HomeOpiniPerdamaian dari Akar Rumput

Perdamaian dari Akar Rumput

Oleh Wiwit Tri Rahayu
Sarjana Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Sederhananya damai diartikan sebagai kondisi ketiadaan perang, kekerasan, atau ancaman. Damai yang sesungguhnya akan memberikan rasa aman baik secara fisik maupun pikiran. Kondisi seperti ini jelas diharapkan untuk terus bertahan. Memertahankan atau bahkan membangun perdamaian dapat dilakukan dari tingkatan elemen paling dasar, yaitu akar rumput (grassroots).

Dalam pembangunan perdamaian akar rumput (grassroots peacebuilding), gerakan dilakukan secara kolektif dari komunitas masyarakat tingkat bawah untuk disalurkan ke level yang lebih atas. Konsep ini menyiratkan bahwa perdamaian dirancang, dikelola, dan dilaksanakan oleh aktor lokal atau mereka yang terdampak, sehingga penerima manfaat turut menjadi subjek penggerak, alih-alih hanya menjadi objek.

Baca juga Keniscayaan Perdamaian

Konsep perdamaian akar rumput menjadi efektif karena substansi gerakan ini sarat akan pengetahuan dan tradisi lokal kelompok itu sendiri. Tak pelak lebih mudah untuk diterima dan diterapkan. Selain itu keterwakilan lokal akan membentuk produk yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam membangun perdamaian jika dibanding dengan konsep dari luar.

Eric Meinema (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Provoking Peace: Grassroots Peacebuilding by Ambonese Youth menulis bahwa kebanyakan teori tentang pembangunan perdamaian lebih berfokus pada aktor makro seperti pemerintah, institusi sosial, ataupun lembaga-lembaga internasional.

Dari hasil wawancara dengan salah seorang pemuda korban konflik di Ambon, Eric mengemukakan bahwa konflik berlangsung cukup lama karena proses pembangunan perdamaian dilakukan dengan tanpa melibatkan orang-orang lokal dari akar rumput. Konflik berhenti justru karena upaya masyarakat sendiri dan bukan karena Perjanjian Malino II yang diupayakan sebagai resolusi konflik.

Baca juga Arif Menyikapi Bencana

Dari penelitian ini, kita dapat melihat bahwa grassroots peacebuilding memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi karena adanya kesesuaian antara strategi dengan persepsi masyarakat terhadap damai itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa konsep damai sesungguhnya berkaitan langsung pada kondisi akar rumput, seperti hilangnya rasa takut dan praduga, serta kenyamanan hidup berdampingan di tengah pelbagai perbedaan.

Pembangunan perdamaian di tingkat akar rumput juga dilakukan oleh para korban Bom Bali 2002 dan 2005 dengan membentuk Yayasan Isana Dewata. Wadah ini dibentuk dengan tujuan agar para korban tidak merasa sendirian dan dapat bersama-sama menghadapi perasaan trauma ataupun sakit akibat peristiwa bom. Kesamaan ini tidak dikumpulkan untuk menciptakan dendam kolektif, melainkan membentuk visi untuk menyiarkan perdamaian dan menyuarakan cinta kasih kepada seluruh masyarakat.

Baca juga Mendakwahkan Akhlak

Para korban menyadari bahwa menyimpan dendam justru berbahaya, karena dendam yang diturunkan akan menimbulkan konflik baru di masa depan. Banyak dari korban yang terhimpun dalam wadah tersebut memilih untuk turut aktif dalam menyuarakan perdamaian bersama AIDA, baik di sekolah, kampus, tenaga pendidik, jurnalis, hingga tokoh agama.

Melalui kisah dan pengalaman para korban atas dampak destruktif yang dirasakan, masyarakat mampu melakukan refleksi untuk tidak bergabung dengan kelompok ekstremisme. Dalam sebuah acara bersama dengan AIDA, Hayati Eka Laksmi, salah seorang pengurus Isana Dewata pernah berpesan:

“Kami memaafkan apa yang mereka lakukan supaya jangan melakukannya lagi dan menyuarakan perdamaian, tidak membalasnya dengan kekerasan. Bukan hal yang mudah untuk memaafkan. Bagaimana mungkin kita tidak punya rasa marah dan dendam? Tapi kita tidak melakukan hal seperti itu, karena kami merasakan cukup kami (saja) merasakan betapa sakitnya itu, jangan orang lain.”

Baca juga Berjihad Mesti dengan Ilmu

Dalam kasus mantan pelaku terorisme, upaya serupa juga dilakukan oleh Ali Fauzi dengan mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Lamongan. Pembentukan YLP berangkat dari pengalaman Ali bahwa banyak dari eks-narapidana terorisme (napiter) yang cenderung memilih untuk kembali ke jaringan ekstremisme karena beberapa faktor; seperti dikucilkan oleh masyarakat; karena memiliki pandangan agama yang berbeda, sehingga kemudian berdampak pada sulitnya mencari pekerjaan.

Menyadari hal tersebut, salah satu upaya menjaga perdamaian dilakukan YLP dengan mengunjungi para napiter di lembaga pemasyarakatan untuk mengajak mereka berdialog bersama sebagai upaya disengagement (melepaskan mereka dari kelompok ekstremisme). Menurut Ali, jika eks-napiter masih bergabung dengan kelompok ekstremis yang memiliki pemikiran destruktif, maka perdamaian dan kesatuan NKRI masih akan terus terancam.

Baca juga Kerendahan Hati Membangun Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...