HomeOpiniEkstremisme Berlawanan dengan Fitrah...

Ekstremisme Berlawanan dengan Fitrah Manusia: Refleksi Mantan Pelaku

Oleh Fikri
Master Ilmu Politik UI

Sebulan setelah deklarasi Khilafah Islamiyah pada Juni 2014 oleh organisasi kekerasan bernama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), sepak terjang mereka tiba-tiba menjadi trending topic di media-media cetak dan elektronik internasional, begitu juga di media sosial. Kelompok yang dipimpin Abu Bakar Al Baghdadi ini banyak dibicarakan publik. Begitu pun di Indonesia. Apalagi setelah beredar video di youtube berjudul “Join The Ranks” pada 30 Juli 2014. Dengan mengambil latar belakang alam Suriah, tampak sejumlah orang mengajak masyarakat Indonesia untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.

Fenomena ISIS menjadi magnet kuat bagi sebagian masyarakat. Pemberlakuan syariat Islam secara kafah dan kemakmuran ekonomi menjadi salah satu propaganda ISIS. Banyak orang berbondong-bondong hijrah ke Suriah. Segala upaya dilakukan agar bisa hijrah ke sana, meski harus mengorbankan harta benda. Nyatanya, kendati sudah berikhtiar optimal, tak semua orang dapat mewujudkan niatnya. Salah satunya narapidana terorisme (napiter) yang pernah penulis jumpai. Sebut saja namanya Fulan.

Bergabung kelompok ekstrem

Fulan terpapar ekstremisme pertama kali pada tahun 2013 melalui forum kajian di salah satu daerah di Jawa Barat. Tema-tema yang dibahas kebanyakan tentang jihad dan penegakan daulah Islam. Salah satunya tentang aneka peristiwa yang terjadi di Suriah. Dikatakan bahwa umat Islam di sana sedang mengalami tindakan kezaliman oleh rezim penguasa Bashar Al Assad. Sebagai seorang muslim ia tergugah hati dan pikirannya untuk membantu saudara seagamanya.

Kuatnya narasi tersebut mendorong Fulan berniat pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.  Ia ingin mengangkat senjata melawan rezim tiran bersama ISIS yang mengklaim sebagai khilafah ala minhajin nubuwwah. Segala cara dilakukan agar dapat berangkat, tetapi takdir tak mengizinkannya.

Baca juga Pendidikan untuk Perdamaian

Dalam kondisi kecewa, ia didatangi oleh teman yang dikenalnya lewat media sosial. “Jika tidak bisa hijrah, ya jihad di Indonesia,” ujar Fulan menirukan ucapan temannya. Orang tersebut juga menawarkan kepadanya untuk melakukan amaliyat serangan, yaitu pengeboman dan penembakan. Fulan setuju dengan tawaran tersebut. Terlebih selama ini ia memang gemar merakit petasan. Keterampilan yang menunjangnya dalam proses belajar membuat bom.

Usai dirakit, teman-temannya membawa bom tersebut. Fulan tak tahu akan digunakan kapan dan di mana bom racikannya. Hingga terjadilah serangan teror di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016. Ia yakin bahwa bom yang meledak adalah karyanya setelah media massa menyebut nama-nama pelaku serangan. Fulan pun bersujud syukur dan merasa bangga. Memang dalam pemahaman kelompok ekstrem, aksi bom bunuh diri adalah amal saleh yang utama.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Setelah serangan tersebut, aparat melakukan penegakan hukum dan menangkap orang-orang yang terlibat, termasuk Fulan yang dicokok saat hendak makan malam di warung. Ia divonis hukuman penjara. Idealnya Lapas dapat menimbulkan efek jera, tapi tidak bagi Fulan. Ia justru mengalami doktrinasi lebih lanjut karena bertemu dan berdiskusi dengan napiter yang lebih senior. Penjara membuat pemahamannya yang ekstrem bertambah kuat.

