HomeBeritaPelaku Teror London Bridge...

Pelaku Teror London Bridge yang Tewaskan 2 Korban pernah Direhabilitasi

Aliansi Indonesia Damai – Serangan di kawasan London Bridge pada akhir minggu lalu, tepatnya di Aula Fishmongers, dilakukan seorang residivis bernama Usman Khan (28). Teror itu dilakukan ketika menghadiri konferensi untuk rehabilitasi pelaku (offender rehabilitation conference) bertajuk Learning Together pada Jumat (29/11). Serangan ini mengakibatkan lima orang menjadi korban, dua di antaranya meninggal dunia.

Korban meninggal, Jack Meritt (25) dan Saskia Jones (23) adalah partisipan konferensi tersebut. Meritt merupakan koordinator program Learning Together yang diadakan Universitas Cambridge, sedangkan Jones adalah seorang relawan yang sedang mengikuti kegiatan tersebut. Meritt dan Jones meninggal akibat luka tusuk di dada. Sedangkan tiga korban lainnya juga menderita luka tusuk dan selamat setelah dilarikan ke rumah sakit.

Baca juga Kongres Internasional Korban Terorisme: Mayoritas Korban Muslim

Tragedi mengerikan ini bermula ketika Khan mengancam akan meledakkan diri dengan rompi bom yang ternyata palsu. Dia kemudian mulai menyerang orang-orang di aula menggunakan dua pisau yang dilekatkan di kedua pergelangan tangannya. Beberapa orang berupaya melawan dan mengejar hingga London Bridge. Di sini Khan akhirnya ditembak mati polisi.

Serangan di kawasan London Bridge bukanlah yang pertama terjadi. Sebelumnya, serangan terorisme menggunakan kendaraan yang diiringi penusukan terjadi pada 3 Juni 2017 yang menyebabkan delapan korban meninggal dan puluhan lain mengalami luka-luka. Tidak lama setelahnya, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) melalui media daringnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan serangan tersebut.

Baca juga Malam Kebersamaan Tim Perdamaian

Serangan kali ini bukan yang pertama dilakukan pelaku. Khan merupakan residivis yang baru dibebaskan dengan izin pada Desember 2018. Dia ditangkap pada tahun 2010 bersama kelompoknya karena tuduhan perencanaan pengeboman terhadap London Stock Exchange yang terinspirasi dari Al-Qaeda serta terlibat dalam pembangunan kamp pelatihan teroris di Pakistan.

Khan kemudian dinyatakan bersalah atas kasus terorisme pada tahun 2012 dengan masa hukuman yang tidak ditentukan. Artinya, dia akan tetap ditahan selama dianggap membahayakan publik.

Baca juga Serangan 9/11 Menyisakan Penyakit Kanker Bagi Korban

Atas putusan itu Khan mengajukan banding pada tahun 2013 yang membuat masa hukumannya menjadi 16 tahun dan memungkin dibebaskan setelah menjalani hukuman selama 8 tahun. Dia kemudian dinyatakan bebas bersyarat dengan pengawasan dari Penjara Belmarsh pada akhir tahun 2018 setelah dinyatakan sudah tidak berbahaya.

Selama masa tahanannya, Khan menyelesaikan Health Identity Intervention Programme (Program Intervensi Identitas Sehat) yang dijadikan skema rehabilitasi utama oleh Inggris bagi para terpidana terorisme. Menurut berita yang dilansir BBC, dia bahkan turut berpartisipasi dalam Desistance and Disengagement Programme yang dirancang sebagai upaya mengatasi akar penyebab terorisme. Kisah Khan juga dianggap oleh Universitas Cambridge sebagai kisah rehabilitasi yang sukses. [WTR]

Baca juga PBB Peringati Hari Korban Terorisme Internasional

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...