HomeBeritaInspirasi Damai Anak Amrozi...

Inspirasi Damai Anak Amrozi dan Korbannya

Aliansi Indonesia Damai- Nilai-nilai perdamaian harus dipupuk sejak dini. Seberat apa pun tantangan kehidupan, generasi muda dapat menghadapinya dengan ketangguhan. Belajar dari anak pelaku terorisme dan penyintas, sepahit apa pun ujian menerpa mereka, hidup harus terus dilanjutkan dengan semangat positif.

Demikian salah satu pembelajaran yang muncul dalam Kongres Nasional Pemuda untuk Perdamaian yang digelar AIDA secara virtual pada Selasa (27/10/2020). Acara diikuti seratus lebih siswa-siswi dari belasan SMA di Indonesia, menghadirkan anak pelaku terorisme dan korbannya.

Baca juga Najwa Shihab: Literasi Digital untuk Perdamaian

Zuli Mahendra, anak dari almarhum Amrozi, pelaku bom Bali 2002, mengajak generasi muda untuk terus menebarkan perdamaian, menumbuhkan persaudaraan, dan mengedepankan hati bukan emosi dalam menghadapi setiap persoalan.

Mahendra menuturkan, dirinya pernah bertemu dengan keluarga korban yang meninggal akibat Bom Bali 2002. Ia hendak meminta maaf atas perbuatan orang tuanya yang telah membuat mereka menderita. Dalam pertemuan itu, bukannya mendendam, justru anak-anak korban telah mengikhlaskan kepergian orang tuanya dan memilih memaafkan pelakunya. Mereka tidak ingin mewariskan kebencian.

Baca juga Baiat Pemuda untuk Perdamaian Indonesia

“Saya memberanikan diri meminta maaf, yang pernah dilakukan oleh keluarga saya. Alhamdulillah, sekarang malah menjadi keluarga. Kita sharing pengalaman dan berbagi cerita,” ujar Mahendra.

Sebagai generasi muda, Mahendra berharap tidak ada lagi aksi-aksi kekerasan-kekerasan yang menghancurkan kemanusiaan di masa depan. Ia pun tak segan meminta maaf kepada semua korban dari perbuatan ayahnya.

Baca juga Komitmen Anak Korban dan Pelaku Terorisme untuk Perdamaian

Ibarat gayung bersambut, Ni Made Bagus Arya Dana, anak dari almarhum I Gede Badrawan, korban Bom Bali 2002, mengaku telah ikhlas dan menerima semua kenyataan yang ada. ”Semua hal yang terjadi sudah lewat. Made sudah mengikhlaskan,” katanya.

Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi, menilai, apa yang dilakukan oleh Mahendra dan Made adalah benih rekonsiliasi nasional. Dari Sabang sampai Merauke, dalam sejarah Indonesia banyak sekali peristiwa konflik traumatis. “Dari kisah keduanya, kita bisa menahan dan harus menekan rasa dendam dalam diri,” ujar alumni Universitas Al-Azhar Mesir itu. [FS]

Baca juga Semangat Siswa Lampung Menebar Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan,...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education;...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...