HomeBeritaGema Damai Pelajar Pandeglang

Gema Damai Pelajar Pandeglang

Sebagai ikhtiar membangun perdamaian di kalangan pelajar, AIDA menggelar safari perdamaian di Kabupaten Pandeglang, Banten, beberapa waktu silam. Selama sepekan, AIDA mengunjungi lima sekolah yaitu SMKN 6 Pandeglang, SMK Dwi Putra Bangsa, SMA Mathlaul Anwar, SMK Karya Wisata, dan SMAN 1 Pandeglang.

Melalui kegiatan dialog interaktif bertajuk “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh,” AIDA mengajak para siswa lima sekolah di atas untuk mengambil pelajaran dari kisah korban terorisme dan mantan pelaku ekstremisme. Korban adalah saksi hidup yang menunjukkan dampak kerusakan aksi terorisme, sementara pelaku adalah cermin nyata ideologi terorisme.

Baca juga Berbagi Kisah Inspiratif di SMAN 3 Serang

Hayati Eka Laksmi, salah satu korban terorisme yang dihadirkan dalam safari perdamaian tersebut, menuturkan pengalaman pahitnya akibat kehilangan suami yang meninggal dunia dalam peristiwa Bom Bali 2002. Sejak saat itu ia harus memainkan peran sebagai orang tua tunggal bagi kedua buah hatinya yang masih balita.

Selain harus menyembuhkan luka psikis dirinya sendiri, Eka, demikian sapaan akrabnya, juga harus memastikan kedua anaknya dapat bertumbuh kembang secara baik. Berbekal keikhlasan menerima takdir Allah Swt dan optimisme menjemput masa depan, Eka telah berhasil melalui episode hidup yang berat itu.

Baca juga Pesan Damai Guru Tasikmalaya

Sementara di sisi lain, Iswanto, mantan pelaku ekstremisme kekerasan, membagikan kisahnya terlibat dalam kelompok ekstrem sejak duduk di bangku sekolah menengah. Ia lantas terlibat aktif dalam konflik komunal di Poso dan Ambon, sebelum akhirnya secara total meninggalkan kelompoknya yang lama menuju jalan perdamaian. Dari pengalaman tersebut, Iswanto berpesan kepada para peserta untuk pandai memilih teman dan guru agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif.

Merespons kisah Iswanto, salah seorang siswa SMK Dwi Putra Bangsa mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendapatkan ajaran yang menjurus pada ekstremisme. Namun ia berinisiatif untuk bertanya kepada salah seorang guru. Melalui dialog tersebut pikirannya lebih terbuka. “Kuncinya adalah harus belajar lebih maju, berpikir lebih maju, dan mencari pengetahuan yang lebih luas lagi agar kita tidak sesat,” ujarnya.

Baca juga Membekali Pelajar Malang dengan Semangat Damai

Hal senada juga diungkapkan oleh seorang peserta kegiatan di SMKN 6 Pandeglang. Ia mengatakan agar para pelajar tidak mencontoh sosok Iswanto yang dahulu, sebaliknya meneladani Iswanto yang sekarang. “Kita harus taat kepada orang tua, guru, dan mencintai negara kita. Kita harus menghargai perbedaan, dan jangan mudah terpengaruh hal-hal yang mengarah kepada aksi kekerasan. Juga kita harus bisa memilah mana yang baik dan tidak baik, agar menjadi manusia yang lebih baik lagi,” pesannya.

Sementara siswa peserta kegiatan di SMA Mathlaul Anwar menyampaikan pembelajaran yang didapatkannya dari kisah Eka. Menurut dia kesabaran adalah kunci sukses menghadapi musibah, sedangkan dendam adalah hal yang sangat merugikan. “Kita harus bisa memaafkan orang yang telah menyakiti kita dan tidak boleh mendendam,” ucapnya.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Tasikmalaya

Dalam kesempatan itu, Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menyampaikan pandangannya bahwa ketangguhan tidak ditunjukkan secara fisik maupun materi. Sosok yang tangguh adalah yang gagah berani menyadari dan mengakui kesalahan, serta memerbaikinya. Tangguh bukanlah orang yang tidak pernah terpuruk, tapi tangguh adalah orang yang pernah jatuh tapi kemudian bangkit menjalani hidup yang lebih baik.

Ia berharap para peserta mampu menyerap dan mengaplikasikan pembelajaran yang mereka dapatkan dari kegiatan tersebut. Sehingga di masa yang akan datang mampu turut menjaga perdamaian dunia. [FL]

Baca juga Berdamai dengan Masa Lalu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....