HomeBeritaMeluruskan Stereotip Terorisme

Meluruskan Stereotip Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), AIDA menggelar Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya pada akhir April lalu.

Salah seorang mahasiswi bercadar yang mengikuti kegiatan ini menuturkan pengalamannya yang tidak menyenangkan. Saat menaiki angkutan transportasi umum, ia harus diperiksa oleh polisi karena berjilbab dan menggunakan masker, sehingga terlihat seperti bercadar. Padahal kala itu ia berseragam sekolah. Hal itu menimpanya usai peristiwa Bom Surabaya Mei 2018.

Baca juga Dialog Mahasiswa UMP dengan Korban Bom Kuningan

Solahudin, peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, salah satu narasumber kegiatan ini mengakui, kekhawatiran masyarakat terhadap perempuan bercadar memang memuncak usai serangan di Kota Pahlawan itu. Hal tersebut terjadi karena beberapa pelaku Bom Surabaya mengenakan cadar saat beraksi. “Teman saya bahkan sampai keluar dari bus di tengah perjalanannya dari Surabaya ke Malang setelah menyadari ada perempuan bercadar di busnya,” katanya.

Dalam hematnya, Bom Surabaya semakin menguatkan kesan seolah-olah terorisme identik dengan Islam. Padahal faktanya ada beberapa narapidana terorisme (napiter) yang non-muslim. Ia mencontohkan penegakan hukum terhadap 14 orang Poso Sulawesi Tengah karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap warga muslim.

Baca juga Memahami Terorisme dari Perspektif Korban

Kemunculan stereotip tersebut tidak lain karena para pelaku ketika di persidangan selalu mengaku sebagai mujahidin dan mengutip Al-Qurán atau hadis, sehingga melahirkan persepsi bahwa terorisme adalah Islam.

Stereotip tersebut semakin menguat ketika mayoritas muslim enggan melakukan klarifikasi dan cenderung menolak dengan mengatakan bahwa para teroris bukan bagian dari Islam. “Justru kita harus menjelaskan bahwa mereka, para teroris itu, adalah bagian dari umat Islam, tetapi tidak merepresentasikan Islam secara keseluruhan. Teroris ini merepresentasikan satu aliran dalam Islam. Kita tahu bahwa dalam Islam itu banyak sekali aliran. Sejak zaman sahabat pun sudah ada banyak golongan Islam,” ujarnya.

Baca juga Dialog Mahasiswa UMP dengan Mantan Ekstremis

Lebih jauh Solahudin mengungkapkan, bahwa buku-buku rujukan kelompok ekstrem berisi kutipan-kutipan dari Al-Qurán dan hadis namun diinterpretasikan secara berbeda. Karena itu sangat penting bagi para mahasiswa sebagai generasi terdidik untuk tetap menumbuhkan sikap kritis bahwa tidak melulu yang berdalil dengan Al-Qurán atau hadis itu benar.

“Bahwa betul mereka mengutip Al-Qur’an dan hadis, tapi itu hanya berupa tafsiran, interpretasi. Belum tentu benar,” ujarnya. [WTR]

Baca juga Mahasiswa Unsoed Meneladani Ketangguhan Penyintas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...