HomeBeritaMengenang Bom Bali 2002,...

Mengenang Bom Bali 2002, Memendam Cerita Demi Sang Buah Hati

Ni Luh Erniyati, salah satu korban bom Bali bercerita tentang pedihnya kehilangan suami atas bom Bali. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

 

Peristiwa Bom Bali Satu yang terjadi pada 12 Oktober 2002 lalu menyisakan banyak kisah. Atas peristiwa 16 tahun silam itu ratusan wisatawan asing dan masyarakat lokal menjadi korban. Tercatat ada 202 orang korban jiwa dan 209 orang mengalami luka-luka.

Ni Luh Erniyati. Dia memang bukan korban langsung atas Bom Bali Satu. Hanya saja pada peristiwa mengenaskan tersebut dia harus kehilangan suami tercinta, I Gede Badrawan. Ketika itu I Gede Badrawan tengah bekerja di Sari Club dan menjadi korban tewas.

“Saya kehilangan suami tercinta. Saya punya dua orang putra yang pada saat itu baru berumur sembilan tahun dan satu satu setengah tahun,” kata Erniyati di sela-sela diskusi bedah buku La Tay As, Jangan Putus Asa Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya.

Diskusi yang beralangsung di Hotel Akmani, Jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2) itu, turut menghadirkan sejumlah tokoh sebagai narasumber. Yakninya, Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Jakarta), Hasibullah Satrwawi (Penulis buku La Tayas Ali), Fauzi (Mantan Teroris), dan Ni Luh Erniyati (Korban Bom Bali).

Peristiwa bom Bali yang menewaskan sang suami itu terpaksa dipendam Erni beberapa tahun dari sang buah hati. Alasannya dua orang anaknya belum memahami peristiwa berdarah tersebut. “Anak saya yang kecil saat itu masih belum tahu tentang apa yang terjadi terhadap Bapaknya,” ujar Erniyati sembari menyeka air matanya.

Lebih jauh dia mengenang, sekitar pukul 23.05 Wita, 12 Oktober 2002 suasana sekitar tempat tinggal di sebuah rumah kontrakan memang telah gelap. Sebelum gelap gulita dia sempat mendengar suara ledakan besar. Akan tetapi Erni tidak mengira bahwa ledakan itu berasak daru bom RDX yang berbobot sampai 1 ton. “Tak ada terlintas sedikit pun bahwa itu adalah bom, saya kira itu gardu yang meledak di tengah jalan,” ungkapnya.

Seperti biasa perempuan berkulit sawo matang itu tetap menanti sang suami pada dini hari. Tepat pada pukul 04.00 sang suami tak kunjung menampakan diri di hadapannya.

Pagi harinya, para tetangga menyebut ada sebuah ledakan bom terjadi di bilangan Jalan Legian. Tetangganya pun bertanya kabar I Gede Badrawan yang tengah bekerja di Sari Club.

“Di luar rumah kost, teman-teman bilang ada bom. Tapi mereka hanya menanyakan kabar suami saya, saya bilang masih kerja,” papar Erniyati.

Lantas Erni merasa gusar setelah kabar ledakan semakin ramai dan suami tak kunjung tiba di rumah. Tak ayal hal itu membuat perasaannya tidak tenang. Erni pun memutuskan menyusul suami ke Jalan Legiyan, tempat suaminya bekerja.

Ternyata, di sana dia mendapatkan hamparan mayat yang berserakan di pinggir jalan. Seketika tangisnya pun pecah. Erni pun menerobos ke tengah kerumunan masa. Dia mencari suami, tapi tidak juga ditemukan.

“Saya lihat Sari Club itu sudah enggak ada. Yang ada hanya puing-puing kebakaran, bagaimana mengangkat potongan tubuh korban, itu yang saya lihat,” beber Erniyati sembari menahan air matanya.

Lantas dia berusaha mencari jasad suaminya di seluruh rumah sakit di Bali, namun tak semudah itu menemukan jasad sang suami, lantaran ratusan korban berjatuhan dari tragedi berdarah itu.

Empat bulan kemudian baru dia mengetahui keberadaan suaminya. “Mengakhiri penantian saya, setelah ada informasi dari rumah sakit, kalau suami saya telah diidentifikasi setelah empat bulan. Jadi selama empat bulan saya menunggu,” papar Erniyati.

Atas kejadian itu dia terpaksa menyandang status sebagai janda muda yang harus menghidupi dua orang buah hatinya yang masih kecil. “Tidak hanya kehilangan suami, tapi saya janda masih muda yang menghidupkan dua orang anak kecil,” urai Erniyati.

Meski demikian, kini Erniyati tidak mendendam sedikit pun terhadap pelaku Bom Bali Satu. Harapannya dengan kasih sayang dan memaafkan akan menumbuhkan seribu cinta dari hilangnya satu cinta di peristiwa Bom Bali.

“Yang dulu kita saling membenci, tapi dengan kasih sayang kita bisa menjadi saudara, itu harapan yang bisa saya miliki. Berharap inspirasi para korban akan menumbuhkan mungkin seribu cinta,” Erniyati menandaskan.

(rdw/JPC)

 

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di JawaPos.com 24 Februari 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....