Ekstremisme

Basis kekuatan kelompok ekstrem terletak pada ideologi, yakni seperangkat pemahaman yang sederhana, tapi berdampak pada pengelompokan, yaitu kawan dan lawan atau muslim dan kafir. Doktrin tersebut sering diistilahkan dengan takfiri, yaitu mudah mengkafirkan seorang muslim atas dosa besar yang dilakukan. Doktrin ini juga menjatuhkan vonis kafir kepada kaum muslim yang berbeda pemahaman dengan kelompoknya. Itu yang paling bahaya.

Sebagai implementasi pemahaman ekstrem ini, sebagaimana dituturkan Fulan, ia harus mencabut surat kuasa di pengadilan, haram ikut pemilihan umum, dan beberapa hal lain. Karena perbuatan tersebut merupakan bagian dari kekufuran. Selama di penjara ia juga menunjukan sikap yang sinis kepada para petugas karena menganggap semua aparat merupakan  bagian dari kekuasaan kafir.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Hal tersebut juga didasarkan pada doktrin tentang kafir harbi, yaitu orang kafir yang boleh diperangi. Semua aparat termasuk warga Indonesia yang tidak menganut pemahaman ISIS maka statusnya kafir harbi. Umat muslim juga diharuskan berjihad dan bisa mendapatkan status mati syahid. Jihad harus disegerakan agar mendapat ampunan dari Allah, salah satunya dengan aksi bom bunuh diri, sebagaimana yang pernah terjadi di Jl MH Thamrin Jakarta tahun 2016, Kampung Melayu Jakarta tahun 2017, Surabaya tahun 2018, dan awal tahun 2021 di Makassar.

Fitrah manusia

Selama bertahun-tahun menjalani hukuman penjara, Fulan terus menerus menerima doktrin yang lebih keras. Sampai pada satu titik ia mengalami semacam goncangan batin. Ia bertanya kepada diri sendiri tentang kebenaran ideologi yang dianutnya.

Pada dasarnya jika seseorang dipahamkan oleh ajaran agama yang benar, akan mengalami dua hal: pertama, ajaran agama yang benar pasti sesuai dengan fitrah manusia. Salah satu fitrah manusia adalah senang terhadap perdamaian. Membunuh orang tak bersalah baik sengaja atau tidak adalah perkara besar dalam Islam. Kedua, ajaran agama akan selalu mendorong orang menuju kebaikan.

Baca juga Refleksi Akhir Tahun Korban, Pelaku Terorisme, dan Nurani Kita

Pengeboman dan pembunuhan secara sporadis sangat jauh dari kebaikan. Sebagai muslim, kita dilarang untuk menghakimi atas takdir yang kita sendiri belum mengetahuinya. Artinya, jika tidak berhak menghakimi kesalahan seseorang, maka tak boleh ada penghalalan darah. Kita tidak tahu takdir seseorang ke depan. Bisa jadi orang tersebut akan menjadi lebih baik dengan didakwahi secara lembut dan penuh kasih sayang.

Selain karena pemahaman atau ideologi, perubahan yang ia alami diperkuat dengan renungan kemanusiaan. Fulan banyak membaca kisah-kisah korban dan keluarganya dari produk-produk AIDA yang diberikan oleh pembinanya di Lapas. Ia bahkan meminta dipertemukan dengan korban atau keluarganya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf atas perbuatan yang ia lakukan dahulu.

Baca juga Distorsi Kaidah Ulil Amri: Upaya Memahami dan Menyikapi Kepemimpinan secara Utuh

Kisah korban bom lebih menghidupkan hatinya. Hatinya yang selama ini mengeras, bahkan ia lupa kapan terakhir meneteskan air mata, tiba-tiba luluh saat bersilaturahmi dengan salah seorang korban Bom Thamrin. Fulan menangis terisak dan menghaturkan permohonan maaf. Ia juga berkomitmen untuk meninggalkan jalan kekerasan agar tak ada lagi aksi-aksi yang menimbulkan jatuhnya korban tak bersalah. Ia menjadi lebih yakin bahwa perbuatannya dulu salah besar.

Fulan kini aktif mengajak teman-temannya yang masih berpikiran ekstrem agar menghentikan niatnya melakukan aksi-aksi yang justru menimbulkan banyak kemudaratan ketimbang manfaat bagi umat muslim.

Baca juga Pemerintahan Ideal Menurut Islam

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....