HomeInspirasiAspirasi DamaiTradisi Dialog dan Perdamaian

Tradisi Dialog dan Perdamaian

Dialog berperan penting menjaga dinamika sosial, terutama untuk mencari jalan tengah seadil mungkin agar tidak ada pihak yang dirugikan. Perdamaian yang diimpikan akan terwujud bila kita mentradisikan dialog. Alih-alih kepada mereka yang belum tentu bersalah, dengan orang yang sudah divonis bersalah sekali pun dialog harus tetap dilakukan.

Dialog wajib diprioritaskan sebelum menentukan sikap. Hal itu penting agar setiap individu yang terlibat dalam persoalan dapat saling memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Menurut sejumlah pakar komunikasi, kehendak untuk memahami dan dipahami adalah bersifat imanen, artinya menyatu secara batin, baik dengan manusia ataupun dengan isi komunikasinya.

Baca juga Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin

Dialog harus dilakukan dalam rangka mencari titik temu di antara perbedaan yang ada. Motif ini untuk menghindarkan terjadinya depolitisasi, di mana dialog dialihfungsikan dari musyawarah yang rasional menjadi perdebatan untuk memenangkan kepentingan kelompok elit. Depolitisasi bisa terjadi di ruangan publik mana pun, baik di ruang politik praktis, ruang ekonomi, bahkan ruang agama yang bersifat sosial (muamalah).

Dalam kelompok islamis –yang kerap dilabeli sebagai golongan antidialog— sekali pun sebenarnya banyak terjadi dialog rasional mengenai pelbagai topik, dari urusan tingkat RT hingga negara. Dialog itu masih berada dalam koridor akal sehat yang menghargai perbedaan. Namun ruang dialog itu kerap disalahgunakan oleh kepentingan tertentu atau depolitisasi. Segelintir orang memanfaatkan ruang tersebut untuk kepentingan di luar tujuan dari niat perjuangan murni. Dari situlah terjadi ekstremisasi.

Baca juga Membangun Ketahanan Keluarga: Belajar dari Bom Surabaya

Hal ini tergambar dari kisah Ali Fauzi Manzi, mantan pelaku terorisme yang telah insaf. Eks anggota Jamaah Islamiyah tersebut puluhan tahun berkecimpung dalam kelompok ekstrem. Ia seorang ahli bom yang pernah menjadi instruktur pelatihan militer di Mindanao, Filipina. Pada dasarnya ia meyakini bahwa perjuangan sebagian kalangan bertujuan menciptakan perdamaian, agar umat Islam bisa sejahtera dan maju.

Misi itu diakuinya sebagai salah satu faktor yang mendorongnya bergabung dengan kelompok ekstrem. Apalagi isu yang kerap diangkat adalah penderitaan umat Islam di beberapa negara muslim seperti Palestina dan Bosnia. Namun perjuangan tersebut dilakukan dengan cara yang tidak tepat, sementara Ali Fauzi tidak bisa membantah perintah pemimpin.

Baca juga Fathu Makkah dan Spirit Perdamaian

Hal tersebut terjadi karena struktur dalam tubuh kelompok ekstrem berwatak feodalistik, terlebih ada justifikasi agama yang tidak bisa ditolak, yaitu taat kepada pemimpin. Ruang sosial yang seharusnya bisa didiskusikan berubah menjadi ruang dominasi satu pihak.

Kisah lain juga dialami oleh Iswanto. Salah satu gurunya adalah Ali Imron, terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002. Setelah diperintahkan untuk berhenti melakukan tindakan-tindakan kekerasan oleh Ali Imron, Iswanto patuh dan memutuskan keluar dari kelompok lamanya. Padahal dulu Ali Imron yang mendorongnya bergabung dengan kelompok ekstrem.

Baca juga Belajar Perdamaian dari Islandia

Faktor lain yang membuat Iswanto insaf adalah pendidikan dan cerita penderitaan korban terorisme. “Inspirasi saya keluar dari jaringan ini, saya sekolah lagi. Kemudian juga AIDA dan komunitas korban bom, saya banyak merenung ketika mereka (korban bom) menunjukkan video bagaimana mereka bangkit, padahal di antara mereka ada yang kehilangan kedua kakinya, ada yang kehilangan matanya,” tuturnya dalam kegiatan bersama AIDA.

Dalam pendidikan yang mengedepankan nalar kritis, argumen dan pemikiran kita diuji. Dalam situasi ini feodalisme tertolak. Sementara kisah korban membangkitkan empati kemanusiaan Iswanto. Dari proses tersebut ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya dahulu tidak dibenarkan oleh agama. Masyarakat umum menjadi korban sehingga harus menderita, baik secara materiel maupun imateriel. Sementara agama melarang keras umatnya menimbulkan kerusakan.

Baca juga Tangguh Melawan COVID-19

Hal ini relevan dengan banyak penelitian ahli terorisme, bahwa sebagian besar mantan pelaku ekstrem mengalami perubahan karena faktor self correction atau self deradicalization. Perubahan tersebut meliputi dialog, baik bersifat verbal ataupun behavioral. Dialog tersebut menghasilkan disonansi kognitif yang mendorong orang berpikir ulang terhadap sesuatu yang sebelumnya mereka anggap negatif.

Pada dasarnya Islam juga menekankan pentingnya dialog. “Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan tutur kata yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl: 125).

Namun yang luput dari kelompok islamis ekstrem adalah pada level praktis. Mereka memerjuangkan niat mulianya dengan cara yang salah. Walhasil menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat luas. Bagaimana pun mendahulukan perdamaian harus lebih diutamakan daripada harus mengorbankan nyawa satu orang tak bersalah.

Baca juga Solidaritas di Tengah Pandemi: Belajar dari Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...