HomeBeritaUlama Sulsel Prihatin Ekstremisme...

Ulama Sulsel Prihatin Ekstremisme Agama

Aliansi Indonesia Damai – Kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama kembali dihelat AIDA secara virtual pada 24-26 Agustus 2021. Acara diikuti oleh 40 tokoh agama dari wilayah Sulawesi Selatan. Sejumlah narasumber dihadirkan dari unsur penyintas, mantan pelaku terorisme, serta pakar.

Dalam salah satu sesi, sejumlah peserta menyampaikan pendapatnya atas materi yang telah dipaparkan oleh para narasumber. Salah seorang peserta mengaku menangis saat mendengarkan kisah para penyintas terorisme. Mereka merasa harus mulai andil dalam meluruskan makna jihad di kalangan generasi muda. Menurut dia, tujuan jihad adalah untuk melindungi dari kezaliman. Namun, saat ini jihad justru merugikan orang lain, termasuk kaum muslim sendiri.

Baca juga Ketangguhan Istri Korban Bom Kuningan

“Saya menangis kemarin waktu Ananda Andin (korban Bom Thamrin 2016: red) cerita perjalanannya. Kok ada orang yang melakukan seperti itu, yang bertentangan dengan syariat Islam. Padahal tujuan jihad itu tidak lain adalah untuk membumikan nilai-nilai kebenaran untuk kemajuan dalam membentuk perdamaian. Tapi apa yang terjadi sekarang ini justru seperti yang dialami oleh korban,” ucapnya.

Peserta lain memberikan pandangan bahwa Nabi Muhammad Saw pun tidak mengajarkan pemaksaan dalam bermasyarakat. Hal itu ia sampaikan menanggapi pemahaman kelompok ekstrem yang seringkali dengan mudah mengafirkan sesama muslim. Rasa haus akan kekuasaan memunculkan dampak negatif dalam beragama, termasuk terlalu kaku ingin memasukkan Al-Qur’an dalam konsep kenegaraan.

Baca juga Bersinergi Melawan Provokasi Kekerasan

“Sebagian saudara kita ingin masuk ke politik, mencoba untuk memasukkan konsep kenegaraan, seperti harus Al-Qur’an. Padahal Nabi sendiri dalam membuat dasar negara Madinah itu berdasar pada Piagam Madinah, kesepakatan bersama. Itu mencakup nilai-nilai agama juga, namun tidak secara eksplisit dikatakan Al-Qur’an,” ucapnya.

Pandangan hampir senada turut disinggung oleh Solahudin, peneliti jaringan terorisme, yang menjadi narasumber. Dalam hemat Solah, keinginan untuk menegakkan syariat Islam bukanlah sikap yang salah. Persoalan dan masalah mulai muncul ketika keinginan tersebut diwujudkan dengan menggunakan jalan kekerasan. “Yang jadi soal adalah ketika mereka sudah menggunakan jalan kekerasan. Itu yang jadi soal. Apalagi jalan kekerasan itu berupa aksi teror,” katanya.

Baca juga Pentingnya Saling Menyalehkan

Cita-cita penegakan syariat Islam bisa jadi dianggap sebagai sikap radikal oleh sebagian orang. Namun faktanya, pemahaman radikal belum tentu berarti negatif. Bagi Solahudin, makna radikalisme terus mengalami pergeseran hingga banyak yang mengartikan bahwa kelompok radikal sama dengan kelompok teroris. “Kelompok radikal belum tentu sama dengan kelompok teror. Selama mereka tidak menggunakan jalan kekerasan, tidak akan menjadi masalah,” katanya. [WTR]

Baca juga Menyerukan Semangat Perdamaian kepada Ulama Sulawesi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...