HomeOpiniMemaknai Hijrah Dalam Bingkai...

Memaknai Hijrah Dalam Bingkai Perdamaian

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Salah satu ajaran paling fundamen dalam Islam adalah anjuran untuk berhijrah, yakni beralih dari suatu kondisi tertentu ke kondisi yang lebih baik. Sesungguhnya, seluruh aspek kehidupan manusia di alam ini adalah semata-mata dalam rangka menunaikan sunnatullah (ketetapan Allah) bernama “hijrah”. Bahkan saking pentingnya, hijrah diabadikan sebagai sistem penanggalan Islam yang disebut dengan kalender hijriah.

Dalam bahasa yang lebih mudah, hijrah bisa dirangkai ke dalam sebuah idiom minadz dzulumati ilannur, yakni dari kegelapan menuju keadaan yang terang benderang. Begitu pula dengan misi mulia Nabi Muhammad Saw. diutus di muka bumi ini tak lain untuk membimbing umat manusia dari jalan yang melenceng menuju jalan yang benar. Berdasarkan pengertian itu, hijrah sejatinya menjadi bagian dari gerak realitas positif seluruh aspek kehidupan ini.

Dalam sejarahnya, Nabi pernah melakukan hijrah bersama kaum Muhajirin dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah) untuk mengembangkan dakwah Islam yang lebih mendukung, aman, dan memungkinkan untuk mewujudkan komunitas sosial yang adil dan damai. Hijrah di sini dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain secara fisik. Namun demikian, setelah peristiwa penaklukan Mekah (fathu makkah) pada Januari 630 M, tidak ada lagi makna hijrah dalam arti fisik. Hijrah lebih dimaknai sebagai peralihan dari moralitas yang buruk menuju al-akhlak al-karimah (budi pekerti yang luhur).

Dalam proses hijrahnya, Nabi Saw. mengubah nama kota Yatsrib menjadi Madinat Ar-Rasul yang bermakna “Kota Rasulullah”. Perubahan nama kota itu bukan hanya bersifat formalistas semata, melainkan sebuah kesaksian (syahadah) untuk mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Bersama umat agama lain dan suku-suku Arab di Madinah, Nabi membuat konsensus bersama bernama Piagam Madinah (Mitsaq Al-Madinah) untuk menegaskan persamaan kemanusiaan, menghargai perbedaan dan menebar perdamaian.

Itulah misi hijrah yang ditekankan Nabi, yaitu mengubah suatu struktur tatanan masyarakat yang tidak terbuka dan otoriter (jahiliyah), menuju pemufakatan bersama dan demokratis (islamiyah). Nabi juga merombak sistem perekonomian yang dikuasasi oleh sekelompok konglomerat tertentu menuju perekonomian yang berpihak pada kesejahteraan bersama. Yang tak kalah penting, Nabi membangun masyarakat madani yang amat menghargai perbedaan di kalangan masyarakat Arab.

Dalam konteks apa pun, kerangka dan spirit hijrah Nabi itu sesungguhnya bisa kita terapkan kapan pun dan di mana pun. Dalam konteks pribadi misalnya, hijrah bisa digunakan sebagai pembingkai untuk memperbaiki diri dari segala sikap dan perilaku yang selama ini keliru serta menjadi individu yang terus menempa diri dengan kebaikan. Tentu saja sebagai elemen terkecil dalam masyarakat, perbaikan diri yang baik akan melahirkan tatanan sosial yang baik pula.

Kisah pertobatan mantan pelaku terorisme adalah contoh betapa mereka yang pernah melakukan tindakan kejahatan di masa lalu kemudian memilih hijrah dari jalan kekerasan ke jalan perdamaian. Mereka merevisi pandangan-pandangan yang selama ini diyakini kebenarannya, bahwa ideologi kekerasan seperti itu ternyata keliru. Pandangan-pandangan yang terbukti salah dalam konteks pribadi seperti meyakini bahwa jalan kekerasan -termasuk dengan cara melakukan bom bunuh diri- adalah anjuran agama, ternyata tidak ada agama apa pun di dunia ini yang menganjurkan umatnya untuk membuat kerusakan.

Begitu halnya dengan jalan hijrah yang ditempuh para korban terorisme (penyintas). Pengalaman Aliansi Indonesia Damai (AIDA) mendampingi para korban terorisme memunculkan hasil yang cukup menggembirakan. Kisah korban adalah sumber inspirasi semangat pantang menyerah. Para penyintas dengan segala luka fisik dan psikis yang dideritanya, mereka mampu menunjukkan kegigihan untuk bangkit dari keterpurukan. Dari sini bisa ditarik pelajaran bahwa para penyintas terorisme memilih hijrah dari rasa pesimisme menuju optimisme. Mereka berhijrah dari dendam dan kebencian, menuju pemaafan dan ketenangan. Hijrah para penyintas adalah bahwa mereka memilih untuk memaafkan mantan pelaku yang telah bertobat, kembali ke jalan perdamaian.

Sesungguhnya, para penyintas itu telah hijrah untuk memulai hidup baru tanpa perasaan yang mengganjal di hati. Ibarat sebuah kertas, lembaran baru yang dibuka penyintas putih bersih tanpa noda. Para penyintas terorisme bahkan menganggap kejadian teror yang telah menimpa mereka sebagai takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu, mereka memilih ikhlas dan menganggap para mantan pelaku teror juga sebagai korban dari pandangan keagamaan yang keliru.

‘Ala kulli hal, konsep hijrah Nabi Muhammad Saw. di masa lalu sesungguhnya mengandung ibrah (pelajaran berharga) bahwa selayaknya kita memaknai hijrah dalam bingkai perdamaian. Ajaran-ajaran Islam harus kita maknai sebagai ajaran yang transformatif sehingga kita terus mengupayakan perdamaian terwujud dalam kehidupan. Kisah hijrah mantan pelaku terorisme dan korbannya adalah contoh betapa hidup membutuhkan uluran cinta, kasih, dan kedamaian. Kisah mereka menjadi inspirasi kehidupan betapa setiap manusia membutuhkan hijrah untuk mewujudkan perdamaian.

 

Oleh: Ahmad Hifni

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...