Iswanto di SMA 3 Poso
Home Inspirasi Suara Mantan Pelaku Dulu Kombatan, Kini Pendidik
Suara Mantan Pelaku - 29/01/2019

Dulu Kombatan, Kini Pendidik

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Iswanto, eks anggota jaringan teroris mengisahkan bagaimana ia keluar dari jalan kekerasan yang dilaluinya pada masa lalu. Baginya, jalan kekerasan tidak sesuai dengan hati nurani dan ajaran Islam, karena Islam sesungguhnya mengajak untuk menebar kasih sayang, bukan kekerasan. Kisah itu ia sampaikan saat berbagi pengalaman dalam kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung November 2018 lalu.

Ia berharap dari kisahnya, para pelajar di SMAN 1 Gadingrejo dapat mengambil pelajaran berharga (ibrah) dari perjalanan hidupnya yang pernah berada di jalan kekerasan, kemudian memilih hijrah ke jalan perdamaian dengan menjadi seorang pendidik.

Selain menjadi anggota kelompok teroris, Iswanto sendiri pernah terlibat konflik kekerasan bersenjata di Maluku dan Sulawesi Tengah. Setelah berkecimpung dengan kelompok kekerasan, ia melihat bahwa jalan perjuangan yang ditempuhnya saat itu tidak sesuai bahkan bertentangan dengan prinsip agama dan kemanusiaan.

Tidak ada manusia yang tidak pernah bersalah. Namun, menyadari kesalahan masa lalu kemudian memperbaikinya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang istimewa. Iswanto mengakui di antara kekeliruan ideologi kelompoknya adalah memaknai ajaran jihad dengan arti yang sangat sempit, yaitu perang mengangkat senjata dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Paham teror yang pernah diajarkan kelompoknya telah menghilangkan nyawa banyak manusia. Aksi-aksi yang dilancarkan kelompoknya juga menyebabkan banyak pihak menjadi apatis terhadap ajaran Islam.

Seiring waktu nalar kritisnya tumbuh. Ia melihat aksi-aksi kekerasan dengan dalih agama tidak memperbaiki keadaan tetapi justru melahirkan mudarat yang lebih banyak lagi. Kesadarannya diperkuat dengan nasihat dari gurunya untuk tidak melanjutkan gerakan kekerasan yang dibangun kelompoknya. Ia juga mengkaji ulang ajaran jihad dalam buku-buku rujukan yang muktabar. Ia pun menemukan bahwa sesungguhnya jihad tidak hanya sebatas perang. Menuntut ilmu yang bermanfaat ternyata juga merupakan bentuk jihad yang sangat dianjurkan.

Selepas dari aktivitas di dunia kekerasan Iswanto melanjutkan studinya di tingkat sarjana dan magister. Ia juga mengabdikan pengetahuan yang dimilikinya sebagai seorang guru. Dalam kegiatan di SMAN 1 Gadingrejo ia mengatakan, “Saya dulu berjuang dengan senjata, kini saya memilih jalan lain yang menurut saya lebih sesuai dengan hati nurani saya. Yaitu jihad dengan pena, dengan menulis.”

Ia menambahkan bahwa kesadarannya untuk keluar dari jalan kekerasan juga dilatari keyakinan bahwa ketidakadilan yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri tidak bijak bila dibalas dengan menciptakan ketidakadilan baru. Karena, hal itu hanya akan membuat dendam menjadi abadi.

Iswanto mengaku semasa duduk di bangku sekolah ia sering absen dari upacara bendera dan sering membolos mata pelajaran kewarganegaraan. Sejak usia dini, ia didoktrin oleh kelompoknya untuk tidak suka dengan negara Indonesia. “Dulu saya tidak mau hormat pada bendera, tapi sekarang justru saya aktif memberikan pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk menunjukkan rasa cinta kepada Tanah Air, ” ujarnya.

Iswanto juga mengakui bahwa keputusannya meninggalkan dunia kekerasan juga didorong oleh faktor pertemuannya dengan korban terorisme. Dalam sebuah kegiatan AIDA di Lamongan pada 2015, ia dipertemukan dengan para korban. Ia menyaksikan sendiri bagaimana aksi teror bom menyebabkan luka yang amat menyakitkan terhadap diri korban. Aksi teror juga menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi keluarga yang ditinggalkan, istri menjadi janda, anak-anak menjadi yatim atau piatu. “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri banyak korban yang tidak bersalah berjatuhan karena aksi terorisme,” ujarnya.

Pria kelahiran Lamongan ini mengakui pemahamannya tentang jihad pada masa lalu melenceng dari prinsip Islam yang sangat menjunjung tinggi nyawa manusia. Namun, kini ia telah bertobat dari dunia kekerasan. Ia menempuh kehidupan yang lebih baik, bahkan kini bersama AIDA dan para korban terorisme mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat.

Pengalaman Iswanto lepas dari jerat terorisme merupakan contoh baik sebentuk pertobatan dari jalan kekerasan menuju perdamaian. Dahulu ia bergelut dengan senjata untuk menciptakan ketakutan, namun kini ia berjuang dengan pena mendidik masyarakat agar mencintai perdamaian. [FS]