Memaknai Hijrah Dalam Bingkai Perdamaian
Home Opini Memaknai Hijrah Dalam Bingkai Perdamaian
Opini - 24/01/2019

Memaknai Hijrah Dalam Bingkai Perdamaian

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Salah satu ajaran paling fundamen dalam Islam adalah anjuran untuk berhijrah, yakni beralih dari suatu kondisi tertentu ke kondisi yang lebih baik. Sesungguhnya, seluruh aspek kehidupan manusia di alam ini adalah semata-mata dalam rangka menunaikan sunnatullah (ketetapan Allah) bernama “hijrah”. Bahkan saking pentingnya, hijrah diabadikan sebagai sistem penanggalan Islam yang disebut dengan kalender hijriah.

Dalam bahasa yang lebih mudah, hijrah bisa dirangkai ke dalam sebuah idiom minadz dzulumati ilannur, yakni dari kegelapan menuju keadaan yang terang benderang. Begitu pula dengan misi mulia Nabi Muhammad Saw. diutus di muka bumi ini tak lain untuk membimbing umat manusia dari jalan yang melenceng menuju jalan yang benar. Berdasarkan pengertian itu, hijrah sejatinya menjadi bagian dari gerak realitas positif seluruh aspek kehidupan ini.

Dalam sejarahnya, Nabi pernah melakukan hijrah bersama kaum Muhajirin dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah) untuk mengembangkan dakwah Islam yang lebih mendukung, aman, dan memungkinkan untuk mewujudkan komunitas sosial yang adil dan damai. Hijrah di sini dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain secara fisik. Namun demikian, setelah peristiwa penaklukan Mekah (fathu makkah) pada Januari 630 M, tidak ada lagi makna hijrah dalam arti fisik. Hijrah lebih dimaknai sebagai peralihan dari moralitas yang buruk menuju al-akhlak al-karimah (budi pekerti yang luhur).

Dalam proses hijrahnya, Nabi Saw. mengubah nama kota Yatsrib menjadi Madinat Ar-Rasul yang bermakna “Kota Rasulullah”. Perubahan nama kota itu bukan hanya bersifat formalistas semata, melainkan sebuah kesaksian (syahadah) untuk mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Bersama umat agama lain dan suku-suku Arab di Madinah, Nabi membuat konsensus bersama bernama Piagam Madinah (Mitsaq Al-Madinah) untuk menegaskan persamaan kemanusiaan, menghargai perbedaan dan menebar perdamaian.

Itulah misi hijrah yang ditekankan Nabi, yaitu mengubah suatu struktur tatanan masyarakat yang tidak terbuka dan otoriter (jahiliyah), menuju pemufakatan bersama dan demokratis (islamiyah). Nabi juga merombak sistem perekonomian yang dikuasasi oleh sekelompok konglomerat tertentu menuju perekonomian yang berpihak pada kesejahteraan bersama. Yang tak kalah penting, Nabi membangun masyarakat madani yang amat menghargai perbedaan di kalangan masyarakat Arab.

Dalam konteks apa pun, kerangka dan spirit hijrah Nabi itu sesungguhnya bisa kita terapkan kapan pun dan di mana pun. Dalam konteks pribadi misalnya, hijrah bisa digunakan sebagai pembingkai untuk memperbaiki diri dari segala sikap dan perilaku yang selama ini keliru serta menjadi individu yang terus menempa diri dengan kebaikan. Tentu saja sebagai elemen terkecil dalam masyarakat, perbaikan diri yang baik akan melahirkan tatanan sosial yang baik pula.

Kisah pertobatan mantan pelaku terorisme adalah contoh betapa mereka yang pernah melakukan tindakan kejahatan di masa lalu kemudian memilih hijrah dari jalan kekerasan ke jalan perdamaian. Mereka merevisi pandangan-pandangan yang selama ini diyakini kebenarannya, bahwa ideologi kekerasan seperti itu ternyata keliru. Pandangan-pandangan yang terbukti salah dalam konteks pribadi seperti meyakini bahwa jalan kekerasan -termasuk dengan cara melakukan bom bunuh diri- adalah anjuran agama, ternyata tidak ada agama apa pun di dunia ini yang menganjurkan umatnya untuk membuat kerusakan.

Begitu halnya dengan jalan hijrah yang ditempuh para korban terorisme (penyintas). Pengalaman Aliansi Indonesia Damai (AIDA) mendampingi para korban terorisme memunculkan hasil yang cukup menggembirakan. Kisah korban adalah sumber inspirasi semangat pantang menyerah. Para penyintas dengan segala luka fisik dan psikis yang dideritanya, mereka mampu menunjukkan kegigihan untuk bangkit dari keterpurukan. Dari sini bisa ditarik pelajaran bahwa para penyintas terorisme memilih hijrah dari rasa pesimisme menuju optimisme. Mereka berhijrah dari dendam dan kebencian, menuju pemaafan dan ketenangan. Hijrah para penyintas adalah bahwa mereka memilih untuk memaafkan mantan pelaku yang telah bertobat, kembali ke jalan perdamaian.

Sesungguhnya, para penyintas itu telah hijrah untuk memulai hidup baru tanpa perasaan yang mengganjal di hati. Ibarat sebuah kertas, lembaran baru yang dibuka penyintas putih bersih tanpa noda. Para penyintas terorisme bahkan menganggap kejadian teror yang telah menimpa mereka sebagai takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu, mereka memilih ikhlas dan menganggap para mantan pelaku teror juga sebagai korban dari pandangan keagamaan yang keliru.

‘Ala kulli hal, konsep hijrah Nabi Muhammad Saw. di masa lalu sesungguhnya mengandung ibrah (pelajaran berharga) bahwa selayaknya kita memaknai hijrah dalam bingkai perdamaian. Ajaran-ajaran Islam harus kita maknai sebagai ajaran yang transformatif sehingga kita terus mengupayakan perdamaian terwujud dalam kehidupan. Kisah hijrah mantan pelaku terorisme dan korbannya adalah contoh betapa hidup membutuhkan uluran cinta, kasih, dan kedamaian. Kisah mereka menjadi inspirasi kehidupan betapa setiap manusia membutuhkan hijrah untuk mewujudkan perdamaian.

 

Oleh: Ahmad Hifni