HomeBeritaKisah Tim Perdamaian Menginspirasi...

Kisah Tim Perdamaian Menginspirasi Pelajar di Haurgeulis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi di pekan terakhir Agustus 2019, terik matahari mulai terpancar di Kabupaten Indramayu. Namun demikian, cuaca panas tidak menghalangi antusiasme siswa-siswi SMA Muhammadiyah Haurgeulis untuk mengikuti Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut adalah Tim Perdamaian AIDA, yang terdiri atas korban dan mantan pelaku terorisme. Mereka berbagi pengalaman hidup dan semangat ketangguhan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif.

Kepala SMA Muhammadiyah Haurgeulis dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran AIDA. Pihaknya menyambut baik penyelenggaraan kegiatan Dialog Interaktif karena dinilai penting untuk membentengi para siswa dari potensi-potensi kekerasan di lingkungan sekitar.

Usai sesi diskusi kelompok, para menyimak penuturan kisah Tim Perdamaian. Iswanto, seorang mantan anggota kelompok teroris mendapatkan kesempatan pertama. Ia mengawali kisahnya dengan ungkapan bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Dari pengalaman hidupnya yang pernah terjerumus ke lubang kekerasan kemudian berbalik meniti jalan perdamaian, ia berharap para siswa bisa menyerap pelajaran berharga.

Baca juga Belajar Memaafkan dan Mengakui Kesalahan dari Korban dan Mantan Teroris

Berdasarkan pengalamannya, guru dan teman memiliki peran besar untuk menyeretnya ke dalam kelompok radikal Jemaah Islamiyah (JI) pada tahun 1997. Ia masih sangat muda saat menerima doktrin kekerasan dari guru-gurunya, dan belum memikirkan dampak dari berbagai aktivitas yang diikutinya. Di sisi lain, Iswanto mengatakan bahwa guru pula yang mendorongnya untuk keluar dari dunia kekerasan. Pada waktu yang sama ia mulai mengevaluasi doktrin-doktrin yang diajarkan kelompoknya. Di antaranya, ia memahami bahwa konsep jihad tidak terbatas pada perang mengangkat senjata.

“Menuntut ilmu juga menjadi bagian daripada jihad. Pemahaman tentang amar makruf dan kebencian tentang nonmuslim juga pudar, karena mereka juga baik dan tidak mengganggu kita, kenapa kita harus benci,” ujar Iswanto.

Pengalaman Iswanto lalu disambung dengan kisah Hayati Eka Laksmi, salah seorang korban tidak langsung Bom Bali tahun 2002 silam. Suaminya, Imawan Sardjono, menjadi korban meninggal pada kejadian nahas itu. Eka menceritakan bagaimana kondisi hidup memaksanya menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya yang saat itu masih berusia 3,5 dan 2,5 tahun. Cobaan itu ia rasakan sangat berat, terutama bagi anak pertamanya yang selalu diasuh oleh bapaknya.

Saat Eka membawa jenazah suaminya ke rumah, anak-anak menangis dan menolak jenazah tersebut. Anak dengan usia yang masih kecil belum bisa menerima bahwa jenazah yang datang adalah jenazah bapaknya, yang terakhir mereka lihat saat berpamit untuk bekerja seperti biasa.

“Ibu tidak berani menangis di depan anak-anak karena ibu harus menunjukkan bahwa ibu kuat. Ibu tidak ingin kekuatan ibu rapuh.”

Meskipun amat begitu berat untuk menerima keadaan, namun Eka berusaha untuk tidak menangis di hadapan buah hatinya. “Ibu tidak berani menangis di depan anak-anak karena ibu harus menunjukkan bahwa ibu kuat. Ibu tidak ingin kekuatan ibu rapuh,” tuturnya.

Sejumlah siswa tampak menutup sebagian muka saat Eka menceritakan pengalaman hidupnya. Beberapa orang menyapukan hijab ke mata sambil menahan isak tangis.

“Kalo ibu kuat, anak-anak ibu pasti akan kuat. Ibu harus menyelamatkan masa depan anak-anak. Imanlah yang membangkitkan batin kita. Semua adalah atas kehendak Allah, tidak mungkin Allah memberikan ujian di luar batas kemampuan,” ucap Eka yang disambut dengan respons tepuk tangan dari siswa-siswi.

Eka berharap, dia dan keluarganya adalah korban terakhir dari aksi terorisme. “Cukuplah kami yang jadi korban, jangan ada korban yang lain. Kejadian itu tidak akan pernah bisa ibu lupakan, tapi memaafkan lebih baik,” pungkasnya.

Baca juga Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Sejumlah siswa peserta Dialog Interaktif di SMA Muhammadiyah Haurgeulis menyampaikan pembelajaran yang didapat dari kisah Tim Perdamaian. Salah seorang siswa mengaku kagum dengan kisah yang disampaikan korban. “Ibu Eka adalah ibu yang berani menutupi kebenaran demi anaknya, ibu yang hebat, yang menerima meskipun ada sedikit rasa sesal. Mungkin dari sini kita bisa mempelajari bahwa kekerasan bisa diselesaikan dengan perdamaian,” tuturnya.

Seorang siswi lainnya mengaku mendapatkan pelajaran dari kisah mantan pelaku. Ia mengungkapkan bahwa hal terpenting dalam hidup adalah untuk berubah ke arah lebih baik dan jujur untuk mengakui kesalahan. Ucapan ini dibenarkan oleh Hasibullah bahwa setiap manusia harus terus berubah menjadi pribadi yang lebih baik. “Tidak hanya cukup kita bercerita tentang dosa karena semua orang adalah pendosa. Yang paling penting adalah bagaimana memperbaiki dosanya. Tidak cukup kita sadar banyak dosa, tapi harus sadar memperbaiki dosa tersebut. Dan sebaik-baiknya pendosa adalah mereka yang memperbaiki dosanya. Jangan pernah membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan,” kata dia.

Di akhir acara Dialog Interaktif, Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, memberikan penguatan. Ia mengatakan, kisah Eka adalah gambaran perjuangan orang tua terhadap anaknya. “Perjuangan itu tidak pernah kita lihat sebagaimana yang sebetulnya. Sadari perjuangan orang tua kalian. Tunjukkan bakti dan penghormatan kepada orang tua karena itu adalah inti yang diperjuangkan orang tua kalian,” ucapnya. [WTR]

Baca juga “Karena Kebencian Tak Mungkin Terus Dipelihara”

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...