HomeSuara KorbanIkhlas Menerima Takdir, Ibroh...

Ikhlas Menerima Takdir, Ibroh dari Penyintas Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Yunik tidak akan pernah lupa terhadap peristiwa kelam yang terjadi pada 9 September 2004. Ia tidak menyangka rutinitasnya mencari nafkah, yaitu usaha katering di perkantoran kawasan Kuningan, akan terganggu akibat aksi teror bom.

Pagi itu Yunik berangkat dari rumahnya di Tangerang untuk mengantar makanan ke tempat kerjanya. Tidak seperti biasanya, perempuan itu naik kendaraan umum menuju Jakarta. Hari-hari biasanya ia diantarkan oleh kerabat untuk ke tempat kerja. Rute perjalanan bus yang ditumpanginya melewati Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan.

Sekitar pukul 10 pagi, bus kota yang ia tumpangi tiba di tujuan. “Saya bilang sama sopir Kopaja itu, ‘Bang, kiri!’ Di situ saya pegangan besi saat ingin turun, namun tiba-tiba terjadi suara yang menggelegar,” kenang Yunik dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), pertengahan Maret 2019 di Malang, Jawa Timur.

Ledakan yang bersumber dari sebuah mobil boks itu menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Yunik melihat kaca bus pecah semua. Ia rasakan tiang besi bus yang dipegangnya memanas. Ia pun berusaha melepas pegangannya, namun ternyata susah. Tangannya seperti lengket ke tiang besi yang panas itu. Akhirnya, dengan keras ia tarik tangannya agar bisa terlepas. “Waktu pegangan itu saya teriak Allahu akbar, dan saya teriak memanggil ibu saya, ibu,” ujarnya.

Akibat kejadian Bom Kuningan tersebut, Yunik harus menderita luka cukup serius di bagian jari-jari tangan kiri. Tulang di jari kelingkingnya patah dan telapak tangannya rusak. Selain itu, sejumlah serpihan bom menancap di beberapa bagian tubuhnya. Ia pun harus menjalani beberapa kali operasi, mulai dari pengangkatan serpihan-serpihan bom, hingga terapi untuk pemulihan.

Proses pengobatan dia lalui dengan tidak mudah. Ada potensi jari tangannya harus diamputasi. Ia sempat mendengar suaminya memohon kepada dokter agar tangan istrinya tidak diamputasi.

Selain luka fisik, kondisi psikologis perempuan asal Sragen, Jawa Tengah itu terguncang. Ia mengaku trauma terhadap suara keras setelah mengalami musibah Bom Kuningan. Ia juga tidak berani melintas di lokasi kejadian selama berbulan-bulan, dan tidak berani bepergian seorang diri.

Waktu demi waktu berlalu, Yunik mulai bisa beranjak dari penderitaan akibat bom. Secara berangsur luka di tangannya pulih, begitu juga dengan kondisi mentalnya. Ia mengatakan bahwa dukungan keluarga, terutama suami, berperan sangat signifikan terhadap kebangkitannya setelah terdampak ledakan bom. Selama proses perawatan, suaminya selalu menemani. Bahkan, sang suami terpaksa mungundurkan diri dari tempat kerjanya agar bisa fokus merawat Yunik. Kasih sayang dari suami dan anak-anak menjadi penyemangat Yunik untuk bangkit dari keterpurukan. “Saya bersyukur dapat suami yang sabar banget,” katanya mendefiniskan sosok suaminya.

Ia mengaku telah mengikhlaskan segala yang menimpa dirinya sebagai bagian dari takdir yang harus dijalani. Yunik menjadikan pengalamannya terkena bom sebagai pembelajaran bahwa ia harus menjadi pribadi yang ikhlas menerima takdir, dan tetap berjuang menghadapi tantangan kehidupan. Dari semangat yang ditanamkannya itu ia bisa bangkit dan semakin optimistis menatap masa depan.

Salah satu bentuk dari penerimaannya atas semua yang terjadi, Yunik memaafkan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat dari dunia kekerasan. Dalam kegiatan AIDA, ia dipertemukan dengan Iswanto, mantan anggota kelompok teroris asal Lamongan, Jawa Timur. Setelah berproses dan saling mengenal, Yunik memahami bahwa Iswanto telah sungguh-sungguh berubah, telah meningalkan gerakan terorisme. Atas permintaan maaf Iswanto pun Yunik bersedia memaafkan.

Bagi Yunik, semua manusia termasuk mantan pelaku terorisme, sama-sama punya hati nurani yang bisa mengarahkan kepada kebaikan. “Dulu saya itu mendengar teroris itu, saya jadi bertanya-tanya seperti apa hatinya, terbuat dari apa hatinya. Tetapi, setelah bertemu dengan Bapak Iswanto, saya tahu mereka punya hati nurani, hati nurani yang baik,” ucapnya.

Ibu tiga anak ini mengaku tidak memendam rasa dendam dan tidak ingin melakukan pembalasan kepada mantan pelaku. Baginya, kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan, karena akan menimbulkan kekerasan yang lebih besar dan merusak perdamaian. “Semoga dari sini ke depan, tidak ada lagi ledakan bom dan kekerasan,” pungkasnya. [MSH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...