HomeBerita16 Tahun Bom Kuningan:...

16 Tahun Bom Kuningan: Harapan Damai Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Tiba-tiba terdengar suara ledakan sangat kencang memekakkan telinga. Asap tebal membumbung tinggi. Semuanya terlihat hancur porak poranda. Hari yang cerah seketika berubah menjadi sangat mencekam dengan jerit tangis kesakitan para korban.

Situasi itu dituturkan sejumlah korban ledakan bom yang terjadi di depan Kedutaan Besar Australia, Jl. HR. Rasuna Said Kuningan, Jakarta pada pukul 10.30 WIB, 16 tahun silam. Kekacauan itu terjadi lantaran ledakan bom berdaya ledak tinggi dari sebuah mobil box yang mengangkut bom. Sejumlah orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya mengalami cedera.

Baca juga Hak-Hak Korban Terorisme Masa Lalu

Peristiwa mengerikan itu sudah lama berlalu, namun penderitaan sejumlah korbannya masih dirasakan sampai saat ini. Mulyono misalnya, ia harus menjalani hari-hari dengan bergantung pada obat-obatan pereda rasa nyeri seumur hidupnya. Saat itu, Mulyono hanya kebetulan sedang mengendarai mobil di sekitar Kedubes Australia untuk menghadiri rapat.

Akibat ledakan itu, rahang Mulyono nyaris hancur. Ia harus menjalani serangkaian rekonstruksi ulang pengembalian bentuk rahang. Berulang kali dokter yang menanganinya gagal. Kendati pada akhirnya sukses, namun tak bisa mengembalikan bentuk rahang normal seperti semula. Serangkaian ikhtiar medis itu pun harus dilakukan dalam waktu cukup lama.

Baca juga Tak Henti Mendukung Korban

Nasib hidup yang sama juga dialami Yunik. Saat itu ia sedang menumpang angkutan Kopaja dan hendak turun di halte yang tak jauh dari titik ledakan. Saking panasnya api dari ledakan itu, tangan Yunik menempel dan melepuh dengan pegangan besi Kopaja. Ia tak kunjung bisa menyelamatkan diri karena tangan dan besi seolah menyatu dan tak bisa dilepaskan.

Beberapa serpihan besi panas juga menancap di bagian tangan kirinya. Berulang kali Yunik menahan rasa sakit dan berusaha melepas tangannya dari pegangan besi itu. Ia juga harus kehilangan dokumen penting usaha cateringnya. Kemudian hari, usaha itu harus bangkrut, sehingga perekonomian keluarganya memburuk.

Baca juga Suluh Perdamaian di Kota Pahlawan

Sementara Yuni Arsih harus kehilangan suaminya untuk selamanya. Suryadi, sang suami, sedang bertugas merapikan taman di halaman depan gedung Kedubes Australia ketika ledakan terjadi. Ia meninggal di tempat dengan luka sangat parah di sekujur tubuhnya.

Saat ini, Mulyono, Yunik dan Yuni mengaku sudah ikhlas atas semua musibah yang mereka alami, sekalipun luka fisik maupun psikis masih mereka rasakan sampai saat ini. Tak hanya itu, mereka juga telah memaafkan para pelakunya. Semua itu dilakukan demi perdamaian bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat luas. Tak ada perdamaian bila di dalam diri seseorang masih menyimpan dendam terhadap orang lain.

Baca juga Saatnya Mayoritas Menyuarakan Perdamaian

Kini, setelah enam belas tahun peristiwa itu berlalu, mereka masih berjuang memulihkan luka dan derita hidup yang dialami. Di tengah keterbatasan hidup, sejumlah penyintas terorisme itu masih mempunyai harapan, tekad dan mimpi untuk Indonesia yang lebih damai. Mereka tak ingin timbul korban-korban baru akibat aksi kekerasan.

Memeringati enam belas tahun kejadian itu, Yayasan Penyintas Indonesia, komunitas yang menghimpun korban terorisme di Indonesia, menggelar aksi hening suara dan hening aktivitas. Aksi itu berlangsung tepat pada pukul 10.30 WIB. Mereka mendedikasikan aksi ini untuk mengenang pengorbanan, mimpi, dan harapan penyintas terorisme. [SWD]

Baca juga Rilis Pers Aliansi Indonesia Damai (AIDA) terkait Penerbitan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2020 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan kepada Saksi dan Korban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...