HomeBeritaMembangun Perdamaian dengan Cerita

Membangun Perdamaian dengan Cerita

Aliansi Indonesia Damai- Pendekatan kisah dapat menjadi salah satu alternatif dalam membangun perdamaian. Cerita faktual tentang korban-korban kekerasan dapat menjadi inspirasi bagi publik tentang arti penting perdamaian.

Pernyataan ini diungkapkan oleh M. Rofiq, pengajar Sekolah Tinggi Islam Tarbiyah Al-Ishlah Bondowoso, Jawa Timur, dalam kegiatan bedah buku La Tay’as; Ibroh dari Kisah Teroris dan korbannya, yang digelar AIDA secara daring pada Minggu (22/11/2020). Buku karya Hasibullah Satrawi tersebut merupakan hasil pengalaman penulis selama beberapa tahun mendampingi puluhan korban terorisme di Indonesia.

Baca juga Islam Rahmat Identik Perdamaian

Menurut Rofiq, buku itu juga menunjukkan pentingnya pendidikan dalam rangka menangkal ideologi kekerasan. “Penguatan tarbiyah (pendidikan) dalam mengantisipasi paham-paham yang bisa merusak keragaman dan ekstremisme,” ujar alumni kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar AIDA bulan lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Hasibullah mengajak para pemuka agama untuk lebih mengedepankan pendekatan kisah dalam menyampaikan dakwah Islam di mimbar-mimbar khutbah. Dalam hematnya, Al-Qurán sebagai sumber utama ajaran Islam juga banyak berbicara tentang kisah-kisah umat terdahulu sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang. “Dari pendekatan kisah, kita bisa melihat bahwa aksi terorisme hanya merusak kehidupan bersama. Terutama bagi para korbannya,” ujarnya.

Baca juga Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya

Sementara ahli jaringan terorisme, Solahudin, menegaskan pentingnya peran aktif pemuka agama dalam menangkal paham-paham yang merusak dan mengancam peradaban. Saat ini kelompok ekstremisme kekerasan, khususnya yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) masih terus menyebarkan pemahamannya. “Kelompok ini menyebut dirinya sebagai anshar al-Dawlah (penolong daulah Islam) yang menggunakan agama sebagai basis legitimasi kekerasan,” ucapnya.

Salah seorang peserta berkomentar bahwa terorisme kerap diidentikkan dengan Islam. Padahal Islam tidak mengajarkan umatnya berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam hemat Solahudin, jika menilik fakta di pelbagai belahan dunia, tidak bisa dikatakan bahwa agama tertentu sebagai penyumbang aksi teror. Ia mencontohkan aksi kekerasan di Amerika Selatan yang dikaitkan dengan Katolik karena dilakukan penganut teologi pembebasan. Sementara di Myanmar disangkutkan dengan Hindu.

“Problemnya adalah tidak banyak dikatakan secara terbuka dan tegas. Agar suara yang menyatakan terorisme bukan Islam itu suara mainstream,” katanya. [FS]

Baca juga Membangun Hidup Bersama dalam Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...