HomeBeritaPelaku Teror Tak Pikirkan...

Pelaku Teror Tak Pikirkan Korbannya

Aliansi Indonesia Damai- Dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA secara daring medio Maret lalu, salah seorang peserta memertanyakan motivasi tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok teroris. Para pelaku tega melakukan perbuatan ekstrem yang mencederai dan bahkan menghilangkan nyawa korbannya.

“Apakah mereka ketika melakukan kekerasan tidak ada perasaan bersalah pada korban. Mengapa mereka sampai melakukan hal itu,” kata Da’iyatul Ummah, mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto saat berdialog dengan mantan narapidana terorisme, Kurnia Widodo.

Baca juga Rahasia Ikhlas Memaafkan

Menurut Kurnia, para pelaku tak pernah memikirkan nasib para korbannya. Malahan pelaku sendiri telah mengafirkan orang di luar kelompoknya sehingga dalam keyakinan mereka orang lain dianggap halal darahnya. “Jadi masalahnya mereka menganggap kalau korban di sini sebagai target. Mereka tidak kasihan karena mereka sendiri mengafirkan orang lain,” katanya.

Pria lulusan salah satu perguruan tinggi negeri kenamaan di Bandung ini menjelaskan, kelompok ekstrem sejak awal memiliki doktrin kuat bahwa negara demokrasi sebagai produk kafir. Otomatis pemerintah, aparat, dan masyarakat yang mengakui sistem demokrasi juga dianggap kafir. “Para polisi kafir, pemerintah murtad, dan mayoritas masyarakat dianggap tidak jelas keislamannya. Dan itu layak untuk dibunuh,” ungkapnya.

Baca juga Keluwesan dalam Beragama

Salah satu kesalahan kelompok ekstrem adalah melakukan tindakan kekerasan bukan pada tempatnya. Dalam hemat Kurnia, mereka melihat ketidakdilan di luar negeri dan bermaksud melawan ketidakadilan itu. Namun justru melakukan ketidakadilan baru di negara sendiri. Praktis kekerasan tak pernah selesai, dan malah membuat kekerasan tak ketemu titik ujungnya. “Mereka benci Amerika misalnya, tapi yang dibom kedutaannya di Indonesia. Ini miris sekali. Wawasan kemanusiannya sangat rendah,” tuturnya.

Mendengar langsung pengakuan Kurnia, sejumlah mahasiswa mengaku beruntung dapat berdialog dengan mantan pelaku terorisme. Da’iyah misalnya mengaku dapat mengambil banyak pembelajaran dari kisah Kurnia. Ia meminta aktivis mahasiswa untuk lebih terbuka dan berpikir kritis terhadap paham-paham yang mengarah pada kekerasan. “Sangat bermanfaat, membuka wawasan kita. Pertanyaan yang selama ini ada di benak saya kini terjawabkan,” katanya.

Baca juga Inspirasi Kisah Hidup Korban Terorisme

Sementara Rizki Syafrullah, mahasiswa Institut Teknologi Telkom Purwokerto mengaku mendapatkan perspektif baru perihal isu terorisme, terutama dari sudut pandang korbannya. “Saya mendapatkan sudut pandang dari sisi mantan pelaku, para ahli dan para korbannya. Jadi benar-benar terbuka, terutama dari sisi korban kita jadi tahu dampaknya sangat negatif,” katanya.

Kegiatan diikuti oleh puluhan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Purwokerto dan sekitarnya, yaitu Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, IAIN Purwokerto, Institut Ilmu Al-Qurán An-Nur Yogyakarta, Institut Teknologi Telkom Purwokerto, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, dan Universitas Peradaban Bumiayu Brebes. [AH]

Baca juga Pelajaran Karakter dari Penyintas Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....