HomeBeritaMengarusutamakan Sudut Pandang Korban

Mengarusutamakan Sudut Pandang Korban

Aliansi Indonesia Damai- Pekan pertama Juli 2019, Aliansi Indonesia Damai (AIDA) mengundang 36 awak media massa di Jakarta dalam acara Short Course Penguatan Perspektif Korban Dalam Peliputan Isu Terorisme. Kegiatan dua hari ini dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya mengarusutamakan sudut pandang korban dalam pemberitaan isu terorisme.

Kegiatan menghadirkan sejumlah korban dan mantan pelaku terorisme, serta para ahli di bidang media dan terorisme sebagai narasumber. Para korban berbagi kisah tentang dampak yang mereka alami akibat aksi terorisme.

Seorang korban Bom Kampung Melayu, Susi Afitriyani, mengatakan bahwa minimnya perhatian terhadap korban terorisme menimbulkan derita tambahan selain luka fisik dan trauma akibat serangan teror. Bagi korban seperti dirinya yang selalu berpakaian tertutup, kondisinya yang mengalami luka serius di bagian lengan dan bahu akibat ledakan bom pada Mei 2017 jarang dipahami orang lain. Padahal, kesehatannya menurun drastis dan dia masih membutuhkan perawatan medis untuk kesembuhannya sampai kini.

Susi Afitriyani, Korban Bom Kampung Melayu

Pipit, sapaan akrabnya, juga menjelaskan kepada insan media yang hadir dalam Short Course bahwa meskipun terlihat normal dan sehat, namun terkadang rasa sakit luar biasa di bagian tubuhnya yang terluka masih terasa.

Pernyataan Pipit dibenarkan oleh Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi. “Padahal di saat peristiwa terjadi, dan belum terbukti pelakunya mana saja, saat itu pula kehidupan korban sudah berubah. Anak-anak korban harus ditinggalkan, istrinya tidak ada lagi yang menafkahi, belum lagi korban luka-luka yang merasakan kesakitan secara fisik. Mereka menjerit,” tegasnya.

Korban Bom Thamrin 14 Januari 2016, Dwi Siti Rhomdoni atau yang sering dipanggil Dwiki, mengisahkan pengalaman serupa. Kondisi fisiknya yang terlihat normal membuat orang abai akan sakit yang selama ini ia rasakan. Padahal, pengobatan masih ia jalani hingga saat ini. Ia mengaku bahkan sering mengajukan izin dari tempatnya bekerja untuk melakukan pemeriksaan medis rutin.

Penderitaan lain juga dirasakan oleh Wartini, korban tidak langsung dari serangan teror Bom Kuningan 2004. Suaminya, Syahromi, meninggal dunia dua tahun pascatragedi. Setelah kepergian suaminya, ia harus menjalani beban untuk menjadi tulang punggung keluarganya. Wartini mengungkapkan bahwa menjadi orang tua tunggal dan membesarkan tiga anak bukanlah hal yang mudah.

Dalam sesi tanya jawab bersama korban, salah satu peserta Short Course dari MNC TV bertanya apakah korban tidak keberatan jika diangkat dalam sebuah berita, sebab dikhawatirkan justru akan membuat korban merasa terluka kembali. Menanggapi hal tersebut, Dwiki menerangkan bahwa sebagian korban tidak keberatan apabila pemberitaan tentang korban diangkat, namun tidak dapat dinafikan sebagian yang lain belum kuat untuk diliput media.

Dwiki mengemukakan perspektifnya sebagai korban dalam memandang media. Ia mengaku, beberapa bulan setelah melewati masa kritis pascakejadian bom ia mulai mencoba untuk mencari tahu lebih tentang apa yang sudah diberitakan terkait dengan para korban. “Ketika melihat media lebih mengekspos pelaku, malah agak geram. Kenapa korban malah tidak pernah dimunculkan, padahal ada korban yang belum ter-cover oleh pemerintah,” imbuhnya. Dwiki juga merasa miris mengingat fakta bahwa ada korban yang kemudian meninggal dunia karena belum mendapatkan perhatian dari pemerintah terkait kebutuhan medis akibat bom.

Terkait pemberitaan berperspektif korban, Hasibullah mengatakan bahwa liputan yang mengarusutamakan serta mendukung korban tidak terbatas pada pengungkapan kisah mereka dalam berjuang melampaui penderitaan. Liputan berita berperspektif korban menurutnya adalah yang dapat mendorong pemenuhan hak-hak korban oleh Negara.

Mendengar cerita korban secara langsung mampu membuka perspektif baru bagi media tentang bagaimana dan apa yang sesungguhnya dirasakan dan dibutuhkan oleh korban.

Dalam kegiatan tersebut seorang peserta perwakilan NET mengakui bahwa umumnya pemberitaan media tentang isu terorisme terfokus pada pelaku dan peristiwa. Kesempatan sharing session dan mendengar cerita korban secara langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan AIDA, kata dia, mampu membuka perspektif baru bagi media tentang bagaimana dan apa yang sesungguhnya dirasakan dan dibutuhkan oleh korban.

Hasibullah mengapresiasi pemerintah sebagai kepanjangan tangan Negara yang mulai memberikan hak-hak kepada korban terorisme meskipun belum sepenuhnya. Ia juga  mengatakan, AIDA mendorong insan media meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengarusutamaan sudut pandang korban dalam pemberitaan isu terorisme. Pemberitaan berperspektif korban diyakini mampu mendorong pemenuhan hak-hak korban yang masih terkendala. [WR]

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...