HomeOpiniIstikamah dalam Perdamaian: Support...

Istikamah dalam Perdamaian:
Support System untuk Mendukung Pertobatan Mantan Pelaku

Oleh Faruq Arjuna Hendroy
Alumni IMM Komisariat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

“Tidak ada orang baik yang tidak mempunyai masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak mempunyai masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik.”

Demikian sepenggal kalimat yang diutarakan oleh Ali Fauzi, mantan pelaku terorisme yang pernah bergabung ke dalam kelompok ekstrem paling terkenal di Indonesia, Jamaah Islamiyah (JI). Ucapan Ali Fauzi sedikit banyak menggambarkan perjalanan hidupnya dan rekan-rekannya. Meskipun telah berulang kali melakukan aksi teror, bukan berarti hidup mereka akan menjadi penjahat selamanya. Ada satu titik di mana para pelaku menyadari kesalahannya.

Baca juga Ekstremisme Berlawanan dengan Fitrah Manusia: Refleksi Mantan Pelaku

Dari pengakuan mantan pelaku, ada sejumlah faktor pendorong yang membuat mereka bertobat. Mukhtar Khairi, misalnya. Ia bertobat setelah merenungi perbuatan mantan kelompoknya. Setelah dipikir-pikir, kelompoknya terlibat dalam aksi-aksi kekerasan yang justru bertentangan dengan Islam. Sampai ia berpikir, ‘apa benar Islam mengajarkan hal itu?’

Cerita berbeda dialami oleh Kurnia Widodo, mantan pelaku yang pernah bergabung dengan jaringan teroris Cibiru. Kiprah Kurnia dalam jaringan teror cukup berbahaya. Sarjana Teknik Kimia salah satu perguruan tinggi ternama ini memiliki kemampuan meracik bom. Pertobatan Kurnia terjadi di penjara, ketika ia mulai mencerna pemikiran kelompok teror yang lebih “moderat” dan bergaul dengan para sipir.

Baca juga Pendidikan untuk Perdamaian

Sedangkan Ali Fauzi, Sumarno, dan Iswanto bertobat karena nasehat mantan pentolan JI, Ali Imron. Mereka memang berasal dari lingkungan yang sama. Setelah menyadari bahwa tragedi Bom Bali 2002 adalah sebuah kekeliruan, Ali Imron berpesan kepada saudara dan muridnya itu agar menghentikan kekerasan. Tragedi Bom Bali telah menimbulkan banyak korban, bahkan di kalangan muslim sendiri.

Dari sekian faktor pendorong itu, ada satu faktor yang meneguhkan pertobatan semua mantan pelaku, yaitu pertemuan dengan para korban. Setelah melihat kondisi korban dan mendengar kisah mereka, para mantan pelaku itu tergugah hatinya. Mereka tidak pernah menyangka, bahwa aksi yang selama ini mereka bangga-banggakan, ternyata menimbulkan penderitaan yang teramat dahsyat bagi korban. Mereka memutuskan untuk berhenti melakukan aksi kekerasan, agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Ada sejumlah tahapan dalam pertobatan. Dimulai dengan mengakui kesalahan, lalu berani meminta maaf, dan yang paling penting, berjanji tak akan mengulangi kesalahan itu kembali. Tahapan terakhir dalam pertobatan ini membutuhkan komitmen yang sangat besar. Begitu banyak godaan yang dapat kembali menjerumuskan jika tidak teguh pendirian. Terkadang godaan itu tidak datang dari diri sendiri, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh orang lain. Dalam kasus pertobatan mantan pelaku, bujuk rayu datang dari anggota kelompok ekstrem yang masih aktif.

Ali Fauzi pernah mengalami hal ini. Ia bercerita, bahwa kakaknya yang merupakan terpidana mati Bom Bali 2002, Ali Ghufron alias Mukhlas, merekomendasikan dirinya kepada sejumlah anggota aktif teroris untuk mengajari mereka membuat bom, mengingat Ali Fauzi dulunya pernah berperan sebagai kepala instruktur perakitan bom. Namun, Ali Fauzi sudah bertobat saat itu. Ia tetap dibujuk untuk kembali aktif dalam jaringan teror. Setiap kali menolak, maka didatangkan anggota lain untuk membujuknya kembali.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Tak jarang anggota kelompok teror yang masih aktif itu mengajak dengan intimidasi. Mereka mengancam akan membunuh anggota yang sudah keluar, dengan maksud ancaman itu akan membuat mantan pelaku memertimbangkan kembali ke jaringan. Pada dasarnya, kelompok ekstrem mudah mengkafirkan siapa pun yang keluar dari kelompok mereka. Namun mereka bersedia menerima kembali anggota yang sudah keluar selama ia mau bersyahadat dan berbaiat ulang.

Oleh karena itulah, mantan pelaku membutuhkan support system agar mereka istikamah dengan perdamaian. Mantan pelaku mesti dijauhkan dari circle kekerasan dan kebencian, agar benih-benih terorisme yang telah mereka hancurkan tidak bersemi kembali. Di sini diperlukan peran keluarga maupun masyarakat untuk merangkul mantan pelaku ini.

Baca juga Refleksi Akhir Tahun Korban, Pelaku Terorisme, dan Nurani Kita

Jangan sampai mantan pelaku menerima stigma. Stigma justru rentan mendorong mereka untuk kembali ke mantan kelompoknya. Jika mantan pelaku merasa tidak diterima di lingkungannya dan bahkan dikucilkan, maka mereka akan mencari ‘tempat yang nyaman’ di kelompoknya yang lama.

Lingkungan yang baik akan membantu proses transformasi mantan pelaku menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah yang dialami oleh Iswanto misalnya. Pasca-bertobat, masyarakat memang tidak serta merta menerima Iswanto begitu saja, karena rekam jejaknya yang pernah terlibat dalam aksi-aksi kekerasan.

Baca juga Distorsi Kaidah Ulil Amri: Upaya Memahami dan Menyikapi Kepemimpinan secara Utuh

Meskipun begitu, masyarakat sekitar lambat laun menerima keberadaan Iswanto dan mengizinkannya terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Iswanto mulai mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Ia tidak perlu koar-koar mengutarakan dirinya sudah bertobat, tapi ia tunjukkan dengan sikapnya. Semua itu direspons secara positif oleh masyarakat. Transisi Iswanto menjadi pribadi yang damai berjalan dengan baik. Iswanto semakin berkomitmen untuk meniti jalan perdamaian.

Pada akhirnya, pribadi seseorang tergantung bagaimana lingkungannya. Ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Baca juga Pemerintahan Ideal Menurut Islam

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...