HomeBeritaResolusi PBB Untuk Korban...

Resolusi PBB Untuk Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Eksistensi korban terorisme semakin diakui oleh negara-negara di dunia. Pada 28 Juni 2019 lalu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan sebuah resolusi yang berisi himbauan kepada negara-negara anggota untuk meningkatkan pemberian bantuan secara menyeluruh dan kongkrit terhadap para korban terorisme di seluruh dunia.

Resolusi yang dikenal dengan kode dokumen L.88 itu meminta negara-negara anggota untuk memastikan bantuan dapat diberikan secara layak kepada korban aksi terorisme dan keluarga mereka, baik setelah korban terkena serangan teror maupun untuk pemulihan jangka panjang. Bila diperlukan, negara-negara anggota bisa belajar melalui sharing of best practice dengan pihak atau lembaga yang sudah berpengalaman dalam penanganan korban terorisme.

Selanjutnya, Resolusi L.88 mengimbau agar negara lebih memperhatikan dampak aksi terorisme yang menimpa perempuan dan anak-anak. Dilihat dari dampaknya, korban perempuan dan anak-anak membutuhkan bantuan konsultasi dan rehabilitasi yang lebih besar.

Resolusi L.88 juga meminta adanya penguatan koordinasi antarnegara dalam penanganan korban terorisme. Contohnya, jika ada seorang Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di suatu negara dan menjadi korban terorisme di negara itu, maka negara tempat aksi terorisme itu terjadi perlu berkoordinasi dengan negara asal korban, demi memastikan korban tetap mendapatkan bantuan yang layak ketika dipulangkan ke negaranya.

Negara-negara anggota juga diminta untuk tidak membeda-bedakan dalam memberikan bantuan kepada korban terorisme. Resolusi L.88 memastikan bantuan harus tetap diberikan oleh negara-negara anggota, terlepas apakah pelaku teror masih dalam tahap teridentifikasi, tertangkap, atau telah menerima vonis hukuman. Hal ini untuk mencegah negara-negara anggota yang hanya akan memberikan bantuan kepada korban setelah pelaku terorisme benar-benar dijerat pasal terorisme dan dijatuhi vonis hukuman di persidangan.

Dalam resolusi L.88, juga diakui peran penting dari masyarakat sipil dan sektor privat dalam membantu para korban aksi terorisme. Mereka bisa memberikan bantuan advokasi atas nama korban dan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak terorisme bagi korban, yang mana hal ini diharapkan ikut berdampak pada pencegahan aksi terorisme dan bangkitnya korban dari keterpurukan.

Sebelumnya, PBB juga telah menetapkan tanggal 21 Agustus sebagai hari internasional untuk peringatan dan penghormatan bagi korban terorisme. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyambut baik keputusan penetapan tersebut. “Kita harus mengangkat suara korban dan penyintas aksi terorisme. Ketika kita menghormati hak para korban dan memberi mereka dukungan, kita sudah mengurangi kerusakan yang dilakukan teroris kepada individu, komunitas, dan masyarakat,” ungkapnya. [FAH]

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...