HomeBeritaMeretas Silaturahmi Melepas Paham...

Meretas Silaturahmi Melepas Paham Benci

Sali, Fahrudin, dan Chatimul masih kukuh dengan pandangannya. Mereka emoh memberi hormat pada bendera Merah Putih dan enggan mengakui eksistensi Republik Indonesia apalagi dasar negaranya, Pancasila.
Ketiganya adalah narapidana terorisme yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Wirogunan, Yogyakarta. Sali bin Wasiyo, 59 tahun, tersangkut jaringan teroris Poso. Fahrudin bin Wa’Ali, 38, kerabat Ali Mahmudin tersangka peledakan bom Thamrin Jakarta yang saat ini diburu Densus 88. Chatimul Chaosan bin Muhammad Toyib alias Beni, 38, terlibat peledakan Glodok, Jakarta, 2013.
“Saat mereka kami sodori surat pernyataan mengakui NKRI dan Pancasila sebagai ideologi, mereka tidak mau,” kata Kepala Lapas Suherman, di Lapas Wirogunan, Yogyakarta, Selasa (19/9) lalu.
Padahal pihak lapas dan Kepolisian DI Yogyakarta telah menghilangkan sekat dengan napi dalam mengubah pandangan radikal dan setuju atas teror dalam dua kali seminggu di lapas Kota Yogyakarta itu. Misalnya pemberian fasilitas Al Quran dan ajakan salat bersama.
“Mereka cenderung tertutup bahkan ajakan salat berjemaah sering kali ditolak,” ujar Suherman.
Selain di lapas, pencegahan aksi teror juga berjalan di luar lapas terhadap mantan narapidana yang dalam pengawasan. “Kami selalu berharap dari program ini para napi terorisme sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah,” kata Kepala Sub Direktorat IV Keamanan Direktorat Intelijen Keamanan Polda DI Yogyakarta AKBP Sigit Haryadi saat itu.
Sejumlah upaya itu untuk mencegah aksi teror tak terulang kembali, terutama oleh mantan pelaku terorisme.  Upaya komprehensifnya, terutama penindakan di bagian hulu, sebenarnya melalui undang-undang. Namun hingga akhir September 2017 ini, aturan tersebut belum tuntas.
Padahal Wakil Ketua Panitia Khusus DPR untuk revisi UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Hanafi Rais mengatakan aturan itu rampung pada September atau Oktober 2017. Pada awal Juni 2017, ia mengatakan pembahasan revisi mencapai 60% karena beberapa pasal menjadi perdebatan dan belum mufakat.
“Jika melihat fakta, revisi UU Terorisme memang mendesak, mengingat sekarang terorisme bentuknya berubah-ubah dan saat ini ancaman terorisme begitu dekat dari Indonesia dengan keberadaannya di Marawi, Filipina,” kata politisi Partai Amanat Nasional daerah pemilihan DI Yogyakarta ini.
Dengan berlarut-larutnya UU ini, langkah persuasif pada mantan “teroris” menjadi harapan untuk menebar antivirus terorisme terutama di kalangan eks pelaku teror. Ikhtiar itu antara lain melalui silaturahmi antara pelaku aksi dan korban tindakan terorisme. Nagiyah dan Christian Salomo, misalnya, berbagi duka mereka menjadi korban aksi terorisme di depan hadirin termasuk Ali Fauzi, seorang mantan pelaku teror, di forum yang difasilitasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Solo, akhir tahun lalu.
Suami Nagiyah, 42 tahun, menjadi korban dalam ledakan bom di Hotel JW Marriott pada 2003. Sebagai sopir taksi, suami Nagiyah kerap mangkal di hotel yang dianggap oleh pelaku teror sebagai representasi Barat dan harus dihancurkan. Nahas, ketika bom meledak, suami Nagiyah tepat di depan hotel. Ia satu dari 12 korban tewas dalam peristiwa itu.
“Saya shock. Tiga anak kami waktu itu masih kecil,” kisahnya sambil menahan air mata.
