HomeBeritaSuara Korban yang Jarang...

Suara Korban yang Jarang Terdengar

Aliansi Indonesia Damai- Working Group on Women and Preventing/Countering Violent Extremism (WGWC) menggelar diskusi bertajuk “Perempuan Korban Bom; Jalan Senyap Menuju Keadilan” pada Kamis (11/06/2020). Diskusi yang digelar secara daring itu melibatkan sejumlah narasumber, salah satunya Riri Khariroh, Direktur Eksekutif AIDA.

Riri mengungkapkan, topik korban terorisme hampir tidak pernah menjadi pembahasan inti dalam setiap peristiwa terorisme. Perhatian publik kepada korban hanya muncul ketika peristiwa terorisme terjadi. “Setelahnya korban acapkali terlupakan dan publik tidak tahu kelanjutan dampak yang dihadapi oleh korban,” ucapnya.

Baca juga Teror Dini Hari Meyatimkan Dua Bocah

Ia menilai, hal tersebut terjadi lantaran media massa dan Negara menganggap bahwa isu korban bukan sesuatu yang menarik. “Negara ingin menyelesaikan masalah, dengan secepatnya membawa pelaku ke pengadilan, bagaimana cara aparat menangkap pelaku, seperti apa jaringan mereka, bagaimana untuk melenyapkan jaringan. Sehingga isu korban agak diabaikan,” ujar Riri.

Padahal korban terorisme dinilainya sebagai individu yang terdampak langsung maupun tidak langsung akibat serangan yang dilakukan oleh kelompok ekstrem. Dampak fisik, psikis, sosial, serta ekonomi selalu menghantui mereka. Salah satunya adalah Wartini yang kehilangan suaminya dalam peristiwa Bom Kuningan 2004. Padahal suaminya adalah tulang punggung keluarga. Tak ayal Wartini harus memikul beban sebagai “bapak” sekaligus ibu bagi anak-anaknya yang kala itu masih kecil.

Baca juga Rektor UIN Surabaya: Kekerasan Selalu Melahirkan Korban

Menurut Riri, target terorisme bersifat acak sehingga siapa pun bisa menjadi korbannya. Hal tersebut dilakukan karena tujuan utama dari terorisme adalah untuk menciptakan ketakutan di masyarakat serta mendemoralisasi dari target yang dituju.

Dalam konteks global, pembahasan mengenai pemenuhan hak korban sangat lambat. “Pembahasan mengenai korban baru muncul ketika serangan 9 September di WTC, Amerika Serikat, serta beberapa serangan di Eropa. Sehingga banyak negara-negara Eropa saat ini membuat peraturan mengenai dukungan terhadap korban terorisme,” kata Riri.

Baca juga Tiga Tahun Bom Kampung Melayu: Penyintas Move On (Bag. 1)

Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Dukungan untuk korban juga sudah menjadi mainstream pada UU No. 15 tahun 2003 dan dilengkapi sedemikian rupa pada UU No 5 tahun 2018 yang membahas mengenai hak kompensasi, restitusi, rehabilitasi medis, psikis, dan psikososial korban terorisme.

Di samping pembahasan mengenai hak-hak korban, Riri menjelaskan, hal yang tak kalah penting adalah menempatkan suara-suara korban sebagai impact statement. Suara korban bisa berdampak untuk mendelegitimasi ideologi dan propaganda kelompok teroris. Narasi korban bisa menjadi basis yang kuat bagi pengadilan agar pelaku bisa mendapatkan hukuman yang setimpal. “Selain itu bisa memengaruhi masyarakat luas agar menolak ideologi kekerasan dan propaganda kelompok tersebut,” katanya. [NOV]

Baca juga Tiga Tahun Bom Kampung Melayu: Penyintas Move On (Bag. 2-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...