HomeBeritaNajwa Shihab: Literasi Digital...

Najwa Shihab: Literasi Digital untuk Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, mengajak generasi muda Indonesia untuk meningkatkan budaya literasi. Nana, demikian sapaan akrabnya, merasa prihatin atas kondisi pelajar kita yang tingkat literasinya masih tergolong rendah. Indonesia termasuk negara paling bawah dalam indeks budaya literasi di dunia.

“Penting untuk memiliki kemampuan literasi, terutama digital, untuk bisa memilih dan memilah informasi,” ujar Nana saat berorasi dalam Kongres Nasional Pemuda untuk Perdamaian Indonesia yang digelar AIDA secara daring, Selasa (27/10/2020). Kegiatan ini diikuti ratusan siswa dari pelbagai SMA di Indonesia.

Baca juga Baiat Pemuda untuk Perdamaian Indonesia

Nana menghimbau para pelajar untuk menyaring segala informasi yang berkembang di media sosial secara cermat. “Karena sekali lagi, hoaks, virus, dusta, dan kekerasan itu kadang-kadang dipicu oleh betapa gampangnya kita termakan informasi yang tidak kita uji, tidak kita telaah, dan tidak kita cek dengan berbagai sumber yang lain,” kata jurnalis senior ini.

Salah satu fakta yang membuatnya prihatin dan sedih adalah keterlibatan anak muda dalam aksi kekerasan di Indonesia. “Sedih rasanya ketika mendengar kabar pelajar saling bully, atau membaca hasil riset banyak pelajar yang setuju melakukan aksi bom bunuh diri sebagai sarana untuk jihad,” ucap putri ulama ahli tafsir kenamaan, Quraish Shihab, itu.

Baca juga Komitmen Anak Korban dan Pelaku Terorisme untuk Perdamaian

Terlebih ia pernah meliput langsung tragedi pengeboman yang terjadi dua tahun silam di Surabaya, di mana sebagian pelakunya masih sangat muda. “Waktu itu salah dua di antaranya masih remaja, usia 18/16 tahun. Rasanya hancur hati ketika tahu semuda itu melakukan tindakan yang menghancurkan kemanusiaan,” katanya.

Karena itulah, menurut dia, generasi muda harus kritis dalam menyikapi segala hal yang diyakini sebagai prinsip hidup. Ia mencontohkan doktrin jihad. Dalam Islam, topik jihad ini sangat panjang diskusi dan perdebatannya.

Lebih jauh Nana meminta para pelajar untuk memanfaatkan waktu secara optimal untuk belajar dan membaca. Pasalnya, semakin banyak belajar semakin kita sadar bahwa pengetahuan kita masih sangat sedikit. Dengan begitu, kita selalu akan mencari dan tidak akan percaya buta pada satu hal, karena ada begitu banyak alternatif dan penafsiran atas topik tertentu.

Baca juga Semangat Siswa Lampung Menebar Damai

Dalam hemat Nana, maraknya penggunaan internet sebagai media belajar saat ini bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital. Sebab tak semua sumber bersifat kredibel dan akurat. Karenanya kemampuan literasi menjadi kunci untuk terus memelihara sikap kritis dan memantik sikap masyarakat Indonesia untuk terus belajar.

“Literasi pada dasarnya adalah kemampuan menerima, mengolah, terutama menguji informasi. Jadi kita jangan gampang termakan propaganda. Orang yang disebut pelajar dan mengaku terpelajar itu adalah orang yang selalu mau belajar. Membaca sebanyak mungkin, diskusi sesering mungkin,” katanya memungkasi. [LADW]

Baca juga Generasi Tangguh Belajar dari Pengalaman

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...