HomeBeritaTantangan Pertobatan Napiter

Tantangan Pertobatan Napiter

Aliansi Indonesia Damai – Keluar dari jaringan ekstremisme kekerasan bukanlah hal yang mudah. Tantangan para mantan pelaku ekstremisme bukan hanya perihal ideologi yang sifatnya internal dalam dirinya, mereka juga harus dihadapkan dengan persoalan eksternal. Setelah mendekam di penjara selama bertahun-tahun, mantan pelaku terorisme harus berusaha untuk bisa kembali diterima oleh lingkungannya.

Hal ini menjadi salah satu topik diskusi yang mencuat dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dihelat AIDA di SMAN 1 Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, medio Februari lalu. Salah satu narasumber yang hadir adalah Choirul Ihwan, mantan narapidana terorisme, yang akrab disapa Irul. Kegiatan diikuti oleh 51 peserta secara daring.

Baca juga Pesan Perdamaian Siswa SMAN 1 Lawang

Kepada Irul, salah seorang peserta bertanya tentang proses pertobatan serta tantangannya saat memutuskan keluar dari jaringan ekstremisme kekerasan. Menurut dia, proses tersebut terjadi secara bertahap. Semua berawal ketika ia menyadari bahwa pemikiran ekstremnya adalah sebuah kesalahan.

Proses tersebut semakin menguat karena ia mendapatkan dukungan dari para petugas Lapas yang membinanya. Meskipun demikian, proses tersebut turut membawa konsekuensi yang tidak mudah. Ia menghadapi cibiran dari mantan teman-temannya di jaringan ekstremisme, bahkan dikafirkan.

Baca juga Menaruh Harapan di Pundak Remaja

“Mereka menganggap saya sebagai musuh yang lebih utama daripada aparat negara. Karena saya dianggap pengkhianat dan kemudian halal darah dan hartanya, serta lebih diutamakan. Hal itu beberapa kali saya terima. Dan saya berserah kepada Allah, karena ini memang konsekuensi yang harus saya terima,” ucapnya.

Ancaman tersebut tidak menyurutkan komitmen Irul, sebaliknya menguatkan niatnya untuk kembali ke jalan yang benar. Tekad itu semakin kuat lantaran lingkungannya, termasuk keluarga yang dulu ia kafirkan, mampu menerimanya dengan baik setelah ia bebas dari hukuman penjara. Bahkan tetangganya juga tetap bersikap baik kepadanya.

Baca juga Penyintas Bom Menginspirasi Siswa SMK Turen Malang

Sebelumnya Irul berkisah tentang awal perjalanan hidup sehingga membuatnya bergabung dengan kelompok ekstremisme kekerasan. Bahkan ia mengkafirkan keluarganya sendiri, termasuk orang tuanya. Pada akhirnya ia berhasil meninggalkan ekstremisme dan aktif menyuarakan perdamaian.

Salah satu peserta menanyakan tentang sistem perekrutan serta ciri-ciri kelompok tersebut agar dapat menghindarinya. Menanggapi pertanyaan tersebut, Irul menjelaskan bahwa perekrutan dilakukan dengan tanpa memberikan imbalan material, berupa uang atau lain sebagainya. Kelompok ekstrem memberikan iming-iming surga kepada mereka yang hendak bergabung. Bahwa kematian yang dirasakan ketika berperang tidak akan sakit dan justru akan disambut oleh 72 bidadari surga.

Baca juga Pesan Damai Kepala SMA Hasyim Asy’ari Batu

Menambahkan penjelasannya, Irul mengingatkan siswa-siswi agar waspada kepada mereka yang sering mengkafirkan negara dan orang lain, yang mana tindakan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam. Namun, ia juga berpesan agar tidak langsung menjauhi orang seperti ini, melainkan tetap berusaha untuk mengajak mereka ke jalan yang benar.

“Kita tetap baik dan berusaha arahkan ke jalan yang benar. Kalau terlalu berat, kita bisa minta pertolongan kepada orang-orang yang mampu, semisal kiai atau yang memang terbiasa menangani orang-orang seperti itu,” ucapnya. [WTR]

Baca juga Cerdas Bermedia Sosial

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...