HomePilihan RedaksiMembalas Kebencian dengan Kasih...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan operasi. Namun ternyata dua minggu setelahnya, dinyatakan bahwa operasi pertamanya gagal. Walhasil ia harus menjalani operasi kedua. Selama dua bulan ia merasakan sakit kepala yang luar biasa sehingga tak mampu beraktivitas sama sekali.

Ia mengaku bahwa kenangan tersebut seperti mimpi buruk dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya luka Budijono dinyatakan sembuh hampir seratus persen, namun luka batin lebih susah diobati. “Jadi memang masa-masa paling sulit adalah menghilangkan trauma. Menghilangkan rasa sakit hati, itu masa paling sulit,” ucapnya.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Enam bulan setelah musibah, ia menyadari bahwa untuk menjalani kehidupan secara normal, ia harus segera bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Ia kembali pada ajaran agamanya, yaitu cinta kasih terhadap sesama. “Apa nggak sebaiknya saya terapkan ajaran kasih saja ya? daripada hidup hanya untuk memusuhi, yang pada akhirnya hanya akan menjadi beban pikiran saya sendiri,” ujarnya mengenang.

Budijono bersyukur bisa melewati masa krisis batin itu. “Gak sampai setengah tahun, semua rasa sakit hati, rasa trauma, ingin dendam, itu pun hilang semua. Jadi saya bisa menerima dan dengan ikhlas memaafkan pelaku,” ucapnya.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 1)

Budijono bahkan justru merasa kasihan dengan pelaku. Baginya pelaku juga adalah korban, karena tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Pelaku salah dalam memahami doktrin agama. Ia percaya bahwa semua agama mengajarkan kasih sayang dan cinta antarsesama makhluk Tuhan. 

Ia bahkan dengan tegas mengklaim bahwa tindakan tersebut gagal total, karena hubungan antara jemaat Gereja St. Lidwina dengan umat agama lain semakin erat dan harmonis. Bahkan, tidak ada jemaat gereja yang membenci muslim setelah kejadian tersebut. Meski pelaku penyerangan beragama Islam.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 2-Terakhir)

“Satu hal yang luar biasa yang terjadi di luar dugaan kita setelah kejadian tersebut. Yang datang ke sana untuk membersihkan Gereja bukan hanya jemaat Gereja, tetapi warga sekitar yang mayoritas muslim. Banyak sekali dari komunitas muslim datang membantu memberikan semangat ke gereja saya,” ujarnya.

Menurut dia, sejak awal dirinya memahami bahwa semua agama mengajarkan kasih. Ia tidak pernah mendapatkan doktrin bahwa agama Islam jelek. “Agama Islam itu baik. Ajarannya baik. Ajarannya juga sama, intinya cinta kasih, mengasihi sesama. Tapi karena doktrin yang diterima pelaku itu salah, dia membuat penafsiran sendiri. Jadi bukan agamanya yang salah. Agamanya baik, cara pemahamannya aja yang salah,” ucapnya tegas. [WTR]

Baca juga Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Perdamaian dari Akar Rumput

Oleh Wiwit Tri RahayuSarjana Hubungan Internasional Universitas Airlangga Sederhananya damai diartikan sebagai...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...