HomePilihan RedaksiPenderitaan Ganda Korban Terorisme

Penderitaan Ganda Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Rangkaian serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya tahun 2018 silam nyaris mustahil dilupakan oleh para korban. Beruntung di tengah ujian itu, masih banyak pihak yang dengan ikhlas mendampingi korban menjalani masa-masa sulit. Dukungan moril  sangat membantu pemulihan korban, setidaknya hal itu yang dialami Wenny Angelina.

Saat itu Wenny bersama dua putra dan seorang keponakannya hendak beribadah dan diantar oleh keluarganya ke gereja. Sesampainya di lokasi, seseorang mengendarai sepeda motor dengan kencang menerobos masuk ke halaman gereja. Selang beberapa detik, ledakan pun terjadi. Wenny tidak bisa mendengar apa-apa dan terjatuh tak berdaya.

Baca juga Korban Bom Kuningan Merasa Beruntung Saat Buntung

Wenny harus menerima kenyataan pahit lantaran dia ternyata mengalami luka fisik yang cukup serius. Penderitaannya menjadi dua kali lebih berat karena kedua puteranya meninggal dunia. Sebelum Wenny tahu bahwa kedua putranya telah menghadap Tuhan, ia harus dibohongi oleh keluarga dan petugas medis.

Hal tersebut dilakukan lantaran Wenny masih dalam tahap pengobatan luka yang cukup parah. Wenny butuh istirahat yang cukup untuk proses penyembuhan, termasuk ketenangan pikiran. Dalam pilu ia ingin sekali melihat kondisi anak-anaknya sebelum harus menjalani operasi di perut dan torax.

Baca juga Memahami Rencana Tuhan

Setelah mengetahui bahwa kedua putranya telah tiada, Wenny mengaku sangat marah terhadap pelakunya. “Saya jengkel dengan pelaku. Kok enak banget si pelaku mengambil orang yang tidak bersalah,” tutur Wenny mengenang ucapannya kepada salah seorang Romo di gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya.

Trauma juga masih menderanya ketika menjumpai sepeda motor yang melintas kencang di jalan. Namun ia mengaku sudah tidak trauma untuk datang ke gereja yang sama.

Baca juga Meluaskan Jiwa Merangkul Luka

Setelah beberapa bulan berlalu, Wenny merasa tidak boleh memiliki dendam, karena sesungguhnya pelaku tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ia pun percaya bahwa pelaku akan mendapatkan hukuman tersendiri.  Wenny bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup, tidak ada gunanya memupuk dendam.

Ia mengatakan, ikhlas atas kehilangan adalah pembelajaran untuk memupuk perdamaian ke depan. Karena kehilangan adalah hal terberat untuk dihadapi, apalagi kehilangan kedua buah hatinya, maka Wenny berharap apa yang terjadi bisa membuat sesama manusia tidak memiliki rasa dendam dan saling memaafkan. Bagi Wenny, Tuhan selalu mengajarkan untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Baca juga Refleksi 2 Tahun ‘Peristiwa Iman’ 13 Mei 2018

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai – Masih melekat dalam ingatan para korban suara...

Anakku Penguatku

Aliansi Indonesia Damai – “Saya langsung menyalakan televisi dan muncul berita...

Dampak Berlipat Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Anggun Kartikasari mencoba mengingat kembali peristiwa pilu yang...

Berbagi Cerita Melawan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- “Saya belum siap untuk menceritakan pengalaman pilu serangan...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....