HomeInspirasiAspirasi DamaiAspirasi Damai Maulid Nabi

Aspirasi Damai Maulid Nabi

Dalam kalender Hijriah atau tahun Islam, saat ini kita masih berada dalam bulan Rabiul Awal atau lazim disebut bulan Maulid Nabi Muhammad Saw, kelahiran utusan Allah panutan umat Islam sedunia. Umat Islam menyambut dan merayakan kelahiran penghulu seluruh Nabi tersebut.

Menurut sejarah, pada saat kelahirannya, alam semesta menyambutnya dengan suka cita. Karena beliau sejatinya diutus Tuhan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lilalamin). Beliau telah memberikan segenap cinta dan kasih sayangnya untuk semua sahabatnya, keluarganya, umatnya, bahkan musuh-musuhnya. Seluruh makhluk ada dalam perhatiannya.

Baca juga Memahami Perundungan

Beliau adalah teladan sepanjang masa. Seluruh ras dan bangsa-bangsa di dunia telah mengenalinya. Kalaupun tidak mengikuti agamanya, mereka belajar tentang sejarah dan akhlak Nabi. Berbagai golongan umat Islam juga selalu memujinya. Hampir seluruh negara yang mengaku sebagai negara Islam, mengadakan peringatan maulid Nabi di istana masing-masing.

Kita di Indonesia, semua lapisan masyarakat memujanya: kaya raya, miskin papa; tua muda, laki-laki perempuan. Berbagai instansi pemerintah, ormas Islam, lembaga pendidikan, berlomba-lomba menggelar peringatan Maulid. Bahkan orang-orang (narapidana) yang sedang menjalani hukuman di Lapas-Lapas pun ikut menggelar perayaan tersebut.

Baca juga Peace Food sebagai Upaya Perdamaian

Sementara itu, di kampung-kampung, di masjid, surau, dan musala, salawat Nabi selalu berdendang mengiringi doa-doa, pengharapan dan sembah sujud umat kepada Sang Khalik. Malam yang gelap, siang yang terang benderang telah menjadi saksi betapa banyak umat manusia yang selalu bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Maulid Nabi, secara sosiologis dan kultural telah menjadi salah satu identitas kolektif umat Islam di seluruh dunia. Hal yang melekat pada “tubuh kolektif” tersebut adalah atribut yang inklusif. Ia menembus sekat ideologi politik, batas wilayah dan negara, melampaui tirai organisasi dan apa pun yang melekat pada setiap individu, kelompok, golongan dan bangsa di dunia ini.

Baca juga Medsos untuk Perdamaian

Umat Islam harus belajar dan mengambil hikmah dari perayaan Maulid ini. Hakikatnya Rasulullah yang sejati adalah untuk semua, bukan hanya untuk segelintir manusia mukmin. Kemanfaatan ajaran Nabi tidak hanya untuk kemuliaan umat Islam, melainkan untuk martabat dan kehormatan seluruh umat manusia. Ia membimbing semua insan ke jalan yang benar, yang damai tanpa kekerasan.

Bila ada kekerasan, itu bersifat darurat, terpaksa, dan terukur. Hanya untuk melindungi diri, sehingga “tindakan” tersebut masih bisa dibenarkan secara hukum. Oleh karenanya, sebagai antitesis dari perdamaian, tindak kekerasan hanya diberikan kepada pihak yang diberi amanat oleh hukum. Ada aturan dan mekanisme yang ketat.

Baca juga Praktik-Praktik Jihad

Setiap orang dan komunitas atau golongan tidak dibenarkan mengambil keputusan sepihak untuk menyerang kelompok lain atas nama Islam dan klaim mengikuti Rasulullah. Karena setiap keputusan dan tindakan yang melibatkan banyak orang harus melalui mekanisme “fiqih” yang melekat pada negara: UU dan peraturan terkait, serta birokrasi dan aparat penegak hukum. Itulah salah satu ajaran Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bila korban kekerasan sudah berjatuhan, maka negara wajib untuk memberikan keadilan dan pelindungan pada korban. Dalam kasus kekerasan-terorisme, sesuai regulasi yang berlaku, negara wajib memberikan kompensasi kepada korban dan menghukum pelaku secara adil, serta membina pelaku agar kembali ke jalan yang benar.

Baca juga Tips Bangkit dari Keterpurukan

Secara pribadi, korban dapat memaafkan pelaku tanpa melupakan peristiwa tragis yang dialaminya. Memaafkan pelaku kekerasan adalah sunnah Rasul. Josuwa Ramos, korban Bom Kuningan 2004 merasa sangat berat menerima takdir yang dia alami setelah peristiwa nahas tersebut. Ia yang mualaf mendapat serangan dari orang yang mengaku diri sebagai mujahid dan pejuang Islam. Perasaan tidak logis dan menyakitkan hati mendera batinnya selama berbulan-bulan.  Sampai suatu saat, Josuwa membaca dan mendengar kisah-kisah Nabi. Betapa Rasulullah mau memaafkan dan menyayangi orang-orang yang membenci dan memusuhinya. Sejak saat itu, ajaran Rasulullah tersebut seolah menjadi ‘the living sunnah” dalam keseharian Josuwa.

Melalui peringatan maulid Nabi, kita sebagai bangsa harus menegaskan ulang pentingnya menjaga perdamaian, melalui sikap-sikap yang inklusif, positif, menyayangi, dan terbuka untuk semua golongan, termasuk golongan-golongan yang membenci dan memusuhi kita. Sikap tersebut kita tunaikan dalam keseharian, baik melalui media sosial maupun tindakan nyata.

Baca juga Menghindari Marah kala Puasa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Silaturahmi Perdamaian di Lombok

Akhir Juni 2024 lalu menjadi salah satu momen penting dalam upaya...

Ali Fauzi; dari Lingkar Kekerasan ke Lingkar Perdamaian

Selalu riang dan optimis, peduli dan merangkul. Banyak yang simpati dan...

Mahasiswa: Entitas Moral Gerakan Perdamaian

Mahasiswa dalam sejarahnya selalu membawa angin perubahan di negara ini. Gerakan...

Pentingnya Ibroh Terorisme

Oleh Laode ArhamAlumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Melawan ketidakadilan dengan cara yang...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...