HomeBeritaMenguatkan Perspektif Korban di...

Menguatkan Perspektif Korban di Lingkungan Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Penguatan perspektif korban terorisme kepada petugas pemasyarakatan penting dilakukan agar petugas bisa lebih memahami perspektif korban. Sesungguhnya, menjadi korban terorisme tidaklah mudah, begitu berat penderitaan yang harus ditanggung, termasuk harus rela kehilangan orang yang paling dicintainya. 

Pesan itulah yang disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI, Sri Puguh Budi Utami, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pelatihan Tingkat Lanjut Penguatan Perspektif Korban bagi Petugas Pemasyarakatan: Belajar Dari Pengalaman Dialog WBP Terorisme-Korban di Depok, (4-5 September 2019). Kegiatan yang digelar AIDA tersebut dihadiri oleh 14 perwakilan petugas lapas dan 6 perwakilan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas).

Sejumlah korban hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Jihan Thalib (korban Bom Kampung Melayu 2017), Wenny Anggelina (korban Bom Surabaya 2018) dan Nanda Olivia Daniel (korban Bom Kuningan 2004). Sementara dari unsur mantan pelaku yang hadir antara lain Choirul Ihwan (mantan Warga Binaan Pemasyarakatan-WBP di lapas Porong) dan MSU alias AF  (mantan WBP di lapas Magelang).

Baca juga Dirjen Pemasyarakatan: Sinergi Korban, Pamong, dan Mantan Napiter

Sri Puguh mengatakan, penguatan perspektif korban terorisme kepada petugas pemasyarakatan menjadi penting agar petugas bisa lebih memahami bahwa menjadi korban terorisme tidak mudah. Karena itu, ia mengapresiasi inisitif AIDA menggelar kegiatan. “Tidak mudah menjadi korban, begitu berat penderitaan yang dialami oleh para korban. Oleh karena itu kami berterima kasih kepada teman-teman AIDA karena telah membawa para penyintas dalam kegiatan ini,” katanya.

Lebih Lanjut Sri Puguh menyampaikan bahwa pelajaran dari korban terorisme harus menjadi sebuah rasa yang harus ditransformasikan kepada para wali atau pamong, kemudian menjadi instrumen dalam melakukan pembinaan. Tujuan transformasi tersebut untuk menguatkan kesadaran WBP bahwa ajaran terorisme tidak dibenarkan. Sri Puguh berharap pelatihan ini dapat membuat formula pembinaan melalui sinergitas antara korban dan mantan pelaku.

Salah satu pelajaran berharga dari korban bisa diambil dari kisah Jihan Thalib, korban bom kampung Melayu 2017. Ia menceritakan, setelah terkena bom, ia mengalami luka di bagian tangan kanan, tangan kiri, serta di bagian punggungnya. Jihan dirawat selama seminggu di salah satu rumah sakit di daerah Jatinegara, Jakarta. Prinsip yang ia pegang teguh sampai hari ini adalah tidak akan menaruh dendam kepada pelaku. Karena bagi Jihan, setiap orang diciptakan memiliki kadar keimanan yang naik turun, sehingga ia pasrah terhadap takdir yang harus ia jalani.

Baca juga Keluarga Berperan Penting dalam Menjaga Kedamaian

Selain Jihan, kisah lain disampaikan Wenny, korban bom Surabaya 2018. Ia menceritakan kisah kedua anaknya yang meninggal dunia, termasuk dirinya yang mengalami luka berat akibat peristiwa serangan bom di Kota Pahlawan tahun lalu. Ketika itu, ia dan kedua anaknya hendak memasuki gereja untuk melaksanakan ibadah. Namun sayang, tanpa ia sangka sebelumnya, tiba-tiba dua orang berboncengan mengendarai sepeda motor meledakan diri dan mengenai kedua anak Wenny yang jaraknya cukup dekat. 

Wenny melihat langsung anak pertamanya roboh bersimbah darah. Ia sangat shock dan tak kuasa menerima kenyataan yang ada. “Setelah melihat anak saya, saya merasa separuh jiwa saya hilang,” ungkapnya dengan wajah sedih. Sedangkan anak keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit, tangannya hancur dan mengalami pendarahan hebat. Namun luka di arteri kaki anaknya cukup parah, sang buah hatinya itu, tak bisa tertolong lagi dan akhirnya meninggal dunia. 

Namun demikian, berbagai ujian yang ia hadapi, tak membuatnya terpuruk terus menerus. Dengan ketegaran dan keluasan hati, Wenny mengikhlaskan kedua anaknya. Ia menganggap peristiwa itu sebagai ujian bagi diri dan keluarganya. “Awalnya saya masih ingat wajah pelaku, tapi sekarang saya sudah lupa dan tidak mau mengingatnya lagi, saya sudah menerimanya dengan ikhlas,” katanya sembari menguatkan diri.

Wenny mengungkapkan, suaminya sampai saat ini masih sedih dan trauma. Bahkan sempat tak kuasa untuk melanjutkan hidup karena kenyataan yang ada. Walaupun demikian, ia bertekad meyakinkan sang suami untuk ikhlas dan menerima takdir. Dengan nada yang dikuatkan, Wenny berkata, “Suami saya sampai saat ini masih suka menangis, bahkan pernah berpikir mau bunuh diri.”

Baca juga “Kasih Sayang Orang Tua Mengalahkan Itu Semua”

Choirul Ihwan mengaku menyesal karena pernah bergabung dengan kelompok ekstrem. Ia tak pernah menyangka akibat perbuatan kelompok ekstremis, ratusan bahkan ribuan orang-orang tak bersalah menjadi korbannya dan harus menanggung penderitaan hidup. Pria yang berdomisili di Jawa Timur ini mulai terpapar paham dan gerakan ekstremisme sejak tahun 1999 sampai tahun 2005. Ia bergabung dengan kelompok teror: Jemaah Taliban Melayu (JTM). Ia kerapkali mengafirkan orang lain, bahkan kepada kedua orang tuanya sendiri.

Di dalam kelompok ekstremis tersebut, Choirul belajar dan mampu merakit senjata api yang digunakan untuk melakukan aksi teror. Namun sampai pada suatu titik dimana ibunya meninggal dunia, Choirul belum sempat meminta maaf, ia pun mulai berubah. Secara perlahan ia mulai meninggalkan kelompok teror dan bertaubat untuk kembali hidup di tengah-tengah masyarakat. Saat ini ia bergabung dengan AIDA untuk mengampanyekan perdamaian di Indonesia. 

Berbagai kisah di atas  mengundang decak kagum dan haru di kalangan peserta pelatihan. Salah seorang petugas Lapas dari Jawa Tengah menyampaikan bahwa ia sangat terinspirasi. “Pelatihan ini berhasil menggugah emosi dan kesadaran peserta tentang pentingnya peran mereka nanti di Lapas dalam membangun perdamaian,” katanya memberi kesan. Petugas yang menangani WBP teroris ini menegaskan, “Seperti pesan ibu Dirjen, kita akan menggunakan kisah korban ini untuk menggugah para binaan agar tidak lagi melakukan kekerasan dan tindakan kriminal.” (FKR)

Baca juga Direktur PAS: Sinergi Lapas dan Penyintas untuk Indonesia Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....