Home Berita Optimalkan Potensi Diri, Tumbuhkan Ketangguhan
Berita - Pilihan Redaksi - 2 weeks ago

Optimalkan Potensi Diri, Tumbuhkan Ketangguhan

Kita bisa pergunakan berbagai kesempatan dan berbagai potensi yang ada dalam diri untuk menjadi generasi tangguh”.

Aliansi Indonesia Damai- Hal itulah yang diungkapkan Kasi Pengembangan Bakat dan Prestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Asep Sukmayadi, dalam Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Indramayu, Jumat (30/8). Dalam kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Kemendikbud tersebut, ia memotivasi para pelajar agar menumbuhkan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ia menjelaskan bahwa salah satu pemenang dalam lomba ekonomi tingkat internasional adalah siswa yang berasal dari madrasah. Karena itu, ia meminta agar pelajar madrasah tidak minder dengan pelajar dari sekolah umum. Menurutnya, apa pun latar belakang sekolahnya, setiap siswa bisa mengoptimalkan kemampuannya untuk meraih prestasi. “SMA dan MAN itu sama, tidak ada yang membedakan, dan semuanya bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut dihadirkan narasumber Tim Perdamaian AIDA, yang terdiri dari korban dan mantan pelaku terorisme. Iswanto, salah seorang yang pernah terlibat dalam kelompok ekstrem, berbagi kisah kepada 50 siswa peserta Dialog Interaktif. Dahulu ia didoktrin oleh kelompok teroris bahwa makna jihad adalah perang. Karena itu ia terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan sebagai bentuk pembelaan terhadap agama. Namun, saat ini ia telah sadar bahwa pemahaman seperti itu tidak benar.

Asep Sukmayadi, Kasi Pengembangan Bakat dan Prestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, memberikan pengantar dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di MAN 1 Indramayu.

Menurutnya, beberapa alasan yang membuatnya sadar adalah karena pemahamannya terhadap ajaran agama yang semakin matang, termasuk kesadarannya bahwa makna jihad sangat luas, tidak hanya sebatas perang. Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, kata dia, juga bagian dari jihad. Pada waktu yang hampir bersamaan, ia dianjurkan oleh gurunya untuk menghentikan segala aktivitas di dunia kekerasan.

Ia juga semakin yakin akan kekeliruan doktrin kelompok lamanya setelah dipertemukan dengan korban terorisme. Bekas luka di tubuh korban serta rasa sakit yang masih diderita oleh korban membuatnya sadar akan bahayanya dampak terorisme. Ia pun meminta maaf kepada para korban, dan mengajak generasi muda agar menjauhi paham keagamaan yang mengajarkan kekerasan.

Narasumber lain dalam acara itu adalah Sutarno, salah seorang korban Bom Kuningan 2004.

Ia seorang karyawan swasta yang hanya sekadar lewat di pinggir jalan saat peristiwa terjadi. Ledakan bom sangat besar mengguncang kawasan Kuningan, Jakarta Selatan menyebabkan kaca di gedung-gedung tinggi pecah berantakan. Sutarno merasakan pecahan kaca dari gedung-gedung menghujaninya. Banyak serpihan kaca menancap di punggungnya sehingga harus menjalani perawatan yang cukup lama. “Saya tersungkur ke tanah karena kena pecahan kaca dan sebagainya. Saya dilarikan ke UGD dan ketika sampai di UGD kaca yang tertancap belum juga tercabut,” ujarnya.

Baca juga Kisah Tim Perdamaian Menginspirasi Pelajar di Haurgeulis

Di balik serangan tersebut, Sutarno mengaku mendapatkan banyak pelajaran untuk bisa memaafkan. “Manusia itu punya kekhilafan. Allah saja memaafkan masa manusia tidak,” tegasnya. Sutarno berharap agar generasi muda bisa mempelajari ilmu agama secara lebih mendalam, agar esensi ajaran agama tentang perdamaian bisa dipahami dengan baik. “Junjunglah perdamaian. Dengan perdamaian kita bisa melakukan kegiatan dengan damai. Harus selalu memaafkan, karena memaafkan lebih mulia daripada meminta maaf,” paparnya disambut tepuk tangan peserta.

Seorang peserta mengaku mendapatkan pelajaran berharga setelah mengikuti Dialog Interaktif. Ia mengaku terinspirasi akan ketangguhan Tim Perdamaian, baik Sutarno maupun Iswanto. Dari wawasan yang didapatkannya, ia mengajak rekan-rekannya sesama pelajar MAN 1 Indramayu agar semakin bersemangat dalam menuntut ilmu. “Niatkan bahwa berangkat sekolah termasuk jihad,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi inspirasi kalangan generasi muda untuk meningkatkan ketangguhan serta lebih peduli terhadap perdamaian. Melalui pengalaman mantan pelaku terorisme serta korbannya generasi muda bisa mengambil pembelajaran tentang makna ketangguhan, yakni mereka yang tak berputus asa melainkan malah bangkit dari musibah yang menimpa, dan mereka yang memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalunya dengan karya-karya yang positif. [NOV]

Baca juga Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *