HomeBeritaTerlahir Kembali Berkat Tangisan...

Terlahir Kembali Berkat Tangisan Seorang Bayi

Aliansi Indonesia Damai- Malam itu, di hadapan beberapa mahasiswa dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandung, Susi Afitriyani, atau yang biasa dipanggil Pipit mengisahkan perjalanannya setelah menjadi korban aksi peledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur tahun 2017 silam. Sembari sesekali menyeka air matanya, Pipit mencoba dengan tegar berbagi kisah pahit yang dialaminya.

Pipit tidak pernah menduga bahwa perjuangannya merantau dari Brebes ke Jakarta untuk kuliah dan bekerja akan diwarnai dengan insiden bom bunuh diri. Ketika peristiwa ledakan bom terjadi, Pipit baru saja pulang kuliah. Ia mengambil kelas karyawan lantaran paginya harus bekerja untuk biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari.

Malam itu, bersama dengan sahabatnya (Jihan, yang turut menjadi korban), seperti biasa sepulang kuliah Pipit menunggu angkutan umum di area Terminal Kampung Melayu. Ia melihat banyak polisi di sekelilingnya. Sambil menunggu angkutan, ia menelpon  keluarganya di Brebes mengabarkan bahwa esok hari dia akan pulang.

“Saya sedang menghubungi keluarga saya di rumah. Waktu itu ada libur panjang empat hari. Saya berniat pulang karena telah berjanji keponakan untuk mengajaknya ke pasar malam,” ungkap mahasiswi Jurusan Manajemen ini.

Belum sempat telepon terangkat, ledakan bom pun terjadi. Ponsel Pipit terpental, dan ia melihat suasana di sekelilingnya menjadi gelap. Pipit sempat menduga bahwa ledakan itu berasal dari ponselnya. Ia merasa sangat takut, karena itu ia kemudian berlari berusaha menyelamatkan diri. Ternyata, tanpa ia sadari tubuhnya sudah penuh dengan luka dan darah. Sampai akhirnya ia terjatuh tepat di hadapan polisi yang sedang bertugas.

Polisi itu berteriak dan memintanya untuk terus berlari menyelamatkan diri karena tengah terjadi aksi bom bunuh diri. Pipit mendengar teriakan itu, namun ia tidak kuat lagi untuk berlari. Pipit kemudian dilarikan ke klinik dengan angkutan umum. Dalam perjalanan, Pipit melihat daging dan kulit tangannya sudah tak lagi beraturan, rambutnya kaku penuh darah, dan seluruh tubuhnya sakit untuk digerakkan. Darah terus mengucur tanpa henti.

Sesampai di klinik, ternyata tak ada dokter. Pipit pun dilarikan ke rumah sakit Budi Asih, namun sampai di rumah sakit Pipit tidak langsung ditangani secara khusus karena tidak ada pihak keluarga yang mendampingi atau orang yang menjamin. Oleh tenaga medis, lukanya hanya dibalut dengan kassa sehingga darah tetap mengucur. Di saat-saat seperti itu, Pipit hanya bisa pasrah dan melantunkan dzikir karena tidak ada seorang pun yang menemaninya.

“Saat itu saya sudah pasrah, saya hanya bisa melantunkan dzikir sambil memikirkan Ibu Saya. Saya benar-benar merasa bersalah karena belum bisa membuatnya bangga. Selama ini beliau berjuang membesarkan saya, tapi saya belum bisa membalasnya. Selama di Jakarta saya bekerja sambil kuliah. Saya sengaja tidak ngasih tahu orang tua. Saya inginnya besok kalau sudah mau wisuda baru saya kasih tahu umi saya. Tapi, karena kejadian ini saya merasa sedih karena belum bisa membahagiakan orang tua,” ungkap Pipit sembari menitikkan air mata mengisahkan kepahitan hidup yang ia alami saat itu.

“Saat itu saya pasrah, saya hanya bisa melantunkan dzikir sambil memikirkan Ibu.”

Sekitar pukul 01.00 dini hari, salah seorang temannya yang juga ketua kelas di kampus, mendatangi Pipit di rumah sakit. Ia meminta dokter agar segera dilakukan operasi dan menjadikan dirinya sebagai jaminan. Meskipun demikian, proses operasi itu harus menunggu sampai keesokan hari. Dokter juga melarangnya tidur karena terlalu berisiko atas luka yang dialaminya. Sepanjang malam, Pipit harus menahan rasa ngantuk sekaligus sakit yang begitu luar biasa perihnya. 

Malam itu, gejolak kemarahan berkecamuk dalam dirinya. Ia tidak bisa menerima kondisi tubuhnya yang sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ruang geraknya menjadi terbatas, tergolek di tempat tidur menunggu jam operasi.

Keesokan paginya, dalam keadaan menahan ngantuk dan rasa sakit Pipit mendengar suara bayi yang baru lahir dari rahim seorang ibu. Suara itu mengagetkannya dan memberinya inspirasi untuk bangkit dari penderitaannya tersebut. “Mendengar suara bayi tersebut, saya merasa seperti terlahir kembali, saya jadi bersemangat dan siap dengan semua konsekuensi dari operasi itu,” ujar Pipit merenungi kejadian tersebut. Ia mulai ikhlas dan pasrah atas keadaan yang telah dan akan dihadapi. Operasi pun berjalan lancar. Sorenya, ibunya pun datang dan menemani di rumah sakit.

Peserta Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa

Akibat kejadian ini, tulang di pangkal lengan kanannya tak lagi berfungsi normal, meskipun telah dipasang sebuah pen. Pipit harus membiasakan diri beraktivitas dengan menggunakan tangan kiri. Setelah kejadian itu, Pipit mengambil cuti kuliah selama dua semester untuk proses pemulihan. Sampai saat ini ia masih terus berobat dan berencana akan menjalani operasi pemulihan pangkal lengan kanannya.

Kini Pipit bangkit dari keterpurukan dan memilih kembali menjalani hari-harinya dengan semangat. Alih-alih menaruh dendam kepada pelaku pengeboman, Pipit justru memilih memaafkan dan fokus menggapai mimpinya. “Saya tidak ada rasa marah sama sekali terhadap pelaku pengeboman. Saya hanya memikirkan bagaimana dengan keterbatasan saya sekarang, saya bisa terus berjuang menjadi tulang punggung keluarga dan melanjutkan studi saya untuk membanggakan orang tua.” ungkapnya. (LADW)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...