham kekerasan di sekitar kita,” ungkap peserta dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Di samping kisah korban terorisme, dalam pelatihan yang berlangsung pada 3 s.d. 4 Juni 2016 itu para peserta juga menerima materi lain dari narasumber yang kompeten di bidangnya. Di antaranya adalah materi Menangkal Doktrin-doktrin Radikal oleh Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. KH. Abdul A’la. “Kelompok-kelompok ekstrem seakan-akan dengan mudah mempengaruhi orang menjadi teroris dengan iming-iming bidadari di surga, ini salah satu tantangan yang mesti diluruskan oleh umat Islam, khususnya para tokoh agama,” ungkapnya.
Peserta pelatihan juga mendapatkan pengayaan materi tentang Realitas Ekstremisme di Indonesia dari pengamat jaringan terorisme, Sofyan Sauri. Dalam pemaparannya, ia menjabarkan ideologi yang dianut kelompok-kelompok ekstrem sangat mereduksi ajaran Islam. “Mereka juga populer disebut kelompok jihadi-takfiri. Mereka mengartikan jihad dalam makna yang sempit, yaitu perang, dan setiap orang yang tidak sepaham dengan prinsip itu mereka sebut kafir,” kata dia.
Dalam kegiatan itu peserta juga mendapatkan pembelajaran dari rekonsiliasi korban dan mantan pelaku. Yang menjadi narasumber dalam sesi tersebut adalah korban Bom Bali 2002, Gatut Indro Suranto, dan mantan anggota kelompok kekerasan, Iswanto.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengharapkan dari silaturahmi korban terorisme dan tokoh agama dapat dirancang kegiatan tindak lanjut yang dapat meningkatkan efektivitas dakwah di masyarakat. “Dalam tradisi pesantren, kita diajarkan hakikat pemaafan dan pertaubatan.Kita menemukan implementasi dua nilai itu dari kisah hidup korban dan mantan pelaku. Kita mengetahui kekerasan bukan rekayasa, bukan konspirasi, melainkan kenyataan yang telah menyakiti saudara sendiri baik sebangsa, seagama maupun sesama manusia. Peran berbagai elemen bangsa sangat diperlukan untuk meminimalisir kekerasan lainnya sekaligus untuk mengupayakan perwujudan Indonesia yang lebih damai,” kata dia. (MLM)[SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi IX Juli 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....