HomePilihan RedaksiIkhlas Atas Musibah Yang...

Ikhlas Atas Musibah Yang Terjadi

Memberikan maaf kepada orang yang pernah berbuat salah adalah sikap yang amat mulia karena hal itu sangat dianjurkan dalam ajaran agama. Namun demikian, memaafkan bukanlah perkara mudah, terutama bagi korban aksi terorisme. Luka dan duka pasti tak akan hilang begitu saja. Sebagaimana dirasakan wanita bernama Wartini, yang kehilangan suaminya, Syahromi karena menjadi korban bom Kuningan tahun 2004 silam.

Meskipun demikian, Wartini memilih ikhlas dan tidak menyimpan dendam terhadap pelakunya. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk berdamai dengan masa lalu. Ia berjuang mengalahkan amarah di dalam dirinya. Kisah inspiratifnya ini ia sampaikan kepada para awak media dalam Short Course Jurnalisme yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) awal Juli 2019 lalu. 

Dengan raut wajah kesedihan sembari sesekali meneteskan air mata yang terpancar jelas dari rona wajahnya, Wartini tetap tegar berbagi kisahnya. Saat itu, kenang Wartini, mendiang suaminya berprofesi sebagai tenaga keamanan di Kedutaan Besar Australia, sementara Wartini berprofesi sebagai penjual makanan angkringan. Dia dan Syahromi selama berkeluarga dikaruniai tiga orang anak. Hidupnya berubah drastis pascaledakan bom karena ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Wartini bercerita, saat kejadian, yakni tanggal 9 September 2004 silam, Syahromi mempunyai firasat tidak enak ketika hendak berangkat kerja. Perasaan cemas dan was-was menghampirinya. Dia sempat berujar kepada sang istri, Tin, aku hari ini mau berangkat kerja kok perasaan malas, sambil memeluk anak keduanya. Namun karena tuntutan pekerjaan akhirnya Syahromi berangkat menunaikan kewajibannya. 

Dampak kerusakan akibat serangan teror bom di Kuningan, Jakarta Selatan, 9 September 2004.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Wartini mendapat informasi dari tetangga bahwa di depan Kedutaan Besar Australia terjadi ledakan bom. Tanpa pikir panjang ia bergegas meninggalkan dagangannya di daerah Cempaka Putih menuju Kuningan, menggunakan ojek dan hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah di sakunya. Bang, saya ingin ke tempat kejadian bom, tapi saya cuma ada uang sepuluh ribu di kantong,” ujar Wartini, memohon pertolongan.

Uang itu tidak cukup untuk biaya transport. Namun karena kebaikan pekerja ojek tersebut, Wartini tetap diantar ke lokasi ledakan. Sesampainya di lokasi, ia bertemu atasan Syahromi dan mendapatkan kabar bahwa suaminya sudah dibawa ke rumah sakit Metropolitan Medical Centre (MMC), Kuningan, Jakarta. Seketika itu, ia menuju ke rumah sakit tersebut dan menemukan suaminya di Lantai 5. Setelah bertemu, Wartini mengajaknya bicara dan menanyakan keadaan sang suami yang masih terlihat sadar.

Namun pria  itu hanya diam dan tidak merespon pembicaraan sang istri. Sampai akhirnya, Syahromi menulis di secarik kertas kalau dia tidak bisa mendengar. Ia pun dirawat dan mendapatkan penangan khusus untuk luka di telinganya. Selama satu minggu pertama pasca kejadian tersebut, Syahromi ditangani oleh dokter Telinga Hidung Tenggorokan (THT). Dari penanganan itulah diketahui bahwa gendang telinganya sudah hancur dan tidak mungkin bisa disembuhkan.

Sang suami tidak menyerah. Setelah keluar dari rumah sakit, ia berusaha berobat jalan dan masih penasaran atas luka yang dialami. Ia memeriksakan lagi penyakit di telinganya ke rumah sakit A. Kasoem. Namun demikian, kabar yang didapat juga serupa, bahwa rumah siput gendang telinganya rusak dan hancur. Akhirnya, ia memilih pasrah dan menerima musibah yang tengah menimpanya. Semenjak kejadian itu, Syahromi juga sering mengalami sakit kepala.   

Selama dua tahun Syahromi harus bolak balik ke Rumah Sakit untuk berobat jalan. Sampai akhirnya pada awal November 2006 sakitnya kambuh lagi dan harus dirawat dua minggu di rumah sakit. Tepat 19 November 2006, Syahromi menghembuskan napas yang terakhir. Padahal saat itu, Wartini tengah mengandung 6 bulan anak ketiga mereka.

Setelah kepergian suami, Wartini harus berjuang menghidupi ketiga anaknya. Berbagai usaha ia lakukan. Termasuk bekerja sebagai tenaga jasa laundry, pembantu rumah tangga hingga berjualan dengan upah hanya dua puluh ribu perhari. Sampai akhirnya Wartini bertemu tim AIDA yang mendampingi, membimbing, membantu, dan menyemangatinya untuk tetap berjuang menafkahi ketiga anaknya sampai saat ini.

“Kita maafkan saja, Allah saja Maha Pemaaf, masa kita sebagai manusia tidak memaafkan,”

Meskipun kehidupan Wartini berubah drastis pasca suaminya meninggal, ia tidak sedikitpun menaruh dendam kepada pelaku. Dia ikhlas akan peristiwa kelam yang tak mungkin bisa ia lupakan itu. Bahkan Wartini terus memberi pemahaman kepada anak-anaknya agar tak perlu memendam dendam dan membenci pelaku. Wartini mengajak anak-anaknya mengikhlaskan kepergian ayahnya sebagai takdir dari Allah. “Kita maafkan saja, Allah saja Maha Pemaaf, masa kita sebagai manusia tidak memaafkan,” ujarnya.

Kisah Wartini dapat menjadi cerminan sifat pemaaf. Ia menunjukkan akhlak yang tinggi agar perdamaian bisa terwujud. Dengan berdamai pada diri sendiri, musibah tidak akan menjadikan seseorang terpuruk. “Saya ikhlas, tidak perlu membalas kekerasan dengan kekerasan, sehingga tidak perlu ada musibah yang baru,” pungkasnya memberi inspirasi kepada para jurnalis itu. [TH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...