HomeBeritaDialog Siswa SMA Al-Muttaqin...

Dialog Siswa SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya dengan Penyintas Bom Bali

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan kampanye perdamaian bertajuk Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Al-Muttaqin, Tasikmalaya, Rabu (17/11/2021). Kegiatan daring ini diikuti oleh 50 orang peserta.

Salah satu narasumber yang mengisi acara adalah Ni Nyoman Rencini, korban Bom Bali 2002. Dalam peristiwa itu, Rencini kehilangan suaminya yang merupakan tulang punggung keluarga. Sejak saat itu, Rencini harus menghidupi anak-anaknya seorang diri. Berbekal semangat pantang menyerah, Rencini berhasil mengantarkan anaknya menempuh jenjang pendidikan sarjana.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 3 Blitar dengan Penyintas Bom Bali

Salah seorang peserta bertanya apakah Rencini merasakan trauma akibat peristiwa itu. Rencini menjawab, kejadian memang sudah berlangsung 19 tahun yang lalu, tapi untuk bangkit dari trauma itu tidak mudah. Rencini bersyukur pemerintah ikut berperan dalam menyembuhkan traumanya.

“Kami mulai mendapat pelatihan dari pemerintah dari tahun 2015. Kami para korban mendapatkan perawatan medis dan perawatan psikologis juga. Jadi kita pernah mendapat terapi dokter untuk masalah kejiwaan (trauma: red). Tak cuma saya, anak-anak pun juga mendapat penyembuhan psikologis dari dokter,” ungkap Rencini.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Blitar (Bag. 1)

Meskipun begitu, Rencini menekankan bahwa tiap-tiap korban punya jangka waktu sembuh yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi masing-masing mereka. “Karena saya sering bertualang ke sana kemari, saya juga mendapatkan penyembuhan dari luar, khususnya dari tempat saya bekerja,” ujar Rencini.

Dari interaksinya dengan orang lain, Rencini pun menyadari satu hal. Semua orang punya masalah, dan masalah itu harus dihadapi. “Ketemu orang banyak, saya mendapat pembelajaran dari mereka. Kita tidak boleh terus-terusan sedih dengan kondisi ini. Banyak yang mengalami hal yang sama seperti saya, tetapi mereka bisa tegar. Bagaimana pun, saya dan anak-anak juga harus tetap hidup,” ucap Rencini.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Blitar (Bag. 2)

Pada sesi akhir kegiatan, salah seorang mengaku mendapatkan wawasan tambahan dari kisah ketegaran Rencini. Meski membuat dirinya sedih, kisah Rencini mengajarkan pentingnya ketangguhan dalam hidup. [FAH]

Baca juga Dialog Siswa SMK Islam 1 Blitar dengan Penyintas Bom Kampung Melayu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...