HomeBeritaBerjejaring Membentuk Barisan Perdamaian

Berjejaring Membentuk Barisan Perdamaian

Pembina AIDA, Imam B. Prasodjo, saat menyampaikan materi kepada peserta Pelatihan Guru "Belajar Bersama Menjadi Guru Damai" di Bandung
Pembina AIDA, Imam B. Prasodjo, saat menyampaikan materi kepada peserta Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Bandung (28/1/2017).

 

Puluhan guru mengangkat tangan seraya melantangkan ikrar. Dengan penuh penghayatan mereka serentak berucap, “Hari ini kami berjanji kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk saling melakukan upaya watawasau bilhaq, watawasau bilsabr, untuk menebar kedamaian di negeri kami, kota kami, dan sekolah kami. Semoga kiranya Tuhan selalu melapangkan jalan dan memudahkan upaya ini.”

Ikrar tersebut terjadi dalam kegiatan Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Bandung, Jawa Barat, akhir Januari lalu. Pengucapan ikrar dipandu oleh Pembina AIDA, Imam B. Prasodjo.

Imam mengajak para guru dari lima sekolah, yaitu SMAN 1 Padalarang; SMAN 1 Ngamprah; SMAN 1 Baleendah; SMAN 1 Dayeuhkolot; dan SMAN 1 Katapang, untuk menjadi bagian dari barisan perdamaian. “Mari kita sama-sama berjejaring untuk menjadi barisan perdamaian. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini guru-guru bisa membentuk barisan perdamaian,” ujarnya.

Dalam pandangannya, seorang pendidik sangat penting menjadi barisan perdamaian karena saat ini fenomena kekerasan di kalangan pelajar sudah sangat memprihatinkan.

“Saya ingin menyaksikan guru-guru berani berada di tengah untuk mencegah anak-anak didiknya supaya tidak tawuran. Seperti yang dilakukan oleh guru-guru di Kota Tual, Maluku saat terjadi konflik horizontal, itu yang mencegah konflik dan menjadi aktivis perdamaian adalah para guru,” tuturnya.

Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu menegaskan, bila seorang pendidik tidak melakukan upaya pencegahan kekerasan di kalangan anak didiknya maka ia menjadi bagian dalam tindakan kriminal tersebut. Dia meyakini guru memiliki kewenangan untuk mencegah kekerasan di kalangan anak didik.

Kasi Pengembangan Bakat dan Prestasi Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud, Asep Sukmayadi, dalam Pelatihan mengatakan upaya pencegahan kekerasan di kalangan pelajar sudah tertuang dalam Permendikbud No. 82 Tahun 2015. “Permendikbud itu mengatur upaya penanggulangan dan sanksi tindak kekerasan hingga upaya pencegahan yang dilakukan oleh sekolah, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Salah satu upaya pencegahan tindak kekerasan yang bisa dilakukan pihak sekolah yaitu membentuk tim pencegahan kekerasan dari unsur guru, siswa dan orang tua,” ujarnya.

Dalam Pelatihan selama dua hari itu, peserta mendapatkan pembekalan untuk mengantisipasi peserta didik terjerembab paham ekstremisme yang disampaikan oleh pakar terorisme Universitas Indonesia, Solahudin. Menurut dia, salah satu langkah menyelamatkan anak didik dari kelompok ekstrem adalah dengan mengetahui paham dan perilakunya.

Solahudin menjelaskan, bila ada siswa yang berpemikiran bahwa pemerintah Indonesia adalah thaghut, pegawai negeri sipil adalah penolong thaghut, orang yang ikut pemilihan umum adalah kafir, dan semacamnya, dapat diindikasikan bahwa siswa tersebut telah terpapar ideologi kelompok ekstrem. Menurutnya, langkah yang bisa dilakukan oleh guru adalah mengajak siswa tersebut berdialog sembari mengupayakan counter-narasi dengan dalil-dalil keagamaan.

Pelatihan guru di Bandung juga menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri dari Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme) dan Tita Apriyantini (korban Bom JW Marriott 2003). Ali menceritakan pengalaman kelamnya ketika bergelut dalam jaringan terorisme hingga memutuskan untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, salah satu faktor yang membuat dirinya bertekad meninggalkan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban terorisme. “Awalnya, ketika saya mendengarkan kisah korban bom, saya menangis berjam-jam dan tak tahan membayangkan penderitaan yang dialami oleh mereka. Saya minta maaf kepada para korban atas tindakan kakak saya dan rekan-rekan saya,” ujarnya.

Sementara itu, Tita Apriyantini berkisah tentang pengalaman hidupnya terkena bom terorisme. Ia terkena ledakan bom ketika sedang menjalani latihan kerja di Restoran Syailendra Hotel JW Marriott Jakarta. Akibat ledakan, dia menderita luka bakar serius di bagian tangan. Setelah bertemu mantan pelaku, dengan fasilitasi AIDA, dia kini mengaku telah mengikhlaskan kejadian masa lalu dan tidak menyimpan dendam. “Saya dan mantan pelaku sudah saling memaafkan. Kita bersama-sama mengampanyekan pentingnya perdamaian kepada masyarakat,” tutur Tita.

Kisah mantan pelaku dan korban bom tersebut menginspirasi para guru untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai. “Saya mengapresiasi korban yang tidak dendam pada pelaku dan bisa saling memaafkan. Sebagai guru kita harus menyebarkan perdamaian kepada anak didik karena kedamaian dan kebersamaan adalah milik kita bersama,” kata seorang peserta.

“Merah darahku, putih tulangku, garuda di dadaku, damai Indonesiaku. Aku yakin hari ini kita pasti menang untuk melawan kekerasan. Kita sudah membuat barisan perdamaian, aku yakin kita menang,” ujar guru yang lain. [AS]

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA Suara Perdamaian edisi XII April 2017.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....