Kehidupan Nagiyah dan tiga buah hatinya sempat limbung. Ibu rumah tangga itu pun menjadi tulang punggung keluarga. Nagiyah menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya dari berjualan dan sumbangan sejumlah pihak. Kendati 13 tahun berlalu, ia masih ingat respon saat mendengar suaminya tewas karena bom. “Mengapa suami saya yang menjadi korban?”
Kondisi tak kalah memprihatinkan menimpa Christian Salomo, 40 tahun. Korban selamat dari peledakan bom di Kedutaan Besar Australia di Jakarta 2004 itu harus membawa bom di tubuhnya. Dengan luka parah, ia harus melalui sejumlah operasi hingga perlu sekitar 600 jahitan.
“Beberapa pecahan bom seperti di belakang mata dan di paha dibiarkan (di dalam tubuh) karena kalau dioperasi bisa perdarahan dan malah membahayakan,” ujar dia dengan nada tegar.
Christian juga beberapa kali kolaps secara tiba-tiba. Setelah siuman, ia butuh waktu untuk kembali mengenali keluarganya. Kondisi ini membuat dia juga harus beberapa kali mundur dari pekerjaan sehingga kini ia berwirausaha.
“Yang paling sedih, saya sempat tidak tahu siapa anak yang menunggui saya di rumah sakit setelah bangun dari kolaps. Ternyata itu putri saya,” ujar Christian.
Ali Fauzi Manzi pun punya cerita. Ia adik terpidana mati kasus terorisme bom Bali 2002, Ali Imron dan Amrozi. Mantan kombatan dari Moro Islamic Liberal Front MILF (MILF), kelompok Islam ekstrim di Filipina, ini terlibat dalam sejumlah aksi teror di Indonesia hingga lari dan ditangkap di Filipina.
“Saat dijemput polisi Indonesia, saya berpikir sudah bakal habis,” kenangnya. “Tapi ternyata saya diperlakukan dengan baik bahkan disekolahkan.”
Sejak itu, lambat laun Ali bisa lepas dari lingkaran pergaulannya yang berpotensi bersentuhan dengan aksi terorisme. Ali kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi bahkan aktif mengampanyekan bahaya terorisme.
Dalam silaturahmi itu, korban dan (mantan) pelaku teror berdampingan, berjabat tangan, dan berbagi pengalaman. “Ajang ini menjadi kampanye perdamaian dan kemanusiaan,” kata Direktur AIDA Hasibulah Satrawi saat dihubungi, Sabtu (30/9).
“Kasus terorisme itu unik sehingga penanganannya bertahap, merangkul, dan humanis.”
Silaturahmi korban dan napi terorisme pun telah dijalin. Langkah yang sama melibatkan petugas lapas. Tahun lalu, 21 lapas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta berpartisipasi dan menunjukkan hasil positif.
“Petugas lapas bisa menjadi ujung tombak pencegahan terorisme, bukan sekadar juru buka pintu tahanan,” kata Hasibullah.
Duka para korbanâ€â€yang satu bangsa bahkan satu agama dengan para pelaku terorâ€â€bisa diantarkan ke lapas, menembus jeruji-jeruji bui yang dingin, hingga mengetuk hati para napi aksi terorisme hingga mengakui salah bahkan mengubah pandangan radikal mereka.
Upaya membuka diri, refleksi, dan silaturahmi bisa menjadi satu ikhtiar kecil namun penting dalam pencegahan aksi teror. Sebab, seperti kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius di Jakarta, awal tahun ini, “Tidak ada strategi tunggal karena kelompok teror selalu bergerak dinamis mengadaptasi perubahan lingkungan strategis, baik lokal, nasional, maupun global.”
Silaturahmi akan meretas maaf dan menemukan kembali makna kita sebagai bangsa pemaaf.  Di agama pun, dalam hal ini Islam, memohon dan memberi maaf juga menjadi ajaran penting dalam menghapus kesalahan dan mengangkat derajat manusia.
Dengan langkah ini, pelaku aksi teror seperti Sali, Fachrudin, dan Chatimul bisa menanggalkan paham benci dan teror, melangkah dengan pandangan dan kehidupan baru. Semoga.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...