HomeBeritaPelajaran Damai dari Mantan...

Pelajaran Damai dari Mantan Ekstremis

Di kondangan menikmati makan
Makannya tumis jamur tiram
Mari terus kita gaungkan
Salam damai hidup tenteram

Aliansi Indonesia Damai- Sebait pantun dibacakan seorang siswa SMAN 1 Malang, Jawa Timur, dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA pada Kamis (18/02/2021). Pantun itu berisi ajakan kepada semua pihak untuk terus menjaga perdamaian dan ketenteraman di mana pun berada.

Salah satu narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini adalah Iswanto alias Zaim, mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Iswanto menuturkan awal keterlibatannya dalam kelompok ekstrem, menjadi kombatan dalam konflik Ambon dan Poso, dan keputusannya untuk meninggalkan kelompok lamanya. Ia kini aktif mengampanyekan perdamaian di pelbagai forum.

Baca juga Inspirasi Damai Siswa SMAN 3 Malang

Beberapa peserta tertarik dengan perjalanan hidup Iswanto. “Guru Pak Is dulu menyampaikan pemikiran-pemikiran membenci nonmuslim. Padahal semua agama mengajarkan untuk menyayangi sesama manusia. Apakah rasa menyayangi sesama manusia dihilangkan dalam konteks jihad?” ujar seorang peserta mengutarakan pertanyaan.

Menanggapi hal tersebut, Iswanto mengisahkan kembali bagaimana dulu gurunya kerap menjelaskan tentang ketidakadilan yang dilakukan oleh kelompok nonmuslim terhadap umat Islam di luar negeri. Walhasil ia dan teman-temannya mempunyai ghiroh untuk membalaskan dendam terhadap umat nonmuslim di mana pun, tanpa melihat mereka bersalah atau tidak.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Malang dengan Penyintas Bom Thamrin

“Jangankan nonmuslim, yang muslim namun tidak sepaham dengan kelompok mereka, maka akan dibenci oleh mereka. Sampai orang tua kita pun kalau tidak sepaham juga akan kita musuhi,” katanya menambahkan.

Saat ini pikiran negatif Iswanto terhadap nonmuslim telah berubah. Ia mengisahkan perjumpaannya dengan seorang nonmuslim asal Belanda yang menjadi korban Bom Marriott 2009, pada tahun 2015. Rasa kemanusiaannya tergugah setelah melihat kondisi fisiknya yang memprihatinkan. Ia kehilangan kedua kaki dan fungsi pendengarannya menurun.

Baca juga Tantangan Pertobatan Napiter

“Setelah mendengar kisah beliau dan melihat video beliau, membuat sifat kemanusiaan diri saya tumbuh. Bagaimana jika kejadian semacam itu terjadi kepada saya? Atau keluarga saya? Dan beliau juga tidak bersalah pada waktu itu. Dia sedang bekerja seperti yang lainnya pada waktu itu,” ucapnya.

Peserta lain menanyakan terkait pesan Iswanto tentang kehati-hatian dalam memilih guru. Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa guru tersebut mengajarkan ilmu yang lurus ataukah ilmu yang melenceng dan membawa kerusakan?

Baca juga Pesan Perdamaian Siswa SMAN 1 Lawang

“Mengidentifikasi seseorang telah bergabung dengan kelompok terorisme bukan dengan melihat penampilan lahirnya. Melainkan dengan mengetahui sikap dan pemikiran mereka. Apabila yang diajarkan adalah kebencian terhadap negara, jelas itu akan mengarah kepada ekstremisme yang akan merusak perdamaian,” demikian Iswanto menjawab pertanyaan.

Ia menambahkan, apabila kita mengetahui seseorang terindikasi sebagai jaringan terorisme maka harus melapor kepada yang berwajib. Dan apabila telah mengikuti pengajiannya, maka harus selekasnya berhenti. [FL]

Baca juga Menaruh Harapan di Pundak Remaja

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...