HomeBeritaPentingnya Saling Menyalehkan

Pentingnya Saling Menyalehkan

Aliansi Indonesia Damai – Meski ujian pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia, namun narasi kebencian dan propaganda kekerasan masih saja bertebaran, terutama di jagat maya. Pendekatan ibroh sebagai upaya menyebarkan perdamaian menjadi sarana untuk saling menyalehkan di tengah krisis yang ada, alih-alih hanya menyalahkan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA, dalam kegiatan Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang dilaksanakan oleh AIDA pada Kamis (8/7). Sebanyak 123 orang tokoh agama di wilayah Sulawesi berpartisipasi aktif dalam kegiatan. Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain Yuni Arsih, korban Bom Kuningan 2004, Ali Fauzi, mantan pelaku terorisme, dan KH. Helmi Ali Yafie, Sekjen Darud Dakwah wal-Irsyad.

Baca juga Menyerukan Semangat Perdamaian kepada Ulama Sulawesi

Alumni Universitas Al Azhar Mesir ini menjelaskan, Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk mengambil ibroh atau pembelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi. Pasalnya manusia dibekali akal. Melalui akal, manusia mampu berpikir untuk memilah mana yang baik dan yang buruk.

Ia mencontohkan, dalam Al-Qur’an termaktub kisah tentang setan. Tentu saja bukan untuk mengajarkan kepada manusia agar berperilaku seperti setan, melainkan agar manusia tahu bagaimana setan menghasut manusia untuk melakukan dosa. “Pun demikian dengan korban dan mantan pelaku terorisme. Mengambil ibroh dari mereka, bukan berarti mengajarkan untuk menjadi seperti mereka,” ujarnya.

Baca juga Islam Rahmat Identik Perdamaian

Lebih jauh Hasib berharap, ibroh dapat menjadi bekal untuk mencegah seseorang melakukan tindakan ekstrem. Ia mengajak peserta untuk terus waspada karena terorisme seringkali diawali dengan niat yang baik nan mulia. Namun proses mencapai tujuan tersebut menjadi salah karena melibatkan tindak kekerasan.

“Awalnya ikhwan teroris berada pada titik paling tinggi, itulah idealisme, ingin menjadi pejuang dan muslim kaffah. Pelan-pelan mereka mengalami proses radikalisasi, di mana penyempitan sudah mulai terjadi,” katanya.

Selanjutnya, menurut Hasib, mereka akan berani untuk melawan nilai-nilai dan norma yang berlaku hingga melakukan aksi kekerasan. Hal ini tentu memberikan efek yang berkebalikan daripada tujuan awal, dan seringkali berakhir menjadi kesengsaraan bagi umat Islam.

Baca juga Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya

Dalam hemat Helmi Ali Yafie, ekstremisme terjadi karena agama dibawa ke dalam kepentingan kelompok. Sehingga yang muncul adalah kefanatikan terhadap kelompok dengan mengatasnamakan agama. Jika didasarkan pada kepentingan agama, tentu yang akan dirasakan adalah kenikmatan beragama dan bukan malapetaka.

Ia mendukung pandangan Hasib bahwa pendekatan ibroh menjadi penting untuk mengajak masyarakat lebih melihat fakta ketimbang asumsi semata. “Dari pengalaman saya, pendekatan ibroh atau belajar dari pengalaman itu menjadi penting karena mengajak masyarakat melihat realitas yang ada,” katanya. [WTR]

Baca juga Membangun Hidup Bersama dalam Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...