Solidaritas: umat muslim berbuka puasa di gereja katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu. Perkumpulan lintas iman diadakan untuk memeringati korban bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga yang terpapar ISIS.
Home Berita Gereja Surabaya Adakan Iftar Memeringati Setahun Tragedi Bom Surabaya
Berita - 28/05/2019

Gereja Surabaya Adakan Iftar Memeringati Setahun Tragedi Bom Surabaya

Wahyoe Boedhiwardhana/The Jakarta Post

Ratusan nasi kotak dan minuman untuk berbuka puasa tersaji di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu petang.

Sekumpulan umat Muslim terlihat mengerumuni jemaat gereja yang menyajikan makanan khas berbuka puasa, kolak -kudapan manis yang dicampur santan dan gula jawa.

Bergabung bersama mereka ratusan tamu dari berbagai latar belakang agama, yang berpartisipasi dalam refleksi tragedi pemboman gereja yang mematikan di Surabaya setahun yang lalu.

“Kami menyediakan makanan dan minuman untuk menghormati saudara kami yang menjalankan puasa, namun tetap menyempatkan diri hadir dalam refleksi,” ungkap Ping Tedja Sukmana, koordinator di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Minggu petang.

Gereja tersebut merupakan satu dari tiga gereja yang diserang oleh teroris yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pro-ISIS, pada tanggal 13 Mei, tahun lalu.

Gereja itu terletak tidak jauh dari dua gereja lain, yakni Gereja Pantekosta Pusat Surabaya dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro.

Sebuah keluarga dengan enam anggota menyebar dan meledakkan bom di tiga area secara hampir bersamaan sesaat sebelum kebaktian Minggu dimulai di ketiga gereja tersebut -menyebabkan kematian total 25 orang, termasuk para pelaku, sementara puluhan lainnya terluka.

Ini adalah pertama kalinya di Indonesia aksi teror melibatkan seorang ibu dan anak-anaknya yang masih belia. Pola yang sama juga terlihat di rangkaian bom berskala lebih kecil setelah itu di Kota Surabaya, dan daerah tetangganya Sidoarjo, di mana sekali lagi ditemukan keterlibatan anak kecil dalam aksinya.

Serangan-serangan terhadap gereja ini menjadi kehebohan skala nasional, terlebih lagi bagi masyarakat sekitar. Hal ini karena Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, dibandingkan dengan kota lain di Jawa Timur, relatif jarang mengalami kekerasan berbasis agama.

Masih dalam keadaan berduka, jemaat Katolik kembali berdiri tegak, dan merilis pernyataan dua hari kemudian. Mereka berkata telah “memaafkan pelaku dan berdoa untuk kesejahteraannya”.

Pada hari ke-100 setelah tragedi, gereja bersama dengan kelompok lintas agama mendeklarasikan tanggal 13 Mei sebagai Hari Persaudaraan Sejati -yang menekankan kesetaraan, solidaritas dan persatuan antarumat beragama.

Perasan tersebut terus menyala sampai satu tahun setelah tragedi, di mana jemaat gereja, umat Muslim dan tamu lintas agama yang lain, duduk di lantai gereja dan bersama-sama menikmati santapan buka puasa.

“Kami berterima kasih pada semua yang telah datang  hari ini, karena kehadiran anda telah mengingatkan kami bahwa kami punya banyak teman yang mencintai kami. Kita telah bersama-sama belajar untuk menerima kehendak Tuhan dan dengan kehadiran komunitas lintas agama di sini, kita semua sadar bahwa kita tidak bisa diceraiberaikan karena agama yang berbeda,” kata Pdt. Agustinus Waskito dalam pidatonya.

Sesaat setelah berbuka puasa, kerumunan membubarkan diri meninggalkan jemaat gereja yang akan mengadakan misa, sedangkan umat Muslim melaksanakan sholat magrib di masjid terdekat.

“Kejadian tanggal 13 Mei telah mempersatukan kita. Saya bertemu teman-teman lintas iman dan aktivis setelah serangan tersebut tahun lalu, jadi ini adalah reuni yang indah”, ucap Kristianti Yoshepine, 23 tahun, salah seorang jemaat gereja, pada The Jakarta Post, Selasa yang lalu.

Keterangan gambar : Solidaritas: umat muslim berbuka puasa di gereja katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu. Perkumpulan lintas iman diadakan untuk memeringati korban bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga yang terpapar ISIS.

Diterjemahkan dari sebuah artikel di The Jakarta Post Edisi 15 Mei 2019.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *