HomeBeritaMahfud MD: Kuatkan Persaudaraan...

Mahfud MD: Kuatkan Persaudaraan Melalui Ibroh

Aliansi Indonesia Damai- Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD, mengajak alim ulama untuk terlibat aktif dalam pembangunan perdamaian dengan mengambil pembelajaran (ibroh) dari peristiwa konflik kekerasan masa lalu. Menurut dia, Al-Qur’an mengandung begitu banyak kisah masa lalu agar umat Islam dapat mengambil pembelajaran.

“Al-Qur’an mengajarkan untuk melihat masa lalu, untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, mari kita membangun persaudaraan dengan belajar dari masa lalu,” kata Mahfud saat menjadi pembicara “Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar AIDA secara daring bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah dan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (24/09/2020).

Baca juga Membangun Perdamaian dengan Wasathiyah

Penggagas gerakan Suluh Kebangsaan itu melanjutkan, peristiwa kekerasan, terutama terorisme, tidak sedikit pun memberikan kebaikan bagi semua pihak. “Terorisme tidak menyenangkan bagi siapa pun, hanya mendatangkan penderitaan bagi pelaku maupun korbannya. Pelaku tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan, apalagi korbannya, hanya penderitaan yang mereka peroleh,” katanya.

Oleh sebab itu ia mengajak masyarakat agar dapat mengambil hikmah dari peristiwa masa lalu. Pelbagai kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi korbannya. Dalam hemat Mahfud, masa lalu yang kelam begitu banyak memberikan pembelajaran untuk kebaikan dan perdamaian masa depan bangsa Indonesia. “Kita belajar, ibroh dari peristiwa masa lalu itu, dari berbagai perspektif. Masa lalu akan memberi pelajaran bagi kita,” tutur tokoh asal Pulau Madura itu.

Baca juga Imam Prasodjo: Gerakan Perdamaian Harus Dikuatkan

Menurut Mahfud, tindakan ekstremisme kekerasan berasal dari paham dan ideologi yang keliru. Anggapan yang menyebut tindakan teror sebagai jihad termasuk salah satunya. Padahal menurut Mahfud, jihad tidak hanya bermakna berperang, akan tetapi jihad adalah segala perbuatan baik yang dapat memberikan kebaikan bagi masyarakat luas. 

Ia pun mengingatkan agar jangan sampai mudah menyalahkan pandangan orang atau kelompok yang berbeda, apalagi sampai mengafirkan. Sikap semacam itu berpotensi dapat menimbulkan konflik kekerasan dan perpecahan di antara saudara sendiri. “Itu takfiri, mengafirkan orang lain yang berbeda dan menganggap itu musuhnya. Selalu menganggap yang tidak sama dengan kelompoknya sebagai kafir,” ungkapnya.

Mahfud menambahkan, kandungan Al-Qur’an sejatinya lebih banyak menghadirkan tentang sejarah dan kisah-kisah masa lalu. Hal itu menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pembelajaran. “Salam Al-Qur’an banyak istilah ibroh, artinya pelajaran. Bukan pelajaran biasa, tetapi belajar dari masa lalu, mengambil hikmah dari masa lalu,” katanya menegaskan. [AH]

Baca juga Belajar dari Bom Surabaya 2018

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...