HomeBeritaUkhuwah Alim Ulama untuk...

Ukhuwah Alim Ulama untuk Indonesia Damai

Aliansi Indonesia Damai- Ketidakadilan menjadi salah satu faktor pemicu lahirnya konflik kekerasan di tengah masyarakat yang beragam. Alim ulama diminta memperkuat ukhuwah dan sinergitas gerakan perdamaian agar pelbagai konflik kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia tak kembali terulang.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo mengatakan, gerakan perdamaian yang sudah dicontohkan alim ulama pendiri bangsa harus dilanjutkan dan diperkuat oleh generasi penerusnya. Tanpa keterlibatan alim ulama, konflik komunal yang pernah terjadi di Indonesia berpotensi terulang kembali.

Baca juga Mahfud MD: Kuatkan Persaudaraan Melalui Ibroh

“Gerakan perdamaian yang selama ini sudah dicontohkan oleh KH Ahmad Dahlan, para ulama, dan kita menjadi bagian dari pewaris, harus diaktifkan lagi secara lebih kuat,” kata Imam saat memberikan pengantar dalam acara “Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar AIDA secara daring bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah dan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (24/9).

Menurut Imam, benih-benih konflik yang dapat tumbuh akibat perbedaan-perbedaan pilihan di kalangan masyarakat harus disikapi secara dewasa. Alim ulama harus menjadi pionir untuk merekatkan kembali segregasi sosial yang mengarah pada perpecahan masyarakat.

Baca juga Membangun Perdamaian dengan Wasathiyah

Dengan mengutip kandungan Al-Qurán surat Al-Ma’un, Imam mengajak alim ulama untuk merenungkan kembali tanggung jawab tokoh agama terhadap perdamaian. Menurut dia, tanggung jawab pemimpin agama tidak hanya menyangkut ibadah ritual semata, melainkan juga perihal hajat hidup masyarakat luas. “Ritual keagamaan harus mewujud pada kemaslahatan umat,” tuturnya.

Alim ulama diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin dalam urusan praktik ibadah keagamaan, tetapi juga dalam hal gerakan perdamaian. Sebagaimana peraih nobel perdamaian 2006, Muhammad Yunus, yang dapat menjadi cermin tokoh yang berkontribusi nyata dalam pembangunan perdamaian.

Baca juga Imam Prasodjo: Gerakan Perdamaian Harus Dikuatkan

“Dengan spirit surat Al-Ma’un, nobel perdamaian diberikan kepada promotor perdamaian dunia (Muhammad Yunus). Aktivis sosial yang memerhatikan orang-orang miskin dan perempuan papa,” ujar Imam.

Gerakan tokoh asal Bangladesh itu sangat inspiratif karena mampu memberikan pinjaman skala kecil untuk masyarakat miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank. Dari gerakan semacam itu, keadilan dan kesejahteraan masyarakat perlahan dapat terwujud.

Baca juga Motivasi Kebangkitan dari Korban Bom

Dalam konteks Indonesia, gerakan serupa telah dilakukan oleh para alim ulama puluhan tahun lalu, sebagaimana pernah dilakukan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, yang mendirikan lembaga sosial dan pendidikan bagi masyarakat.

“Gerakan-gerakan itu harus kita gemakan, tidak hanya kepada umat Islam, akan tetapi juga lintas sektoral, suku, etnis bahkan bangsa. Karena kita terdiri dari berbagai bangsa juga bisa membangkitkan gerakan perdamaian,” tuturnya.

Imam berharap, gerakan-gerakan perdamaian dengan cara memerjuangkan keadilan sosial bisa lebih kuat dan menjadi kesadaran bersama. [FS]

Baca juga Belajar dari Bom Surabaya 2018

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...