HomeBeritaDialog Siswa SMAN 16...

Dialog Siswa SMAN 16 Bandar Lampung dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- Bekerja sama dengan SMAN 16 Bandar Lampung, AIDA menggelar “Dialog Interaktif Virtual: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” pada Senin (24/01/2022). Acara yang diikuti oleh 44 siswa ini dihadiri oleh penyintas terorisme dan mantan anggota kelompok ekstremisme kekerasan.

Iswanto, mantan aktivis kelompok ekstrem, memaparkan kisahnya sejak awal bergabung dalam jaringan kekerasan hingga kemudian bertobat dan memilih jalan perdamaian. Usai paparannya, sejumlah peserta melontarkan pertanyaan. Salah satu siswa menanyakan tanggapan Iswanto atas aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok teror.

Baca juga Penyintas dan Mantan Ekstremis di Mata Pelajar Lampung

“Tanggapan saya secara pribadi sangat mengecam dan tidak suka terhadap aksi-aksi yang sudah dilakukan,” ujar Iswanto. Lebih lanjut ia berharap tidak akan ada lagi aksi terorisme.

Ia juga berpesan agar para pelajar lebih berhati-hati jika menjumpai teman yang terindikasi bergabung dengan kelompok ekstrem. Menurut dia, alih-alih menjauhi, lebih baik untuk mengajak mereka berdiskusi.

Baca juga Memupuk Karakter Damai

“Kalau mereka menolak, acara ini (Dialog Interaktif: red) bisa menjadi bahan untuk diceritakan. Bagaimana dampak yang ditimbulkan kalau sampai pengeboman itu terjadi, bagaimana nasib korbannya. Mudah-mudahan cerita tersebut bisa menyadarkan mereka,” katanya.

Peserta lain bertanya tentang niat awal Iswanto bergabung dengan kelompok ekstrem serta alasan yang mampu mendorongnya keluar dari kelompok tersebut.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bandar Lampung (Bag. 1)

Iswanto mengaku bahwa ketertarikannya bermula ketika mengikuti pengajian, ditambah beberapa seniornya yang telah bergabung dengan kelompok tersebut. Saat itu ia merasa bahwa ajaran dan amalan kelompok tersebut bisa membawanya masuk surga.

“Tujuannya banyak, salah satunya untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Namun, akhirnya saya sadar bahwa cara yang dilakukan salah,” tuturnya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bandar Lampung (Bag. 2)

Kesadaran Iswanto pertama kali muncul ketika terjadi serangan bom, di mana korbannya yang berjatuhan justru didominasi oleh mereka yang tidak bersalah. Kesadaran tersebut semakin menguat ketika berkesempatan bertemu dengan korban bom. Ia mengaku terharu dan sedih melihat penderitaan orang-orang yang tidak tahu secuil pun perkara yang dipersoalkan oleh para pelaku pengeboman.

Ia pun berpesan kepada para peserta untuk senantiasa berhati-hati terhadap kelompok yang mengarah pada tindakan-tindakan kekerasan. “Perlu diketahui bahwa kelompok ekstrem memiliki beberapa kekecewaan terhadap pemerintahan Indonesia yang dilampiaskan dengan cara yang tidak benar sehingga menimbulkan korban. Ini harus dihindari,” katanya memungkasi. [WTR]

Baca juga Membangun Perdamaian bersama Generasi Muda

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...