HomeBeritaGereja Surabaya Adakan Iftar...

Gereja Surabaya Adakan Iftar Memeringati Setahun Tragedi Bom Surabaya

Wahyoe Boedhiwardhana/The Jakarta Post

Ratusan nasi kotak dan minuman untuk berbuka puasa tersaji di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu petang.

Sekumpulan umat Muslim terlihat mengerumuni jemaat gereja yang menyajikan makanan khas berbuka puasa, kolak -kudapan manis yang dicampur santan dan gula jawa.

Bergabung bersama mereka ratusan tamu dari berbagai latar belakang agama, yang berpartisipasi dalam refleksi tragedi pemboman gereja yang mematikan di Surabaya setahun yang lalu.

“Kami menyediakan makanan dan minuman untuk menghormati saudara kami yang menjalankan puasa, namun tetap menyempatkan diri hadir dalam refleksi,” ungkap Ping Tedja Sukmana, koordinator di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Minggu petang.

Gereja tersebut merupakan satu dari tiga gereja yang diserang oleh teroris yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pro-ISIS, pada tanggal 13 Mei, tahun lalu.

Gereja itu terletak tidak jauh dari dua gereja lain, yakni Gereja Pantekosta Pusat Surabaya dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro.

Sebuah keluarga dengan enam anggota menyebar dan meledakkan bom di tiga area secara hampir bersamaan sesaat sebelum kebaktian Minggu dimulai di ketiga gereja tersebut -menyebabkan kematian total 25 orang, termasuk para pelaku, sementara puluhan lainnya terluka.

Ini adalah pertama kalinya di Indonesia aksi teror melibatkan seorang ibu dan anak-anaknya yang masih belia. Pola yang sama juga terlihat di rangkaian bom berskala lebih kecil setelah itu di Kota Surabaya, dan daerah tetangganya Sidoarjo, di mana sekali lagi ditemukan keterlibatan anak kecil dalam aksinya.

Serangan-serangan terhadap gereja ini menjadi kehebohan skala nasional, terlebih lagi bagi masyarakat sekitar. Hal ini karena Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, dibandingkan dengan kota lain di Jawa Timur, relatif jarang mengalami kekerasan berbasis agama.

Masih dalam keadaan berduka, jemaat Katolik kembali berdiri tegak, dan merilis pernyataan dua hari kemudian. Mereka berkata telah “memaafkan pelaku dan berdoa untuk kesejahteraannya”.

Pada hari ke-100 setelah tragedi, gereja bersama dengan kelompok lintas agama mendeklarasikan tanggal 13 Mei sebagai Hari Persaudaraan Sejati -yang menekankan kesetaraan, solidaritas dan persatuan antarumat beragama.

Perasan tersebut terus menyala sampai satu tahun setelah tragedi, di mana jemaat gereja, umat Muslim dan tamu lintas agama yang lain, duduk di lantai gereja dan bersama-sama menikmati santapan buka puasa.

“Kami berterima kasih pada semua yang telah datang  hari ini, karena kehadiran anda telah mengingatkan kami bahwa kami punya banyak teman yang mencintai kami. Kita telah bersama-sama belajar untuk menerima kehendak Tuhan dan dengan kehadiran komunitas lintas agama di sini, kita semua sadar bahwa kita tidak bisa diceraiberaikan karena agama yang berbeda,” kata Pdt. Agustinus Waskito dalam pidatonya.

Sesaat setelah berbuka puasa, kerumunan membubarkan diri meninggalkan jemaat gereja yang akan mengadakan misa, sedangkan umat Muslim melaksanakan sholat magrib di masjid terdekat.

“Kejadian tanggal 13 Mei telah mempersatukan kita. Saya bertemu teman-teman lintas iman dan aktivis setelah serangan tersebut tahun lalu, jadi ini adalah reuni yang indah”, ucap Kristianti Yoshepine, 23 tahun, salah seorang jemaat gereja, pada The Jakarta Post, Selasa yang lalu.

Keterangan gambar : Solidaritas: umat muslim berbuka puasa di gereja katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu. Perkumpulan lintas iman diadakan untuk memeringati korban bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga yang terpapar ISIS.

Diterjemahkan dari sebuah artikel di The Jakarta Post Edisi 15 Mei 2019.

Most Popular

2 COMMENTS

Leave a Reply to Berdamai dengan Kekhawatiran | ALIANSI INDONESIA DAMAI - AIDA Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...