HomeBeritaRevisi UU Antiteror Harus...

Revisi UU Antiteror Harus Akomodasi Hak Korban

Dok. AIDA – Ramdhani, penyintas Bom Kuningan 2004, menyampaikan kisahnya dalam Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme di Jakarta (24/1/2018).

(JAKARTA) Aliansi Indonesia Damai (AIDA) sebagai salah satu organisasi kemanusiaan yang bergerak dalam upaya pemulihan korban aksi terorisme mendorong agar dalam revisi UU Antiterorisme juga memuat pasal-pasal terkait dengan pemenuhan hak-hak korban yang masih lemah dalam ketentuan yang ada selama ini. Khususnya hak kompensasi yang sampai hari ini belum pernah terimplementasikan secara sempurna.

“Kami tetap mendorong pemenuhan hak-hak korban terorisme yang diamanatkan dalam UU 15/2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan UU 31/2014 Tentang Perhndungan Saksi dan Korban.” kata Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, Kamis (25/1) di Jakarta.

AIDA mengusulkan agar pelaksanaan hak kompensasi dalam persoalan terorisme kedepannya tidak perlu menggunakan mekanisme putusan pengadilan. Melainkan melalui putusan lembaga negara yang terkait dengan persoalan terorisme.
“Sehingga para korban bisa mendapatkan hak kompensasi secara lebih mudah dan dalam waktu yang secepat-cepatnya,” ucapnya.

Dalam upaya memenuhi hak para korban terorisme juga diingatkan agar segenap lembaga negara yang berwenang dalam penanganan dan pemenuhan hak-hak korban dapat bersinergi dan bekerja sama secara baik. Dengan demikian upaya pemenuhan hak-hak korban bisa terlaksana secara baik.

“Kami juga mendorong revisi UU Antiterorisme agar juga memuat norma bahwa penanganan korban pada masa-masa kritis, para korban bisa langsung mendapatkan penanganan medis secara cepat dari rumah sakit terdekat tanpa menunggu adanya pihak yang menjamin biaya penanganan medis tersebut,” ucapnya.

Seperti diketahui, hampir sebagian besar korban tindak pidana korupsi banyak yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal, hingga kim masih banyak yang merasakan penderitaan berkepanjangan.

Ramdani, salah satu korban bom Duta Besar Australia, Kuningan pada 2004 lalu mengaku, hingga kini masih sering merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya karena masuknya pecahan kaca di bagian otak. Akibat kejadian bom Kuningan, dirinya juga kehilangan pekerjaan dan mengalami cacat mata permanen.

Ironisnya, selama jangka waktu itu juga, yang lebih tergerak memberikan bantuan untuk pengobatan justru datang dari Kedutaan Besar Australia, bukan dan pemerintah Indonesia.

Tak Setuju

Di tempat terpisah, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly tidak setuju dengan usul Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto soal penggantian judul UU 15 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

“Tidak mungkin kami revisi judul karena akan membuat baru,” kata Yasonna, di sela rapat kerja dengan Komisi III, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, seperti dikutip Antara, Kamis (25/1).

Menurut dia, akan butuh proses yang lama jika melakukan penggantian judul yang sudah ada. Sebab, perlu ada pembuatan dan pengajuan naskah akademik baru soal UU tersebut jika judulnya diganti. Saat ini, kata Yasonna, yang menjadi pembahasan adalah substansi dari UU Tindak Pidana Terorisme. [H-14/Y-7]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...