HomePilihan RedaksiPemaafan dalam Keimanan

Pemaafan dalam Keimanan

Aliansi Indonesia Damai- “Kasihilah sesama manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” Pernyataan ini disampaikan oleh Albert Christiono Simatupang, penyintas Bom Kuningan 2004, dalam salah satu kegiatan kampanye perdamaian bersama AIDA beberapa waktu lampau. Akibat pengeboman di depan kantor Kedubes Australia di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, 16 tahun silam, Albert mengalami luka parah hingga memicu trauma fisik berkepanjangan. Bahkan pada tahun 2016, ia harus kembali menjalani operasi di bagian kepala.

Abe, demikian Albert biasa disapa, memang pernah marah kepada pelaku pengeboman. Namun itu perasaan sejenak. Ia lantas enggan memikirkan siapa pelakunya, bahkan memilih ikhlas menerima kejadian tersebut dan memberikan maaf sebesar-besarnya kepada pelaku. Baginya, setiap manusia yang beriman harus memiliki rasa kasih kepada sesama untuk menjadi pribadi yang lebih baik. “Jika kita mampu mengasihi orang lain dan bisa memaafkan, maka kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Baca juga Determinasi Diri Penyintas Bom Kuningan

Pagi menjelang siang pada 9 September 2004, Abe sedang menumpang bus Kopaja untuk keperluan membantu bisnis orang tuanya. Ketika bus melintas di depan gedung Plaza 89 Jalan HR Rasuna Said Kuningan, terdengar ledakan yang sangat kencang. Sekelebat suasana berubah kacau. Orang-orang berlarian, diiringi suara jeritan minta tolong.

“Saya sendiri merasakan sakit di kepala. Saya pegang ada darah yang bercucuran. Saya lihat baju saya sudah bercucuran darah, akhirnya saya menyelamatkan diri,” ucap Abe mengenang.

Baca juga Setiap Ujian Pasti Ada Jalan Keluar

Dari hasil pemeriksaan medis, dokter menemukan sebuah logam berupa gotri menancap di tempurung kepalanya. Bentuknya pipih dengan panjang sekitar 5 sentimeter. Logam tersebut harus diambil karena akan sangat berbahaya jika dibiarkan berlama-lama di dalam kepala Abe.

Saat akan menjalani operasi, Abe mengingat petuah-petuah pendeta dalam ibadah malam sebelum kejadian yang ia ikuti. Saat itu pendeta membahas tentang iman, pengharapan, dan kasih sayang. Walhasil ia menjalani operasi dengan mengusung keyakinan bahwa Tuhan akan melancarkan urusannya. Harapannya terwujud. “Operasi sukses. Bekasnya sekarang terasa agak benjol,” ujarnya.

Baca juga Ujian yang Kita Hadapi Tak Melebihi Kekuatan Kita

Bagi Abe, menjadi korban bom adalah ujian Tuhan. Selalu ada jalan keluar darinya asal dijalani dengan hati yang ikhlas. “Saya ikhlas menerima kejadian tersebut, karena itulah menjadi modal saya untuk maju kembali meraih masa depan,” ucapnya.

Selain terapi pemulihan fisik, Abe juga sempat mengikuti konseling psikis. Pasalnya, banyak orang di sekitarnya melihat Abe berubah menjadi sosok pemarah. Semua proses pengobatan itu dijalankan dengan serius. Ia berhasil pulih, melanjutkan kuliah, meraih gelar akuntan, dan bekerja di kantor akuntan publik.

Baca juga Ilham Perdamaian

Pada akhir 2016, Abe jatuh sakit. Oleh dokter, ia diharuskan kembali menjalani operasi di bagian kepala lantaran ada gumpalan cairan. Dengan keimanan kepada kasih Tuhan, ia kini telah pulih dan aktif mengampanyekan perdamaian bersama mantan pelaku dalam tim perdamaian AIDA.

Salah satu pesan Albert yang sering diulangnya dalam beberapa kegiatan bersama AIDA, “Tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, sebab kekerasan tak pernah menyelesaikan masalah. Kekerasan dibalas dengan pemaafan dan mengasihi.”

Baca juga Korban Bom Kuningan Berdamai dengan Kenyataan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...