HomeBeritaRahasia Ikhlas Memaafkan

Rahasia Ikhlas Memaafkan

Aliansi Indonesia Damai- Setiap orang pasti pernah merasakan terzalimi. Manusiawi memang jika hal itu dapat menimbulkan amarah, benci, hingga trauma, bahkan menimbulkan dorongan untuk membalas dendam. Kendati demikian meluapkan amarah kebencian, meringkuk dalam dekapan trauma, serta membalas dendam tak menyembuhkan luka batin. Keikhlasan dan pemaafan justru menjadi terapi ampuh.

Demikian pembelajaran yang disampaikan Budijono, korban serangan di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta, tahun 2018, dan Andi Dina Noviana Rivani atau Andin, korban Bom Thamrin 2016. Keduanya menyampaikan pengalaman hidup sebagai penyintas terorisme di hadapan 38 peserta Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa, yang diselenggarakan AIDA secara daring, medio Maret 2021.

Baca juga Keluwesan dalam Beragama

Budijono mengaku sempat kesal dan sakit hati atas perbuatan pelaku teror. Misa yang seharusnya berlangsung khidmat berubah mencekam. Ia disabet pedang oleh pelaku sehingga harus menjalani beberapa kali operasi dan perawatan selama dua bulan. Cedera fisik cepat sembuh, namun luka batin tak mudah pulih. Marah dan trauma berkecamuk dalam dirinya.

Sama halnya yang dirasakan oleh Andin. Beberapa saat sebelum kejadian ia berangkat kerja dari rumah dengan penuh semangat. Namun saat menikmati sarapan di sebuah kedai kopi di jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat, bom meledak. Ia mengalami cedera cukup parah di punggung dan kakinya. Selama beberapa bulan ia tidak mampu berjalan karena kakinya masih dalam masa penyembuhan. Marah, putus asa, trauma, paranoid, depresi, hingga merasa hidupnya tak berguna, membuatnya sangat terpuruk saat itu.

Baca juga Inspirasi Kisah Hidup Korban Terorisme

Namun kini Budijono dan Andin telah melewati fase terpuruknya. Keduanya memilih memaafkan apa yang terjadi demi melanjutkan hidup dengan ketenangan batin. Salah satu peserta menanyakan tentang  proses Budiono dan Andin melalui krisis psikis yang mendera mereka.

Budijono menuturkan, 6 bulan setelah musibah yang menimpanya, ia menyadari bahwa untuk menjalani kehidupan secara normal, ia harus segera bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Ia kembali pada ajaran agamanya, yaitu cinta kasih terhadap sesama. “Apa nggak sebaiknya saya terapkan ajaran kasih saja ya? daripada hidup hanya untuk memusuhi, yang pada akhirnya hanya akan menjadi beban pikiran saya sendiri,” ujarnya mengenang.

Baca juga Pelajaran Karakter dari Penyintas Bom

Perlahan ia mulai berdamai dengan dirinya sendiri dan berhenti menyimpan amarah terhadap pelaku. Pada saat bersamaan, ia juga terus melawan trauma yang sangat mengganggunya. Dalam hematnya, menyimpan trauma hanya akan memperburuk kondisi dirinya. “Saya berusaha melawan trauma dengan mendatangi lokasi di mana saya pernah dibacok. Itu saya lakukan berulang-ulang sampai saya benar-benar tidak merasakan takut lagi,” katanya.

Sedikit berbeda dengan Budiono, Andin menempuh cara lain. Untuk sampai kepada tahap ikhlas, ia selalu mengajari dirinya untuk bersyukur kepada Allah Swt. Teror itu memang menorehkan luka fisik dan psikis, namun Allah masih memberinya keselamatan untuk hidup dengan baik hingga saat ini.

Baca juga Mencegah Pemuda Terjerumus Ekstremisme

“Hidup adalah pilihan. Pilihan kita mau hidup dengan rasa dendam dan sakit terus menerus, atau kita memilih memaafkan dan hidup normal lagi? Dan saat itu saya memilih untuk memaafkan apa pun yang telah terjadi, apapun itu,” ujarnya.

Andin mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Ia merasa dirinya semakin kuat dengan mensyukuri setiap detik dalam hidupnya. Ia juga mengaku meneladani sifat pemaaf Rasulullah Saw. Ikhlas memaafkan membuat hidupnya menjadi lebih tenang.

Baca juga Menghidupkan Nalar Kritis

Beberapa peserta menyampaikan dukungan dan semangat kepada keduanya. “Semangat untuk orang-orang hebat dan kuat, Pak Budiono dan Mbak Andin. Kalian luar biasa. Saya terharu mendengarnya. Semoga tidak akan ada lagi aksi-aksi teror di Indonesia. Semangat terus Pak Budiono dan Mbak Andin,” ujarnya.

“Beliau berdua sangat luar biasa. Prinsip hidupnya adalah ikhlas dan memaafkan. Itu sangat penting untuk kita ke depannya,” ujar peserta lain. [FL]

Baca juga Memahami Terorisme dari Konteks

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...