HomeBeritaDialog Siswa SMK Islam...

Dialog Siswa SMK Islam 1 Blitar dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar safari kampanye perdamaian secara daring di sejumlah SMA di Blitar Jawa Timur, salah satunya di SMK Islam 1 Blitar pada Senin (01/11/2021). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” ini diikuti oleh 49 orang peserta.

Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Iswanto, mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Pria asli Lamongan ini menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang berliku. Dimulai dari terjerumus ke dalam jaringan ekstremisme, hingga bertobat dan berkomitmen meniti jalan perdamaian. Setelah paparan kisahnya, sejumlah pertanyaan dilontarkan kepada Iswanto.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Blitar (Bag. 1)

Salah satu peserta bertanya kriteria orang yang rentan direkrut menjadi anggota kelompok ekstrem. Berdasarkan pengalaman Iswanto, kelompok ekstrem kerap menyasar anak-anak muda yang memiliki semangat juang yang tinggi. Prosesnya tidak instan, tetapi melewati sejumlah tahap. “Bukan langsung diajak aksi. Anak-anak itu diajak ngaji dulu, lalu diiming-imingi dengan pahala surga, sedikit demi sedikit,” ucap Iswanto.

Peserta lain bertanya tentang lokasi atau individu yang biasa dijadikan target penyerangan. Iswanto menerangkan, lokasi-lokasi yang menjadi simbol negara, rumah ibadah agama lain, dan tempat-tempat keramaian kerap dijadikan target. Kelompok ekstrem tidak suka melihat aparat negara dan penganut agama lain. Mereka bahkan tega melukai sesama muslim yang tidak mau mengikuti pandangan mereka.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Srengat Blitar dengan Penyintas Bom Kampung Melayu

Pertanyaan lainnya berkaitan dengan cara membentengi diri dari jeratan kelompok ekstrem. Menurut Iswanto, ada empat cara yang bisa dilakukan. Pertama, mencari teman yang baik yang mendukung perdamaian. “Ini penting sekali. Karena teman sangat berpengaruh. Kalau teman baik, pengaruhnya juga akan baik. Begitu pun sebaliknya,” kata Iswanto.

Kedua, berguru kepada guru yang baik, karena tidak semua guru mendukung perdamaian. Bahkan banyak guru yang memberikan pengaruh negatif. “Maka dari itu, adik-adik hati-hati dalam memilih guru. Cari guru yang baik,” tutur Iswanto.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 2 Blitar dengan Penyintas Bom

Ketiga, membentengi diri dengan dekat kepada orang tua. Iswanto mengaku, kurangnya kedekatan diri dengan orang tua membuatnya mendekat pada kelompok ekstrim. “Saya dan teman-teman dulu hampir semuanya menjauhi orangtua. Tidak pernah berkomunikasi dengan mereka. Mestinya sebagai anak, mau pergi kemana, mau melakukan apa, mesti izin dulu kepada orang tua. Aktivitas saya dulu seluruhnya tanpa sepengetahuan orang tua,” ujar Iswanto mengenang.

Terakhir menurut Iswanto, ilmu agama yang sempurna akan menangkal virus-virus ekstrimisme. “Belajar agama jangan setengah-setengah. Kalau ada satu permasalahan yang berkaitan dengan agama, jangan dipaksa untuk memahaminya sendiri. Bertanyalah kepada yang lebih paham,“ katanya.

Baca juga Dialog Pelajar Serang dengan Aktivis Perdamaian

Pertanyaan lain dari peserta yang muncul di di kolom chat zoom, “Apakah radikalisme bisa dihilangkan sepenuhnya?”

Dalam hemat Iswanto, radikalisme agama sulit akan musnah sepenuhnya. Tetapi, masyarakat bisa bekerja sama untuk meredamnya. “Semua itu berangkat dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, orang-orang terdekat kita. Kalau kita bareng-bareng menyampaikan perdamaian, insya Allah tidak akan terjadi tindakan terorisme. Itu tugas kita semua,” katanya tegas. [FAH]

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Malang (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...